Jangan Cari Pacar Berjilbab
Jangan Cari Pacar Berjilbab/Dwi Widiyastuti
OPINIJATENG.com – Rizal duduk memandang langit biru yang cerah. Secerah wajahnya pagi ini.
Cowok ganteng yang berpenampilan trendi selalu menjadi perhatian.
Tak heran jika banyak cewek-cewek di sekolah berebut mendapatkan hatinya.
Cowok hitam manis ini sedang memikirkan Aula, Si cewek berjilbab yang manis, pintar dan mampu membuat Rizal terpesona.
Sementara Atta dan Gio terus nyinyir dan meledek di sampingnya.
Mereka menertawakan Rizal ketika Rizal bercerita tentang Aula cewek yang diincarnya.
“ Riz, kamu ngincer cewek berjilbab?” tanya Atta heran bukan kepalang kepada Rizal.
“Enggak nyesel lo? nanti kecewa berat dan sakittt hati lo” kata Gio menimpali.
Rizal tidak mau menanggapi temannya berkomentar.
“Ah, ngomong semaumu, aku akan tetap berjalan sesuai kata hatiku”, katanya lagi.
Biarkan anjing menggonggong kafilah tetap berlalu. Rizal bersikeras sesuai dengan tujuannya, menaklukkan Aula.
Aula cewek berjilbab aktivis Rohis.
Rizal sangat penasaran, apa sih, susahnya macarin cewek berjilbab?
Sementara reputasinya sebagai cowok play boy sudah melekat.
Banyaknya pacar dan sering gonta ganti ceewk merupakan hobinya. Cewek model apapun bisa Rizal dapatkan.
“ Udahlah bro, jangan nyari cewek berjilbab. Cari saja cewek biasa yang mudah dan tanpa syarat,” kata Gio.
Sifat play boy-nya semakin tertantang.
“ Jangan ngeledek aku terus. Beri waktu untuk membuktikannya, dan gue bisa jadian sama Aula,” kata Rizal panas.
“Misal jadian paling nggak lama”, kata Atta meyakinkan.
“ Setelah sehari lo bakalan kabur nggak betah sama Aulia. Percayalah sama aku,” sambung Gio.
Keesokan harinya Rizal nekat mendekati Aula di kantin.
Rizal punya sifat nekat.
Apa yang di mau pasti harus tercapai.
Rizal ingin membuktikan pada kedua sahabatnya yang meremehkannya.
Aku harus mendapatkan Aula, batin Rizal.
Bagai disiram air es yang sejuk.
Aulia menyambut Rizal begitu baik.
Betapa senang hati Rizal.
Cintanya tidak bertepuk sebelah tangan.
Semakin percaya diri saja dia.
Ia kemudian ngobrol dengan Aula.
Aula terlihat ramah dan supel.
Aula sudah tahu siapa Rizal.
Cowok play boy yang sering gonta ganti pacar.
Dan Aula juga sudah mendengar bahwa Rizal menaruh hati padanya.
***
Tiga hari berlalu, sekolah gempar. Bagaikan kabar yang lagi nge hit.
Aula yang terkenal alim, aktif di rohis pacaran dengan play boy yang suka mempermainkan hati cewek.
Nayla dan Aisyah teman akrabnya, juga heran.
Ia mendatangi rumah Aula untuk sekedar bertanya tentang berita itu.
“ Pake Assalamualaikum dong,cantik,” sembur Aula melihat Nayla dan Aisyah langsung masuk ke rumah tanpa basa basi.
“ Lupa,” sahut Nayla
“ Lupa kok, dipelihara”
“Udahlah,nggak penting,” kata Aisyah menyangkal.
Nayla segera menarik tangan Aula seperti polisi mau intrograsi.
“Ih apaan si” kata Aula sebel.
“Masyaa Allah Nayla, pelan-pelan ngapa?” Aula mengelak.
Aula yang masih sakit tangan ketarik segera menahan rasa sakitnya.
Nayla segera minta maaf, sebelum Aula berceramah panjang lebar buat dirinya.
“Eh tadi luu bilang salam nggak penting?” tanya Aula ingat kata-kata Aisyah.
Mereka sambil duduk di teras belakang dekat kolam ikan.
“Iya iya penting. Sorry deh. Lain kali aku ucap salam kalau mau masuk rumah.
“Kali ini aku bener-bener lupa. Orang lupa salah yah,”
“iya deh, maaf maaf” akhirnya Aisyah mengalah.
Soalnya aku sudah tidak sabar lagi untuk membuktikan kebenaran rumor yang santer di sekolah.
“Aku sih berharap itu berita bohong.”
