17 April 2026 20:23
Cover Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang - Horisontal

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Jum’at sore Theo pulang.

Pak Anwar pukul dua siang sudah siap jemput di bandara.

Tepat pukul setengah tiga, pesawat Theo mendarat.

Tak perlu menunggu lama, Theo sudah muncul di pintu gerbang keluar.

Pak Anwar tergopoh menjemputnya.

Merebut koper kecil dari tangan Theo.

Lalu berjalan menuju ke mobil yang sudah terparkir di jalur penjemputan.

Theo membuntuti saja di belakang Pak Anwar.

BACA JUGA: Tausiyah di Khataman Quran HPN, Ketua MUI Jateng Ajak Wartawan jadi Penyuara Kebenaran

Sampai di tempat parkir mobil, pintu belakang mobil sudah terbuka.

Theo langsung masuk.

Pak Anwar menutup pintu belakang.

Setengah berlari memutari mobil, lalu masuk ke mobil.

Sebentar kemudian, mobil menggeleser bergerak meninggalkan bandara.

“Bagaimana kabarnya, Pak Anwar? Semua keluarga sehat?” tanya Theo memecah keheningan.

“Baik, Pak. Kami sehat-sehat semua.” jawab Pak Anwar, sambil melirik kaca spion di atas kepalanya, mencoba tersenyum kepada Theo yang duduk tenang di belakangnya.

“Syukurlah. Rumah juga tetap baik-baik saja, kan?” tanya Theo lagi.

“Baik, Pak. Bu Lita sekarang sibuk terus di pengolahan kayu. Mas Iben, juga.”

Pak Anwar mencoba bercerita sesuatu yang dianggapnya Theo bisa merasa senang.

“Oh, ya? Baguslah kalau Bu Lita senang kerja di sana.”

Theo menyambut cerita Pak Anwar.

Tapi, soal Iben, tak sepatah kata pun dia menanggapi atau memberi komentar.

Suasana sepi lagi.

BACA JUGA: Bahasa Panginyongan Banyumas Raya Warisan Majapahit

Theo diam.

Pak Anwar juga diam.

Sekarang konsentrasi penuh mengemudi.

Jalanan cukup padat pada jam sore begini.

Waktu karyawan pulan kantor.

Tak sampai satu jam, mobil sudah sampai ke rumah.

Pak Anwar membunyikan klakson, tanda minta dibukakan pintu utama untuk mobil masuk.

Pintu gerbang kayu yang kokoh itu pelan bergerak membuka.

Mobil pun pelan masuk halaman.

Pintu belakang mobil terbuka.

Theo keluar mobil, disambut Mbok Siti yang sudah berdiri menunggu di luar mobil.

“Selamat datang, Tuan. Lama Tuan tidak kondur.” sapa Mbok Siti, wajahnya tersenyum lebar.

“Iya, Mbok. Maklum sibuk dengan pekerjaan.” jawab Theo.

Theo melangkah menuju pintu depan yang sudah terbuka.

Dia masuk rumah.

Berdiri sejenak di Ruang Tamu.

BACA JUGA: Malaikat Mendoakan Orang yang Salat Subuh dan Ashar

Lalu meneruskan langkah ke Ruang Tengah atau Ruang Santai Keluarga.

Semua tidak ada yang berubah.

“Bu Lita belum pulang, Tuan. Biasanya paling cepat sampai rumah jam lima sore.”

Mbok Siti di belakangnya memberi laporan.

“Iya, mbok. Saya tahu. Dia sudah ngomong, kok.” jawab Theo.

“Oh…” Hanya itu yang keluar dari mulut Mbok Siti.

Telepon Theo berdering.

Theo lalu sibuk bicara dengan orang yang meneleponnya.

Sesekali terdengar Theo tertawa terbahak-bahak.

Pak Anwar masuk sambil menyeret koper kecil.

Diserahkannya koper itu kepada Mbok Siti.

Mbok Siti menerima koper dan langsung membawanya ke kamar utama, kamar Theo dan Lita.

“Aku jemput Bu Lita dan Mas Iben ke bawah. Kalau Tuan Theo cari aku, bilang begitu, ya?” Pak Anwar memberi pesan pada Mbok Siti.

“Beres… Sana berangkat. Sudah hampir jam pulang nih…” Mbok Siti seperti memberi perintah.

Tanpa menjawab lagi, Pak Anwar ngeloyor keluar pintu.

Sebentar kemudian terdengar suara mobil keluar halaman rumah.

Sementara itu, Theo masih seru berbicara dengan orang di teleponnya.

Menjelang gelap, mobil Pak Anwar masuk kembali ke halaman.

BACA JUGA:4 Permintaan Saat Sholat Tahajud yang Wajib Disebut, Nomor 3 Seringkali Orang Lupa

Lita yang duduk di kursi belakang turun lebih dahulu.

Baru kemudian Iben, yang duduk di kursi depan samping sopir, menyusul turun.

Wajah Lita tampak sedikit tegang.

Wajah Iben yang jelas tertekuk.

Sorot matanya dingin.

Iben di belakang mengikuti langkah Lita.

Rumah sepi.

Lita dan Iben masuk beriringan.

Ruangan dalam juga sepi.

Tanpa berkata, Iben melangkah cepat menuju tangga dan naik ke lantai dua, menuju kamarnya.

Lita melangkah pelan menuju kamarnya.
Rasa Cemas Berlebihan Picu OCD, Aliando Syarief lebih Ekstrem Rasakan Kondisi ini
BACA JUGA:

Pelan dibukanya pintu.

Daun pintu terkuak.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *