By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Reading: Peringatan Hari Persaudaraan Internasional
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Us Today
  • Us Today
  • Us Today
  • World
  • World
  • World
  • Economy
  • Economy
  • Economy
  • Business
  • Business
  • Business
  • Industry
  • Industry
  • Industry
  • Politics
  • Politics
  • Politics
Search
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
  • Advertise
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
GagasanKhazanah

Peringatan Hari Persaudaraan Internasional

Dwi Widiyastuti
Last updated: 4 Februari 2023 15:15 15:15
By Dwi Widiyastuti
8 Min Read
Share
Ketua PW DMI Jateng, Prof Dr H Ahmad Rofiq MA
SHARE

Oleh: Ahmad Rofiq
OPINI JATENG – Imam Besar Al-Azhar Prof Ahmad Thayeb dan Paus Fransiskus, Pemimpin Gereja Katolik Vatikan di Abu Dhabi, pada hari ini, Sabtu, 4 Februari 2023, 4 (empat) tahun silam, menandatangani “Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Damai Bersama”.

Oleh Majelis Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) kemudian menetapkan pada setiap tanggal 4 Februari sebagai Hari Persaudaraan Manusia Internasional.

Kementerian Agama RI menyiapkan naskah khutbah Jumat, 3 Februari 2023 yang ditulis oleh Dr KH Muhlis Hanafi Lc MA.

Tulisan ini diadaptasi dari naskah khutbah tersebut. Peringatan Hari Persaudaraan Manusia Internasional, menunjukkan keinginan masyarakat dunia untuk menciptakan kehidupan yang damai dan berkeadilan.

BACA JUGA:Satu Abad Harlah ke-97 NU, Rayakan dengan Sederhana dan Hikmad

Seiring dengan kemajuan teknologi, peradaban manusia yang Sebagian sudah diwarnai oleh liberalism-hedonisme-materialisme, di mana klasifikasi sosial sering dimunculkan dalam perspektif hedonistic-materialistik.

Tentu ini berdampak terjadinya degradasi marwah dan martabat manusia bahkan bisa pada defisit moral dan akhlak.

Di sisi lain, secara perlahan namun pasti, peran manusia kian terpinggirkan digantikan oleh kecerdasan buatan (artificial intelligent).

Nilai-nilai agama dan spiritualitas tersingkirkan, etika dan moral makin terpojok.

Giliran berikutnya makin tak terbendung munculnya praktik-praktik ketidakadilan, new-kolonialisme dalam versi transaksi pinjaman, kekayaan alam mengalir dengan cara paksa ke negara-negara yang sedang “menanamkan” cengkeraman dan pengaruhnya, keserakahan dan peperangan asymetris terus berkelanjutan. Permusuhan dan konflik sengaja dimunculkan, terutama oleh negara-negara yang merasa menang jika terus mengobarkan peperangan.

Dalam momentum seperti ini, sembari mensyukuri keberkahan bulan Rajab yang oelh Rasulullah saw, disebut sebagai “SyahruLlah” atau “Bulan Allah” menjadi kewajiban kaum muslim, agar agama harus dan mampu tampil untuk memberikan pencerahan, memantik kesadaran Ilahiyah bahwa sesama warga bangsa adalah bersaudara, apapun agamanya, etnis, kewarganegaraannya.

Inilah yang dalam Bahasa Ulama, disebut dengan ukhuwah insaniyah atau basyariyah. Agama harus tampil menjadi panduan akhlak dan etika dalam hidup bersama dalam kemajemukan. Sayangnya, ada sebagian yang karena model pemahaman keagamaanya ekseklusif, tidak jarang menjadikan agama sebagai pemicu konflik. Tidak jarang ada yang menganggap saudaranya yang seagama pun dikafirkannya.

BACA JUGA:Rajab Bulan Pengharapan

Dengan mengaku atas nama Tuhan, sering memusuhi saudaranya sendiri, dan tidak jarang menghasur dengan kebencian dan kekerasan. Sebagian implikasinya, tidak sedikit anak-anak muda di beberapa negara yang tidak mengakui adanya Tuhan dan tidak beragama (atheis) atau agnostik (bertuhan tetapi tidak beragama), lebih naif lagi agama tidak dianggap penting oleh penduduk yang negaranya dianggap paling Bahagia.

Piagam perasaudaraan kemanusiaan untuk hidup berdampingan, mengingatkan kita pada Piagam/Mitsaq Madinah, sebuah dokumen untuk merajut kebersamaan seluruh warga masyarakat tanpa ada pembedaan apalagi diskriminasi dalam konsep ummatan wahidah.

Islam mengumpamakan manusia dengan sesamanya, laksana gigi-gigi sisir. Semua berasal dari satu unsur, semua berasal dari Adam, dan Adam tercipta dari tanah. Tidak ada seornag pun yang memiliki keistimewaan atas orang lain.

Hanya ketaqwaan yang membedakannya di mata Tuhan, agama mengajarkan kepada kita untuk mencintai saudara kita atau orang lain, sebagaimana mencintai diri sendiri. Rasulullah saw: “Tidak dinyatakan sempurna iman seseorang sampai ia mencintai saudaranya sebagaimana ia mencintai dirinya sendiri” (Riwayat Al-Bukhari dan Muslim).

Misi kemanusiaan ditegaskan oleh Rasulullah saw. Suatu saat beliau ditanya seseorang, pesan-pesan apa yang engkau bawa dari Tuhanmu? Nabi menjawab: “Aku diperintahkan untuk menyambung hubungan kekerabatan (silaturrahim), menghentikan pertumpahan darah, mengamankan jalan, menghancurkan berhala, sehingga hanya Allah semata yang disembah dan tidak ada sekutu bagi-Nya”. Mendengar penjelasan Nabi, orang tersebut berkata: “Alanglah indahnya ajaran yang engkau bawa. Saksikanlah bahwa aku beriman kepadamu dan aku membenarkan apa yang engkau bawa itu” (Riwayat Ahmad, 28/232).

Ajaran agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad saw, dan seluruh Nabi dan Rasul, adalah mengajak kepada tauhid atau meng-Esakan Tuhan. Sebelum mengajarkan tauhid, Rasulullah saw mendahulukan tiga hal: 1). Menyambung tali persaudaraan atau silaturrahim sehingga tercipta kekeluargaan dan kekerabatan yang harmonis, yang menjadi cikal bakal masyarakat yang aman dan damai; 2). Menghentikan pertumpahan darah dan memberi jaminan hidup dan kehidupan; 3). Mengamankan jalan dan menjaga ketertiban umum. Baru setelah itu, beliau menyebut “menghancurkan berhala” dan “menyembah Allah semata”.

Ikatan kebersamaan dalam agama dan ikatan persaudaraan kemanusiaan sangat diperlukan dalam upaya membangun dunia yang penuh dengan kerukunan dan kedamaian, meskipun berbeda agama dan sukunya. Allah menegaskan:  “Wahai manusia, sungguh Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan. kemudian Kami jadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang bertaqwa. Sungguh Allah Maha Mengetahui Maha Teliti” (QS. Al-Hujurat (49): 13).

BACA JUGA:Bagi Suku Asmat Papua, Sepeda Motor Listrik Bukan Barang Baru, Cek Faktanya!

Pesan utama li ta’arafu atau saling mengenal. Akan lahir pengakuan dan saling tolong menolong (ta’awun), dan dengan saling mengenal lahir sikap saling menghormati (tasamuh) dalam perbedaan. Menghormati tidak identic dengan menerima pandangan, menyetujui, dan mengikutinya. Menghormati berarti menerima orang lain dalam hidup berdampingan dalam perbedaan dalam suasana damai untuk kemashlahatan, kerukunan, kedamaian dan keharmonisan bersama.

Sebagai bangsa besar Indonesia, kita memiliki modal besar kemajemukan yang harus kita syukuri. Kita memiliki 17.500 pulau, 714 suku, 652 bahasa daerah, kita dapat menjaga persatuan dan kesatuan selama hampir 78 tahun. Luas daerah hampir sama dengan daratan Barat, tetapi Eropa sendiri terbagi ke dalam 46 negara. Atau di Timur Tengah ada 16 negara, dengan wilayah yang lebih kecil dari Indonesia, namun tidak pernah sepi dari konflik etnis, sekte, dan yang bernuansa agama. Karena itu, kita perlu trerus bangun persaudaraan kebangsaan (ukhuwwah wathanyah) dan kemanusiaan (ukhuwwah insaniyah/basyariyah).

Dengan sesame muslim kita musti lebih erat lagi, tidak saling memusuhi, apalagi dengan kalimat tauhid yang sama, Alqur’an yang sama, dan Nabi yang sama, seharusnya kita bisa lebih erat dalam bingkau persaudaraan seagama (ukhuwwah Islamiyah).

BACA JUGA:Pecahkan Rekor MURI 12.616 Peserta Terbanyak, Senam Sehat Moderasi Populer

Mengakhiri khutbah ini, mari kita simak seksama Firman Allah ‘Azza wa Jalla: “Dan janganlah kalian seperti seorang perempuan yang merusak tenunan kain setelah selesai dipintalnya, sehingga cerai berai Kembali. Itu sama halnya dengan menjadikan sumpah dan perjanjian sebagai alat untuk menipu, disebabkan karena satu golongan lebih banyak jumlahnya, lebih kuat kedudukannya atau lebih tinggi posisinya dari golongan lain. Allah hanya menguji kamu dengan hal itu, dan pasti pada hari Kiamat akan dijelaskan-Nya kepadamu apa yang kamu perselisihkan itu.” (QS. An-Nahl (16): 92).

Semoga Allah senantiasa membukakan hati dan fikiran kita, untuk makin meningkatkan kualitas dan kekhusyu’an ibadah shalat kita sebagai bagian keutamaan bulan Rajab, sehingga kita mampu menghasilkan perilaku dan keshalehan sosial dan menjunjung tinggi persaudaraan baik seagama, sesama bangsa, dan sesama manusia. Itulah sesungguhnya misi utama ajaran islam, yang rahmatan lil alamin.
 
Prof Dr H Ahmad Rofiq MA, Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPH-LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman, Ketua Bidang Pendidikan MAJT, Ketua DPS Rumah Sakit Islam-Sultan Agung (RSI-SA) Semarang, Ketua DPS BPRS Kedung Arto Semarang, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah PP MES, dan Anggota Dewan Penasehat IAEI Pusat.*** 

You Might Also Like

Yang Pahit dalam Hidup adalah Berharap kepada Manusia
SNW dan Ikhtiar Melahirkan Wirausahawan Muslim
Berbekal Paket C, Sevi Berhasil menjadi Guru Penuh Prestasi
Oh Ini Tho Asal Mula Kalimat Halal Bi Halal
Doa untuk Beribadah dengan Sebaik-baiknya
TAGGED:Hari Persaudaraan InternasionalProf Ahmad Rofiq
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Satu Abad Harlah ke-97 NU, Rayakan dengan Sederhana dan Hikmad
Next Article Peringatan HPN 2023 Ditandai Ziarah Kubur Ke Makam Wartawan Senior
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Tumis buncis dengan wortel, irisan sosis, dan cabai merah yang disajikan dalam mangkuk cokelat.
Bingung Menyiapkan Menu Harian? Ini 7 Ide Tumisan Praktis yang Hemat Minyak dan Cocok untuk Keluarga
Jateng News
Martabak telur goreng berwarna keemasan dengan isian telur dan daun bawang, dipotong menjadi beberapa bagian.
Tak Perlu Beli di Pinggir Jalan, Martabak Telur Kulit Lumpia Ini Bisa Dibuat Sendiri di Rumah
Jateng News
Nasi goreng berbumbu dengan telur mata sapi, irisan cabai merah, daun bawang, dan sambal.
Tak Perlu Timbangan Dapur! Resep Nasi Goreng Takaran Sendok untuk Bekal Sekolah Anak
Jateng News
Sup ayam dengan wortel, kentang, dan sayuran dalam kuah bening hangat
Bingung Masak Apa Hari Ini? 3 Resep Sop Rumahan yang Hemat, Gurih, dan Mudah Dibuat
Jateng News
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Informasi

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi Opini

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?