17 April 2026 20:26
Cover Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang - Horisontal

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.com menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Bagian 13
BUAH TERLARANG

Semenjak Lita sibuk mengurusi perusahaan kayu, Theo juga makin jarang pulang ke Semarang.

Apalagi, menjelang pemilihan umum calon legislatif, Theo makin sibuk menyiapkan diri untuk ikut mencalonkan diri kembali.

Kalaupun pulang ke Semarang, paling hanya di rumah satu dua malam.

Selebihnya menghabiskan hari-harinya di daerah pemilihannya, wilayah Solo dan sekitarnya.

Jadi, Leo lebih banyak berada di Solo daripada di Semarang.

Lita hanya sesekali saja mendampingi Theo bila sedang menemui kader-kadernya di Solo.

BACA JUGA:Tes Kepribadian: Siapa Orang Pertama yang Anda Bantu? Pilihanmu Menggambarkan Karaktermu

Pada dasarnya Lita tidak begitu suka urusan politik.

Kalau dulu dia kenal Theo di panggung kampanye politik, itu beda lagi urusannya.

Sebagai penyanyi dangdut, dia dikontrak partainya Theo untuk meramaikan kampanye partainya menghadapi pemilu.

Itu bukan berarti lantas dia juga ikut jadi simpatisan partai dan saat pemilihan dia mencoblos calon-calon dari partai yang mengontraknya.

Memang, setelah kenal dan akrab dengan Theo, apalagi setelah ada hubungan khusus, tentu dia harus dekat dengan teman-teman Theo, yang kebanyakan memang para pengurus partai.

Untungnya, kalau boleh disebut untung, Theo jadi calon dari daerah pemilihan Solo dan sekitarnya.

Tetap saja, Lita tidak pernah punya kesempatan untuk mencoblos Theo.

Dan kayaknya Theo lebih suka kalau pergi sendiri.

Maka, dia dengan cepat mengangguk bila Lita minta izin untuk tidak menyertainya dalam berbagai kunjungan kerja maupun kunjungan tidak resmi untuk urusan partai.

Theo merasa lebih bebas bergerak.

Lebih bebas memanfaatkan waktu.

Tanpa harus berpikir tentang Lita yang mesti ditinggalkan di hotel sendirian.

Begitulah.

Akhirnya, bagi Theo dan Lita, hidup terpisah itu sudah biasa.

Bertemu sekali sebulan dua bulan itu wajar saja.

BACA JUGA:Intip Kepribadian Seseorang melalui Tulisan Tangan

Apalagi, sekarang Lita punya kesibukan mengurus perusahaan.

Ketakhadiran Theo di sampingnya benar-benar sudah tak terpikirkan.

Soal kehangatan cinta?

Lita merasa hal itu bukan persoalan bagi Theo.

Dia sudah tahu persis karakter Theo sejak sebelum dinikahi.

Sedang baginya sendiri?

Lita tersenyum kecut sendiri bila kebutuhan kehangatan cinta itu sedang terlintas dalam pikirannya.

Sudah tiga bulan Iben mendampingi Lita sebagai auditor keuangan.

Meskipun tidak setiap hari bekerja, Iben ternyata mampu cepat menyesuaikan diri.

Dia ke pengolahan kayu bila di kampus sedang tidak ada jadwal kuliah.

Atau kalau pagi kuliah, siang baru ke sana.

Begitu sebaliknya.

Pagi ke sana, siang baru ke kampus kuliah.

Mondar mandir pengolahan kayu ke kampus, dari daerah Pelabuhan di Semarang Utara ke Kampus UNDIP di Tembalang, dengan motor Vespa tuanya hanya perlu waktu paling lama satu jam, saat jalanan cukup ramai.

Iben tetap lebih suka naik Vespa tuanya.

Meskipun Lita sudah memintanya pakai mobil, Iben menolaknya.

BACA JUGA:Orang Tua Perlu Melek Pendidikan Literasi Digital

Iben sekarang seolah tidak punya waktu lagi ke perpustakaan.

Sudah tiga bulan ini dia tidak ketemu sahabatnya, Dodit.

Sesekali kontak lewat telepon langsung atau SMS.

Itu pun dia lakukan kalau sangat penting.

Dia sudah ceritakan situasinya pada Dodit.

Dan Dodit bisa mengerti.

BACA JUGA:

Pada Semester Tiga ini, Iben hanya mengambil lima mata kuliah.

Jadi jadwal kuliah harian tidak terlalu padat.

Untuk kegiatan ekstrakurikuler, dia memutuskan sementara tidak aktif.

Dia sudah minta ijin pada Wisnu, Koordinator Teater Kampus, di semester ini jangan diikutkan dalam proyek pentas dulu.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *