By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Reading: Kepala UPT Perpustakaan IAIN Kudus, Anisa Listiana Raih Gelar Doktor
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Us Today
  • Us Today
  • Us Today
  • World
  • World
  • World
  • Economy
  • Economy
  • Economy
  • Business
  • Business
  • Business
  • Industry
  • Industry
  • Industry
  • Politics
  • Politics
  • Politics
Search
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
  • Advertise
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Pendidikan

Kepala UPT Perpustakaan IAIN Kudus, Anisa Listiana Raih Gelar Doktor

Dwi Widiyastuti
Last updated: 3 Juli 2022 19:31 19:31
By Dwi Widiyastuti
9 Min Read
Share
Kepala UPT Perpusatakaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus Anisa Listiana foto bersama Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Prof Dr Abdul Ghofur dan para tim penguji usai ujian terbuka promosi doktor, Kamis (30/6).
SHARE

OPINIJATENG.COM – Kepala UPT Perpustakaan Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Kudus Anisa Listiana meraih gelar doktor, Kamis 30 Juni 2022.

Anisa menyampaikan desertasi berjudul ‘’Berdamai Bersama Keadaan. Studi tentang Laku Spiritual sebagai Model Keagamaan Pengikut Syeh Jangkung di Wilayah Pesisir Utara Jawa Tengah’’.

Ujian terbuka promosi doktor dipimpin Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang Prof. Dr Abdul Ghofur dan Sekretaris Dr. H Muhyar Fanani, M.Ag. Promotor sekaligus penguji Prof. Dr. H Mudjahirin Thohir, MA, Co Promotor Dr H Agus Nurhadi, MA. Penguji eksternal Prof. Dr H Supiyana M.Ag. Tiga penguji lainnya yaitu Dr H Abdul Muhayya, MA, Dr H In’amuzzahidin, M.Ag dan Dr H Sholihan, M.Ag. Menurut Abdul Ghofur, Anisa merupakan Doktor Ke-243 UIN Walisongo Semarang.

BACA JUGA: Wuquf di Arafah untuk Mengenali Diri Sendiri

Menjawab pertanyaan salah satu penguji, Anisa Listiana mengatakan, perilaku spiritual di zaman kehidupan modern akan semakin laris dan dilakukan banyak orang.

‘’Persoalan makin rumit dan tumpang tindih, membutuhkan solusi pemecahannya. Salah satu yang bisa dilakukan laku spiritual seperti yang dilakukan pengikut Syeh Jangkung atau Saridin,’’ kata aktivis Muslimat NU itu.

Promotor merangkap penguji Prof Dr Mudjahirin Thohir MA menilai desertasi Anisa Listiana yang bersentuhan dengan dunia ghaib perlu diperdalam lagi di lingkungan UIN Walisongo Semarang.

‘’Banyak orang menyelesaikan masalah lari ke dunia ghaib, Memang tidak bisa dinalar tapi bisa dijawab secara ilmiah. Inilah salah satu bagian tugas doktor UIN Walisongo. Kosep berkah, ada Qulhu kuwalik, shalawat kepepet, bagaimana menarasikan secara akademik yang menuntut berpikir rasionalis dan empirik,’’ kata Guru Besar Antropologi Undip itu.

Hadir pada kesempatan itu mantan Rektor IAIN Kudus Prof. Dr Mudzakir, mantan Wakil Rektor Prof. Dr Supaat, suami Slamet Syaifuddin, M.Ag,. M.Pd dan dua anaknya Ziyan Falichun Najed dan Zivanna Dafifa Nadvi.

Syeh Jangkung

Anisa Listiana dalam desertasinya mengatakan, Syekh Jangkung atau Saridin merupakan salah satu tokoh yang mendapatkan sebutan waliyullah oleh masyarakat, utamanya di wilayah pesisir utara Jawa Tengah.  Namun unik dan berbeda dari tokoh yang mendapat sebutan Waliyullah di pesisir utara Jawa.

‘’Dia tidak masuk dalam kategori Walisongo, namun makamnya banyak diziarahi sebagaimana makam Walisongo lainnya. Para pengikutnya menempatkan Syekh Jangkung sebagai seorang yang  mengajarakan laku spiritual keagamaan. Laku spiritual tersebut sebagai  aktivitas keyakinan dan praktik olah jiwa dalam upaya untuk mencapai ’kasampurnaning urip.’ (Kesempurnaan hidup),’’ katanya.

Dengan laku spiritual itu menurut Anisa Listiana, diharapkan manusia mampu beradaptasi dengan dinamika dan dialektika kehidupan. Seberapa baik manusia mampu beradabtasi dengan dinamika dan dialektika kehidupan bisa diukur dari seberapa baik kualitas laku spiritual yang dilakukan.

BACA JUGA: Kiat Sukses Yana Priatna: Mengubah Hidup di Bumi Menjadi Berasa di Langit

Studi itu menurutnya bertujuan menjawab pertanyaan Mengapa Laku spiritual keagamaan pengikut Syekh Jangkung di wilayah pesisir utara Jawa Tengah menjadi sarana berdamai dengan keadaan bagi para pengikutnya?

Bagaimanakah relevansi Laku spiritual keagamaan tersebut bagi kehidupan pengikutnya dan filsafat hidup mereka? Dan bagaimanakah peran Laku spiritual keagamaan pengikut Syekh Jangkung di wilayah pesisir utara Jawa Tengah tersebut dalam dinamika sosial, budaya dan agama kehidupan modern?.

Menutur Anisa, permasalahan tersebut dibahas melalui studi lapangan. Lokasi penelitian sebagai sumber data melalui wawancara bebas, observasi partisipan, dan studi dokumentasi. Semua data dianalisis dengan pendekatan fenomenologi dan analisis deskriptif dengan menggunakan logika induksi, deduksi dan refleksi.

‘’Kajian ini menunjukkan beberapa penemuan antara lain bagi pengikut Syekh Jangkung setiap individu atau orang berkeinginan untuk mendapatkan kesempurnaan hidup ’kasampurnaning urip.’ Namun kesempurnaan hidup tersebut tidak hadir dengan sendiri. Ia harus dicapai melalui Laku spiritual keagamaan,’’ katanya.

Dengan Laku spiritual keagamaan tersebut, menurut pengikut Syekh Jangkung seorang individu akan berupaya dengan aktivitas keyakinan dan praktik olah jiwa melalui beberapa ‘laku’ spiritual untuk menjadi mampu memahami siapa dirinya, orang lain, alam dan bahkan yang utama dengan penciptanya sebagai yang tertinggi. Kemampuan tersebut adalah sebuah derajat pencapaian ’kasampurnaning urip’ (Kesempurnaan hidup).

‘Kasampurnaning urip iku cedakke manungso marang gustine tanpa ananing wates’ (Kesempurnaan hidup itu (bisa diraih) dengan dekatnya manusia tanpa adanya pembatas antara manusia dengan Tuhannya).

Menurut pengikut Syekh Jangkung jika individu sudah menjalankan laku spiritual maka ia sudah berproses dalam mencapai ataupun meraih ’Kasampurnaning urip’ (Kesempurnaan hidup). Pada tahap ini seorang individu akan mendapatkan kesejahteraan hidup. Kesejahteraan hidup itu bisa berupa kebahagiaan ruhani dan tercukupinya kebutuhan jasmani serta mampu beradaptasi secara baik dan tepat dengan dialektika kehidupan, apapun bentuknya.

Oleh karena itu, Laku spiritual keagamaan bagi para pengikut Syekh Jangkung merupakan jalan yang harus dilalui dalam rangka beradabtasi dan bersikap yang tepat terhadap dinamika kehidupan, apapun keadaannya. Sehingga oleh karenanya, orang yang mampu beradabtasi dan bersikap tepat terhadap dialektika dan dinamika kehidupan menurut pengikut Syekh Jangkung adalah orang yang  sudah mampu berdamai dengan keadaan.

BACA JUGA: Holywing dan Fenomena Generasi Mabuk

Bagi pengikut Syekh Jangkung, laku ini terdiri dari 4 (empat) tingkatan atau hierarkhi. Tingkat tertinggi disebut sembah roso. Dibawah sembah roso ada sembah jiwo, sembah cipto dan sembah rogo. Di dalam masing-masing tingkatan / hierarki sembah tersebut ada beragam aktivitas laku yang berbeda.

Pengikut Syekh Jangkung berpandangan bahwa spiritualitas merupakan perjuangan untuk menjawab atau mendapatkan kekuatan ketika sedang menghadapi penyakit fisik, stres emosional, keterasingan sosial, bahkan ketakutan menghadapi ancaman kematian.