“Siapa bilang ini berita bohong?” kata Aula tersenyum manja. Ini nyata.
“Aku sudah jadian sama Rizal.”
“Aula, sumpah lo?” Aisyah heran serasa tak percaya.
Tapi Aisyah tidak yakin kalau pengakuan Aula benar.
“Aku belum mengerti jalan pikiranmu? Kenapa? Tulisan-tulisanmu di rohis dan majalah dinding sekolah selalu berisikan tentang larangan berpacaran. Kamu bilang pacaran zina. Zina itu tidak diperbolehkan dalam agama. Tapi sekarang, kamu sendiri yang melakukan,?
“Tapi pacaran yang ini beda Asyah.”
“Lain bagaimana? Yang namanya pacaran pasti bermaian perasaan.” Kata Nayla menimpali.
“Kita lihat saja nanti,” kata Aula bersemangat.
Nayla tidak bisa berpikir jauh lagi. Dan sama sekali tidak tahu jalan pikiran Aula. Apa yang dimasksud dengan pacaran dengan cara lain?
Apakah ada pacaran model lain.
Selama ini yang namanya pacaran yang ingin bertemu, selalu rindu, bergandengan tangan, sakit hati, menangis , berpelukan bahkan sampai ada yang berciuman. Masyaallah. Semoga saja tidak demikian.
***
“Malam minggu nih,” Kata Rizal, sambil mendekati Aula di kantin.
Aula tersenyum manis di depan kedua sahabatnya.
“Memang kenapa?” Sambil menyeruput minuman segar dengan sedotan warna pink.
Rizal tidak langsung menjawab. Ia melirik ke arah Nayla dan Aisyah.
Ingin rasanya Rizal ngajak jalan pacar barunya itu.
Duduk berduaan juga belum pernah karena dua pengawal Aula selalu ada di dekatnya.
Pernah Rizal mengajak duduk di gazebo tetapi Aula menolak dengan alasan banyak setannya.
“Ih, kamu gimana si Aula, malam minggu itu waktunya jalan-jalan berdua? Kata Irma. Orang pacaran pasti menunggu saat-saat itu iya kan Riz?”
Rizal mengangguk membenarkan.
“O jadi kalau pacaran malam minggu jalan ya?’ tanya Aula.
Padahal tanpa dikasih tahu dia paham banget. Tapi pura – pura tidak tahu.
“Maksud Rizal pasti kamu akan diajak jalan malam minggu tuh,” kata Nayla ikut andil berbicara.
Rizal dengan sigap membaca situasi tersebut. Sayangnya mereka tidak tanggap akan situasi.
Harusnya mereka pergi dan membiarkan mereka berdua.
“Memang mau jalan ke mana?” Tanya Aula biar penasaran
“Ke Mall,”
“Gimana kalian ikut nggak?” tanya Aula menatap Aisyah dan Nayla.
Dan Rizal terbelalak. Kenapa harus mengajak mereka?
“Apa ngaak menganggu?” kata Nayla menyindir. Rahma yang berada di situ hanya tersenyum-senyum heran.
“Kok ngganggu? Ya nggak laah. Kita jalan ke toko buku cari novel Manusia Bumi yang lagi trend,” kata Aula lagi.
“Gimana, mau kan?”
Nayla dan Aisyah mengangguk dengan ragu.
Sementara Rizal hanya menghela nafas.
Ternyata memacari Aula tidak semudah yang ia bayangkan.
Selama ini cewek model apa saja dengan mudah ia ajak kencan.
Semua cewek di sekolah mengincar Rizal untuk menjadi pacarnya.
Tapi Aula tidak tergoda sama sekali. Untuk itu mengapa Rizal penasaran. Aula tidak tergoda. Ia cuek.
***
Berjalan satu bulan mereka pacaran. Hubungan Rizal dengan Aula pun semakin dekat.
Tapi anehnya, walaupun pacaran, tidak pernah duduk berduaan. Apalagi sampai pergi nonton bareng. Rizal mulai ragu.
Harus diterukan atau putus sampai di sini?
“Sayang, kamu lagi apa?” sapa Rizal lewat WA suatu malam.
Aula membalas beberap menit kemudian. “Kok nggak pake salam,”
“Oh, iya lupa.”
“Ya sudah, sekarang ulangi.”
“Kok gitu?”
“Cepetan.”
“Assalamualaikum”
“Waalaikumsalam, nah begitu dong,” kata Aula melaluui hp-nya.
“Ah, nggak, iseng saja,”
“Iseng?” sekarang kan sudah jam tujuh malam.
“Apa kamu ngaak tahu tuchh kalau jam segini waktu Isya sudah tiba. Di tempatku suara adzan sudah terdengar?” kata Aula.
Rizal bingung dan tidak bisa menjawab.
“Aku mau kamu ke masjid. Oh,iya nanti kalao ketemu Pak Oman, titip salam ya. Tolong sampaikan. Ini amanah. Kalau tidak disampaikan dosa lo,” kata Aula memaksa.
“Tapi”
“Waalaikumsalam,” balasan wa Aula pertanda ia tidak mau melanjutkan obrolannya.
Bergegaslah Rizal ke masjid. Ia melakukan apa yang diperintahkan Aula.
Pagi buta saat ayam jantan berkokok. Hp Rizal sudah berbunyi.
Dengan mata yang sedikit kabur karena baru bangun tidur dilihatnya hp tersebut.
Ternyata Aula membangunkan Rizal untuk shalat subuh.
“Aduh kenapa pagi banget sudah telp, Aula” kata Rizal kesal. “Ya kan aku disuruh kamu untuk telp ke kamu. Iya tapi ngaak pagi begini sayang”
Dengan berat hati ia mengambil air wudhu dan sarung berangkat ke masjid untuk shalat berjamaah.
***
Rizal menemui Aula saat istirahat tiba.
Ia menanyakan kepada Aula.
“Aula sebenarnya kita pacaran nggakk sih?” tanya Rizal.
Sambil duduk di sebelah Aula dan temannya.
Rizal memang sudah merasa bosan dengan cara Aula memperlakukannya.
Masa orang pacaran tidak pernah berdua, ngaak pernah jalan bareng, nggak pernah bergandengan tangan apalagi berciuman.
“Lo menurut kamu bagaimana?” tanya Aula balik bertanya.
“Menurutku aneh. Selama hampir satu bulan kita nggakk pernah berdua, nggak pernah jalan berdua apalagi ngomong mesra. Rasanya aneh, baru kali ini pacaran begini,” kata Rizal mencoba meyakinkan.
Aula tersenyum.
“Riz itulah aku. Aku memang ngak sama dengan mereka. Kalau memnag kamu mau sama aku, ya kamu harus menerima akau apa adanya.” Kata Aula.
Rizal menghela nafas mendengar jawaban Aula. Ternyata tidak gampang berpacaran dengena cewek berjilbab. Ia teringat ejekan teman-temannya.
“Percuma jangan cari pacar berjilab, nggak bakalan bisa, cari saja yang lain, yang lebih seksi,” kata Hanum memanas-manasi.
“Lagian elo aneh nyari pacar cewek berjilbab. Cewek berjilbab pasti anti pacaran. Mana mau dia sama lo?” kata Doni menngejek lagi.
Rizal kembali menarik nafas. Tiba –tiba ia berpikir. Sejak jadian sama Aula ia merasakan ada sesuatu yang tidak pernah ia rasakan berpacaran dengan cewek lain.
Tanpa disadari, ada perubahan hidup yang lebih berarti semenjak dengan Aula.
Rizal rajin ke masjid shalat berjamaah.
Ia bisa memegang amanah dan masih banyak lagi hal positif yang bisa mengubah hidup dia.
Akhirnya Rizal sadar ternyata hidup memang lebih indah.
“Aku seperti menemukan dunia baru dalam hidupku,” kata Rizal.
Rizal jujur dengan dirinya sendiri. Apakah ini pengaruh dari ceramahnya Aula? Entahlah.
Ada kepuasan di hati Aula. Aula telah membuat Rizal berubah sekarang.
Menyadarkan Rizal ke jalan yang benar adalah tujuan utamanya.
Walaupun dengan dalih menerima cinta Rizal. Mungkin dengan begitu Rizal akan giat melakukan ibadah sebagai bentuk Umatnya yang Taqwa.
Tanpa harus mengejar-ngejar cintanya yang semu.
Nayla dan Aisyah saling berpandangan mendengar pengakuan Rizal.
Sekarang mereka baru tahu bahwa pacaran model baru yang dikatakan Aula seperti ini.
Ternyata ada maksud di balik semua itu.
Buat Rizal, kini perubahannya membuat ia tak perpikir kepada Aula. Dia nggak peduli.
Apakah dirinya dan Aula berpacaran atau tidak.
Ia sudah tidak memikirkan semua itu.
Sekarang , Rizal berpikir pemilik cinta sejati. Mungkin benar kata teman-temannya, jangan cari cewek berjilbab.
Cewek berjilbab hanya mencintai Sang pemilik Cinta Sejati yaitu Allah.***
