By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Reading: 10 Oktober Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Kesetaraan dalam Kesehatan Jiwa untuk Semua
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • World
  • Economy
  • Business
  • Industry
Search
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
  • Advertise
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Gagasan

10 Oktober Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia, Kesetaraan dalam Kesehatan Jiwa untuk Semua

Sri Setiyowati
Last updated: 10 Oktober 2021 15:06 15:06
By Sri Setiyowati
4 Min Read
Share
10 Oktober Peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia"Kesetaraan dalam Kesehatan Jiwa Untuk Semua"/Unsplash
SHARE

Oleh: Sri Setiyowati*)

OPINIJATENG.COM-Masalah kesehatan jiwa merupakan masalah yang belum terselesaikan dari tahun ke tahun. Baik di tengah masyarakat, nasional maupun internasional. Setiap 10 Oktober WHO (Lembaga Kesehatan Dunia) memperingati hari Kesehatan Jiwa Sedunia. Hal ini menandakan dunia pun memberi perhatian kepada kesehatan jiwa penduduk dunia.

Tema Global peringatan hari Kesehatan Jiwa Sedunia tahun 2021 ini adalah”Mental Health in an Unequal World : Kesetaraan dalam Kesehatan Jiwa untuk Semua. Tema tersebut mengamanahkan pada setiap Negara agar lebih memberikan akses layanan yang lebih besar dan luas, agar kesehatan mental masyarakat lebih terjamin dan setara dengan kesehatan fisik lainnya.

Tujuan dari peringatan Hari Kesehatan Jiwa Sedunia (HKJS) adalah meningkatkan kesadaran dan kepedulian masyarakat akan pentingnya kesehatan jiwa serta mendorong mobilisasi upaya dalam rangka mendukung kesehatan jiwa.

Pada masa pandemi Covid-19 masyarakat cemas akan menyebarnya virus ini. Dampak dari virus tidak hanya menyebarnya penyakit, tetapi meningkatkan rasa cemas akan semua sisi kehidupan di masyarakat.

Rasa cemas jika terkena virus Covid-19 dan menjalani isolasi kemudian minimnya fasilitas kesehatan menambah tingkat kecemasan sehingga berdampak pada kesehatan mental. Belum lagi bayangan pengurangan karyawan, ekonomi yang semakin lesu, anak-anak yang belajar dari rumah dan banyak hal lain yang merubah kebiasaan normal yang selama ini dijalani.

Kondisi yang tidak menentu lambat laun membuat masyarakat berpikiran negatif akan kelangsungan hidup yang dijalani. Kecemasan akan wabah yang menyebar serta himpitan masalah ekonomi dan sosial.

Pemerintah menyadari masih minimnya fasilitas dan tenaga kesehatan yang menangani kesehatan mental masyarakat. Seperti dilansir di laman Kemenkes, Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2018, menunjukan lebih dari 18 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami gangguan mental emosional, dan lebih dari 12 juta penduduk berusia lebih dari 15 tahun mengalami depresi.

Menurut Direktur Pencegahan dan Pengendalian Masalah Kesehatan Jiwa dan Napza Dr. Celentius Eigya Munthe bahwa masalah kesehatan jiwa di Indonesia terkait dengan masalah tingginya prevelensi orang dengan gangguan jiwa. Untuk saat ini Indonesia memiliki prevelensi orang dengan gangguan jiwa sekitar 1 dari 5 penduduk, artinya sekitar 20% populasi di Indonesia mempunyai potensi masalah gangguan jiwa.

Masalah lainnya adalah sarana prasarana yang belum memadai. Tidak semua provinsi mempunyai rumah sakit jiwa dan tenaga kesehatan. Saat ini jumlah tenaga profesional untuk pelayan kesehatan jiwa hanya 1.053 orang. Menurut Celentius, artinya setiap psikiater melayani 250 ribu penduduk. Kondisi ini menjadi masalah tersendiri bagi pemerintah.

Selain itu stigma negatif di masyarakat yang memandang penderita kesehatan mental pun menjadi perhatian pemerintah. Sikap diskriminasi terhadap penderita gangguan mental kadang membuat pemerintah sulit memperoleh informasi jumlah penderita.

Pihak keluarga sering kali menyembunyikan kondisi anggota keluarga yang mengalami kesehatan mental. Oleh karena itu pemerintah tiada henti melakukan edukasi akan pentingnya masyarakat menjaga dan memelihara kesehatan mental.

Pemerintah mengharapkan masyarakat tetap menjaga kesehatan diri, disiplin melaksanakan protokol kesehatan agar tidak tertular Covid 19, menjaga kesehatan jiwa dengan mengelola stres dengan baik, menciptakan suasana yang aman, nyaman bagi seluruh anggota keluarga.

*)Sri Setiyowati. Blogger dan Penulis

You Might Also Like

Azimah Kholisoh Mahabah Tingkat Raja, Begini Penjelasan Suhu Padepokan Carang Seket
Peningkatan Pendidikan di Era Digital: Tantangan dan Peluang
Sukses Ibu Rumah Tangga, Mulai dari Pengusaha Brownies hingga Penulis
5 Tips Memilih Kamera untuk Pemula Atas Saran dari Para Pendahulu
Boyamin: MAKI Akan Intervensi Judicial Review Pembatalan Kewenangan Jaksa Jadi Penyidik Kasus Tipikor di MK
TAGGED:Kesehatan JiwaMental HealthPeringatan Hari Kesehatan Jiwa
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Ibu Millenial dengan Sejuta Prestasi
Next Article Contoh Sertifikat SKD CAT BKN yang bisa kalian download secara independen melalui situs https://sertificat.bkn.go.id/ untuk Peserta Tes CPNS, PPPK, maupun Sekolah Kedinasan Cara Download Sertifikat SKD CAT BKN, untuk CPNS, PPPK maupun Sekolah Kedinasan
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Ilustrasi seekor kancil, kerbau, dan buaya dalam cerita anak berlatar hutan hijau dan sungai.
Bukan Sekadar Dongeng, Kisah Si Kancil Bisa Jadi Pintu Masuk Anak Mengenal Budaya Nusantara
Jateng Khazanah
Naskah kuno terbuka dengan tulisan tangan tradisional dan ornamen berwarna emas, merah, serta biru.
Naskah Kuno Bukan Sekadar Peninggalan Masa Lalu, Ada Pengetahuan Nusantara yang Bisa Kita Gali Kembali
Jateng Khazanah
Ilustrasi prosesi pemotongan rambut anak dalam upacara tradisi ruwatan rambut gimbal dengan pakaian adat Jawa.
Bukan Sekadar Potong Rambut, Ruwatan Anak Gimbal Dieng Menyimpan Pesan tentang Identitas dan Kearifan Lokal
Jateng Khazanah
Ilustrasi Ratu Biku Gandasari mengenakan busana tradisional dan mahkota emas di tengah alam berlatar candi dan pegunungan.
Cerita Rakyat Terancam Dilupakan? Begini Cara Membuat Warisan Leluhur Kembali Dekat dengan Anak Muda
Jateng Khazanah
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Informasi

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi Opini

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?