Penyesalan Milo
Ilustrasi Penyesalan Milo/Design by canva
OPINIJATENG.COM-Pada suatu hari yang cerah, Milo dan Loli sedang bermain puzzle di ruang keluarga. Saat sedang asyik bermain, mereka tersadar ada satu bagian puzzle yang hilang.

“Milo, apakah kamu tahu kemana hilangnya bagian puzzle ini?” ucap Loli.
“Aku juga tidak tahu, coba kita tanyakan pada Ibu!” kata Milo.
Mereka pun bertanya kepada Ibu mengenai hilangnya potongan puzzle yang hilang.

“Bu, bagian puzzle kami ada yang hilang, apakah Ibu tahu?” tanya Loli kepada Ibu.
“Ibu juga tidak tahu, coba dicari terlebih dahulu. Ibu sedang sibuk menyiapkan makan siang,” ucap Ibu.
“Iya Bu, mari kita cari dulu Milo!” kata Loli.
“Iya Loli, ayo kita cari bersama-sama,” ucap Milo.
Mereka pun kebingungan dan langsung mencari bagian puzzle yang hilang. Tak lama setelah mereka mencari, Loli menemukan puzzle yang hilang di bawah meja.

“Milo, aku menemukan bagian puzzle yang hilang di bawah meja. Tolong ambilkan! Aku tidak bisa mengambilnya,” seru Loli kepada Milo.
“Baik Loli, aku akan mengambilnya,” ucap Milo.
“Terima kasih Milo, mari kita lengkapi puzzle-nya.” kata Loli.
”Yeay … akhirnya kita bisa menyelesaikan puzzle ini,” ucap Loli.
Setelah Ibu selesai memasak di dapur dan menyiapkan makan siang kesukaan Milo dan Loli, Ibu menghampiri Milo dan Loli yang sedang bermain di ruang keluarga untuk mengajak mereka makan siang bersama.

“Milo, Loli ayo makan siang dulu!” ucap Ibu kepada Milo dan Loli.
“Iya Bu sebentar, Loli mau cuci tangan dulu,” jawab Loli.
“Milo, kamu juga jangan lupa cuci tangan terlebih dahulu sebelum makan!” ucap Ibu.
”Iya, Ibu,” jawab Milo berbohong.

Milo, Loli, dan Ibu makan siang bersama di ruang makan. Milo dan Loli terlihat sangat menikmati makanan tersebut. Setelah selesai makan siang, mereka berdua membantu Ibu merapikan meja makan. Kemudian, Milo dan Loli kembali ke ruang keluarga untuk merapikan mainannya.
Saat tengah merapikan mainan, tiba-tiba Milo merasa kesakitan sambil memegangi perutnya.
“Aduh, perutku sakit!” kata Milo dengan kesakitan.
Loli yang merasa panik, langsung berteriak memanggil Ibu yang masih berada di ruang makan. Ibu pun bergegas dan berlari ke arah ruang keluarga menghampiri Milo dan Loli dengan wajah cemas.

“Ada apa, Loli?” tanya Ibu dengan terheran-heran.
“Milo perutnya sakit, Bu,” ucap Loli.
“Ayo segera kita bawa ke rumah sakit!” seru Ibu dengan khawatir.
Tidak lama kemudian Ibu, Milo, dan Loli sampai di Rumah Sakit terdekat.

“Ada keluhan apa, ya, Bu?” tanya Dokter.
“Tadi anak saya mengeluh kesakitan sambil memegangi perutnya, Dok,” jawab Ibu.
“Baik Bu, akan saya periksa terlebih dahulu,” ucap Dokter.
Setelah dokter memeriksa keadaan Milo, dokter segera kembali menghampiri Ibu dan menjelaskan apa yang terjadi pada Milo.

“Tidak perlu khawatir, Bu, setelah saya periksa, anak Ibu hanya sakit perut biasa,” ucap Dokter.
“Lalu, penyebab sakitnya perut anak saya apa, ya, Dok?” tanya Ibu.
“Apakah anak Ibu sudah rajin cuci tangan? Hal ini bisa terjadi karena kurangnya menjaga kebersihan. Bakteri atau kuman dapat menempel pada tangan yang kotor,” ucap Dokter.
“Jangan-jangan … tadi Milo belum cuci tangan sebelum makan?” tanya Loli.
“Iya aku tidak mencuci tangan tadi …, ” ucap Milo dengan ekspresi menyesal.
“Jadi Milo tadi bohong sama Ibu? Lain kali jangan diulangi ya, Milo. Cuci tangan itu penting karena kita tidak tahu tangan kita bersih dan terbebas dari kuman atau tidak,” ucap Ibu.
“Iya bu, Milo menyesal telah berbohong dan tidak cuci tangan sebelum makan. Milo berjanji Bu, akan selalu mencuci tangan sebelum makan,” jawab Milo.
Akhirnya Milo menyesal dan menyadari pentingnya mencuci tangan setelah melakukan aktivitas.***
*) Ditulis oleh Adista Mayasari, Hestin Apriliyanti, Risma Nur Aini, Pingky Citra Inpriani, Devita Lidya Puspita Ningrum, mahasiswa S1 PGSD Universitas PGRI Adi Buana Surabaya