Namun secara umum laku spiritual yang dilakukan oleh pengikut Syekh Jangkung  disadari oleh mereka sebagai laku kehidupan yang akan memberikan pribadi mampu: 1) Merumuskan arti personal yang positif tentang tujuan keberadaan kehidupan di dunia. 2). Mengembangkan arti penderitaan dan meyakini hikmah dari suatu kejadian atau penderitaan. 3) Menjalin hubungan positif dan dinamis melalui keyakinan, rasa percaya dan cinta kasih yang tinggi.4) Membina integritas personal dan merasa diri berharga. 5) Merasakan kehidupan yang terarah terlihat melalui harapan. 6). Mengembangkan hubungan antar manusia dengan positif.

Laku spiritual pengikut Syekh Jangkung   memiliki peran dan fungsi yang vital dalam kehidupan manusia baik secara individual maupun sosial kemasyarakatan. Laku spiritual pengikut Syekh Jangkung  paling tidak memiliki tiga peran penting dalam relasi sosial, budaya dan agama.

Pertama, perspektif relasi sosial, maka laku spiritual keagamaan Syekh jangkung dapat berperan sebagai simulacra mistisisme, suatu titik balik, yaitu mengarahkan dan mengembalikan perilaku individu dari pola hidup hedonis dan hasrat keberbutuhannya seperti melaksanakan laku spiritual guna mengembalikan hutang (nyarutang) dan guna mencapai suatu kejayaan (memperoleh posisi kepemimpinan tertentu-lurah, bupati, DPRD misalnya) kepada makna laku spiritual sebagai sarana menciptakan keharmonisan diri dengan kehidupan.

Kedua,laku spiritual keagamaan dapat membantu mendorong terciptanya persetujuan mengenai sifat dan isi kewajiban-kewajiban sosial dengan memberikan nilai-nilai yang berfungsi menyalurkan sikap para anggota masyarakat dan menetapkan isi kewajiban-kewajiban sosial masyarakat dalam sebuah kebudayaan. Dalam peranannya ini laku spiritual pengikut Syekh Jangkung telah membantu menciptakan sistem-sistem nilai budaya yang terpadu dan utuh.

Ketiga, laku spiritual pengikut Syekh Jangkung mampu memainkan peran vital dalam memberikan kekuatan memaksa yang mendukung dan memperkuat pelaksanaan ajaran agama seorang individu, dan menanamkan pemahaman yang tepat bagaimana menjadi seorang yang beragama.  Karena itulah dengan peran laku spiritual pengikut Syekh Jangkung sebagaimana dijelaskan tersebut maka laku spiritual pengikut Syekh Jangkung  merupakan aktivitas yang bersifat fungsional dalam dinamika sosial, budaya dan agama kehidupan modernional.***

 

You Might Also Like

Kunci Jawaban Matematika Kelas 5 Buku Paket Kemendikbud 2018 Halaman 155
Refleksi Pemikiran Ki Hajar Dewantara
Kunci Jawaban Tema 5 Kelas 3 Halaman 103, 105, 107 Pembelajaran 5 Sub Tema 2 Perubahan Cuaca
PGRI Awards Banjarnegara Digelar, Ini Dia Juaranya
Geliat Tunas Muda Pramuka SDN 3 Kalibombong: Menumbuhkan Karakter, Menyemai Semangat Kebangsaan
TAGGED:Anisa ListianadoktorIAINKepala UPT PerpustakaanKudus
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Wuquf di Arafah untuk Mengenali Diri Sendiri
Next Article Wuquf, Pengampunan Dosa, dan Kemabruran Haji
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Ilustrasi pemuda dan tokoh acara memegang bola sepak di atas panggung dengan pertunjukan seni tradisional dan lampu warna-warni.
Bukan Sekadar Panggung Hiburan, Anak Muda Butuh Ruang untuk Mengubah Ide Menjadi Peluang
Jateng Ruang Ekspresi
Ilustrasi penari jaran kepang mengenakan kostum tradisional merah dan emas sambil menari dengan properti kuda kepang di panggung festival.
Festival Budaya Jangan Cuma Ramai Pengunjung, Seniman dan UMKM Juga Harus Diuntungkan
Jateng Ruang Ekspresi
Ilustrasi penari tradisional mengenakan hiasan kepala berwarna emas dan membawa selendang kuning dalam pertunjukan budaya.
Budaya Lokal Bukan Sekadar Tradisi, Ini Peluang Besar bagi Ekonomi Kreatif dan Generasi Muda
Culture Jateng
Ilustrasi parade Cap Go Meh dengan peserta berbaju merah mengarak hiasan ritual di bawah deretan lampion merah.
Cap Go Meh Bukan Sekadar Festival Lampion, Ada Jejak Akulturasi Budaya yang Hidup di Indonesia
Culture Jateng
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Informasi

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi Opini

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?