17 April 2026 23:37
Cover Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang - Horisontal

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Sampai di Bandungan, mereka makan mi bakso di dalam pasar.

Mi bakso dalam pasar Bandungan cukup terkenal karena rasa enaknya.

Tempatnya sederhana, di pojok dalam pasar.

Tetapi yang sudah biasa jalan-jalan ke Bandungan, belum lengkap rasanya kalau belum mampir dan makan dua mangkok baksonya.

Dari pasar, Lita dan Iben menuju arah utara yang jalannya sedikit menanjak.

Bandungan adalah tempat peristirahatan yang nyaman dengan udara pegunungan yang sejuk segar.

BACA JUGA:Pers Efektif Perkuat Moderasi Beragama di Indonesia

Banyak hotel dan losmen bertebaran di setiap sudutnya.

Dari kelas berbintang, kelas melati, sampai yang tak berkelas, tinggal pilih sesuai selera.

Mobil Lita dan Iben masuk ke halaman hotel yang cukup besar.

Lita turun duluan, diikuti Iben di belakangnya.

Tanpa ragu sedikitpun, Lita berjalan mendatangi receptionist.

“Minta satu kamar de lux, ada?” tanyanya.

“Ada, mbak. Mau menginap berapa malam?” tanya receptionist.

“Kami tidak bermalam. Hanya transit ingin istirahat saja.” jawab Lita.

“Oh ya, Mbak. Siap. Mau lantai bawah atau atas?” tanya receptionist lagi.

BACA JUGA:Perawat Harus Memiliki Payung Hukum Soal Khitan

“Atas boleh. Kayaknya viewnya lebih menarik.” sambut Lita.

Sebentar kemudian, Lita dan Iben diantar oleh room boy menuju kamar di lantai atas.

Begitu sampai kamar, Lita memberi tips kepada room boy, yang setelah mengucapkan terima kasih langsung keluar kamar dan pergi.

Lita langsung menjatuhkan tubuhnya ke tempat tidur.

Tengkurap seolah membenamkan wajahnya ke dalam bantal.

Diam tak bergerak cukup lama.

Iben menjadi salah tingkah.

Didekatinya Lita.

Dia duduk di sampingnya.

Dielusnya pelan punggung Lita, lalu naik ke tengkuk dan merambat ke rambut di kepala.

Lita masih diam.

Tak memberikan reaksi sedikit pun.

“Ta, kamu baik-baik saja, kan?” bisik Iben di telinga Lita.

Pelan-pelan Lita membalikkan tubuhnya.

Dipandanginya Iben.

Lalu digenggamnya tangan Iben.

“Ben, saat ini aku merasa sedang berada dalam dua dunia yang berbeda. Satu dunia begitu menyenangkan, membuat aku merasa benar-benar menikmati hidup. Sedang dunia yang satu lagi begitu menakutkan, membuat aku hampir tak pernah bisa tidur nyenyak.” keluh Lita.

BACA JUGA: Ketum PBNU Meminta Kasus Wadas Jangan Dipolitisasi

Iben diam.

Tidak memberikan tanggaan.

Hanya matanya masih menatap Lita.

Tangannya masih berada dalam genggaman Lita.

“Tapi, hidup memang pilihan, Ben. Kita harus mengambil satu pilihan untuk setiap kesempatan yang ada di depan kita. Dan setiap pilihan menuntut risiko dan tanggung jawab. Terus terang, sampai hari ini aku masih ragu dengan diriku sendiri. Beranikah aku menentukan pilihan? Beranikah aku mengambil risiko tanggung jawab atas pilihanku? Tentu saja pilihan yang akan menyenangkan dan membahagiakan aku.”

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *