By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Reading: Yang Pahit dalam Hidup adalah Berharap kepada Manusia
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Us Today
  • Us Today
  • Us Today
  • World
  • World
  • World
  • Economy
  • Economy
  • Economy
  • Business
  • Business
  • Business
  • Industry
  • Industry
  • Industry
  • Politics
  • Politics
  • Politics
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
  • Advertise
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Gagasan

Yang Pahit dalam Hidup adalah Berharap kepada Manusia

Arifin
Last updated: 17 Februari 2022 12:45 12:45
By Arifin
7 Min Read
Share
Prof Ahmad Rofiq
Prof Ahmad Rofiq
SHARE

OPINIJATENG.COM – Alhamdulillah Allah ‘Azza wa Jalla masih terus memberi kita anugerah sehat afiat, dan yang lebih penting lagi, adalah anugerah iman, Islam, dan ihsan.

Kenikmatan yang tidak bisa dinilai dengan materi apapun.

Allah juga memberi usia panjang, dan kita masih menghirup udara segar di bulan Rajab, yang disebut oleh Rasulullah Saw sebagai syahru Allah atau “bulan Allah”.

Perjalanan hidup manusia laksana putaran roda, kadang di bawah, kadang di atas.

Yang jelas, dapat dipastikan, bahwa kenikmatan hidup pasti lebih banyak dari pada kepahitan hidup.

BACA JUGA : Pengukuhan Mukhsin Jamil Guru Besar Pertama dan Kaum Radikal Jihadis Mencemari Budaya Islam

Kemudahan jauh lebih banyak dari pada kesulitan yang dihadapi.

Untuk dapat menjalani hidup di dunia, yang menurut para orang tua kita, laksana “urip mung lirkadyo mampir ngumbe” artinya “hidup ini hanyalah sekedar mampir minum”.

Artinya, hidup ini tidak akan lama. Karena itu, kita perlu mengisinya dengan hidup yang baik, bermanfaat kepada orang lain, tidak menyakiti diri sendiri, dan terlebih lagi, tidak menyakiti orang lain.

Ada sosok Sahabat, yang pernah menjabat sebagai Khalifah ke-4, Khulafa’ Rasyidin, yakni ‘Ali bin Abi Thalib karramaLlah wajhahu.

BACA JUGA : Keuangan Syariah akan Jadi Primadona di Indonesia

Masa kecil ‘Ali yang merupakan saudara sepupu, berada dalam asuhan Nabi.

Abu Thalib memiliki banyak tanggungan. Oleh karena itu, Rasulullah Saw berkata kepada ‘Abbas ibn ‘Abdul Muththalib, seorang keturunan Bani Hasyim yang paling berkecukupan: “Wahai ‘Abbas, sesungguhnya saudaramu, Abu Thalib, banyak keluarganya, sedang orang-orang sedang ditimpa paceklik sebagaimana yang engkau ketahui.

Karenanya, berangkatlah bersama kami untuk meringankan beban keluarganya!

Aku mengambil seorang anaknya dan engkau juga mengambil seorang.

“Baiklah”, jawab ‘Abbas. Kemudian mereka berangkat hingga keduanya bertemu Abu Thalib, lalu berkata: “Kami ingin meringankan sebagian bebanmu hingga masa-masa sulit yang sedang menimpa manusia ini berlalu”.

Abu Thalib menjawab: “Kalau kalian berdua mau meninggalkan Aqil untukku, silakan kalian lakukan apa yang kalian inginkan”. Maka, Rasulullah Saw mengambil ‘Ali, sedangkan ‘Abbas mengambil Ja‘far dan memeliharanya.

BACA JUGA : Akupuntur Alternatif Wajah jadi Glowing, Buktikan!

‘Ali tetap berada dalam asuhan Rasulullah Saw. hingga beliau diutus sebagai nabi.

‘Ali pun segera mengikuti, mengakui, dan membenarkan kenabian beliau.

Demikian pula Ja‘far yang terus berada dalam asuhan ‘Abbas hingga memeluk Islam dan bisa mengurus diri sendiri.

Suatu malam, Allah Swt. membukakan pintu hati ‘Ali untuk masuk Islam.

Dia segera menemui Nabi dan berkata: “Bagaimanakah ajakan yang engkau tawarkan itu, Muhammad?”

Nabi menjawab, “Hendaklah engkau bersaksi bahwa tiada Tuhan kecuali Allah dan tidak ada sekutu bagiNya dan hendaklah engkau kafir terhadap patung Latta dan ‘Uzza.”

‘Ali pun menerima Islam, tetapi masih merahasiakan kepada ayahnya (Ibnu Katsir, Al-Bidayah wa al-Nihayah, Bab 3, hlm. 4).  

‘Ali bin Abi Thalib kw termasuk generasi muda awal yang menyatakan diri masuk Islam, bahkan Ketika ditanya oleh orang tuanya sendiri. Ibnu Hisyam dalam Sirah an-Nabawiyah, (Bab 1, hlm. 246) menyebutkan bahwa Abu Thalib berkata kepada ‘Ali: “Anakku, agama apa yang engkau anut ini?”

‘Ali menjawab, “Wahai Ayah, aku telah beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Aku telah membenarkan apa yang dibawanya. Aku telah mengikutinya dan shalat bersamanya”.

Mendengar itu, Abu Thalib berkata: “Wahai Anakku, Muhammad tidak akan mengajakmu, kecuali pada kebaikan. Maka ikutlah dengannya”.

Rasulullah saw menyebutkan: “Ana madinatu l-‘ilm wa ‘Aliyyun babuha” artinya “aku adalah kota ilmu dan ‘Ali pintunya”.

BACA JUGA : Ketua PW Muhammadiyah Jateng Raih Doktor Studi Islam

Tentu sangat banyak kisah dari kecemerlangan ‘Ali bin abi Thalib.

Pada renungan pendek ini, ada tiga pesan – dari ratusan pesan bijak – ‘Ali bin Abi Thalib: pertama, “Aku sudah pernah merasakan semua kepahitan dalam hidup dan yang paling pahit ialah berharap kepada manusia”.

Kedua, “Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang engkau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengucapkannya kepadamu”. 

Ketiga, “Lidah orang yang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya”. 

Kita dapat mengambil pelajaran, karena menurut nasihat bijak ‘Ali bin Abi Thalib, bahwa dari semua kepahitan hidup sudah beliau alami, ternyata yang paling pahit adalah berharap kepada manusia.

Karena itu, ikhlaskan dan lupakan perbuatan baikmu kepada orang lain, meskipun mungkin kamu merasa banyak berbuat baik kepadanya.

Rasulullah Saw juga berpesan: “Jika kamu ingin hidup berbahagia, maka lupakan perbuatan baikmu kepada siapapun, agar terus berusaha untuk berbuat kebaikan”.

“Janganlah engkau mengucapkan perkataan yang engkau sendiri tak suka mendengarnya jika orang lain mengucapkannya kepadamu” mengajarkan kepada kita, untuk senantiasa menjaga lisan kita. Sekiranya kita belum bisa berbicara yang baik yang membuat orang lain senang, lebih baik diamlah dan tahan untuk tidak berbicara.

Atau bahkan, jika kamu tidak bisa berbuat kebaikan kepada orang lain, jagalah untuk tidak membencinya.

“Kebencianmu akan menjadi penghalangmu masuk surga”.

Sabda Rasulullah saw: “Pintu–pintu surga dibuka pada hari Senin dan Kamis, lalu setiap hamba yang tidak menyekutukan sesuatu apa pun dengan Allah mendapat ampunan, kecuali lelaki yang antaranya dan saudaranya ada kebencian.

Dia lalu berfirman: “Tangguhkanlah kedua orang ini sampai mereka berdamai”.
Mari kita jaga lisan kita, supaya kita tidak termasuk manusia yang bodoh.

“Lidah orang yang berakal berada di belakang hatinya, sedangkan hati orang bodoh berada di belakang lidahnya”.

Jabatan, titipan harta, dan titipan ilmu, adalah amanah bagimu. Apabila kalian salah menggunakannya, maka bulan tidak mungkin, pada suatu saat, kamu akan menuai dan memanen hasilnya.   

Semoga Allah menjaga dan membimbing kita di jalan-Nya. Ihdina sh-shiratha l-mustaqim.
 
*) Prof. Dr. Ahmad Rofiq, MA., khadimul ilmi di UIN Walisongo Semarang, Ketua II YPKPI Masjid Raya Baiturrahman Semarang, Ketua Bidang Pendidikan Masjid Agung Jawa Tengah, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah MES Pusat, Anggota Dewan Penasehat IAEI Pusat, dan Ketua DPS Rumah Sakit Islam-Sultan Agung Semarang.***

You Might Also Like

Kurniati: Doa dan Dukungan Orang Tua menjadi Kunci Kesuksesan
33 Tahun LPPOM dan Budaya Halal di Indonesia
Bahaya Microsleep, Kenali Tandanya Supaya Selamat Saat Berkendara
Mencegah Sakit Mata yang Menular
RSI-Sultan Agung Banjarbaru Worldclass Waqf Hospital
TAGGED:Prof Ahmad Rofiq
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 115
Next Article Etika Berbicara Santun dengan Orang Lain, Terapkan
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Azzahra, Pramuka Garuda SMA Negeri 1 Banjarnegara: Sang Juara Eagle Scout Penegak Putri 2026,
Banjarnegara Jateng
Zulfikar Al Habsy, Sosok Pemuda Inspiratif Banjarnegara Lolos Paskibraka Provinsi Jawa Tengah
Pendidikan
Pramuka Garuda Penegak SMA Negeri 1 Banjarnegara Bersiap Diri dalam Lomba ESA Tingkat Provinsi Jawa Tengah
News
68 Peserta Resmi Ikuti Pradana Wiyata Permadani Banjarnegara Angkatan XIII
Banjarnegara
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?