17 April 2026 20:23
Cover Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang - Horisontal

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Siang hari itu, Lita dan Iben meluncur ke Ambarawa.

Bertemu dengan Key Person proyek pembangunan real estate yang masih muda.

Adi, seorang mahasiswa Teknik Sipil tahun terakhir, sedang menyelesaikan skripsi, tetapi sudah mampu menangani proyek pembangunan perumahan yang cukup besar di wilayah Ambarawa.

Proyek perumahan tentu membutuhkan kayu berbagai ukuran cukup banyak.

Tak salah kalau Lita mencoba “merayu” Adi untuk bekerjasama, sebagai pemasok kayu untuk semua proyeknya.

Pertemuan dengan Adi berjalan lancar.

BACA JUGA:Keuangan Syariah akan Jadi Primadona di Indonesia

Lita justru tidak banyak omong.

Diberikannya kesempatan lebih banyak kepada Iben untuk berbicara banyak dengan Adi.

Kebetulan Adi kuliahnya juga di Universitas Diponegoro, satu almamater dengan Iben.

Maka begitu bertemu, dua anak muda itu langsung akrab dan gayeng bicaranya.

Mereka langsung sapa dengan panggil nama.

Tanpa embel-embel apa pun.

“Okelah, Ben. Kita bisa partner. Nanti untuk proyek-proyekku di tempat lain, kita bisa bicara lanjut. Untuk yang di Ambarawa ini, pada prinsipnya harga penawaran sudah masuk range perhitungan kami. Tapi mosok untuk pelanggan pertama, tidak diberi sesuatu yang istimewa? Hehehe…”

Adi masih mencoba mengulur tali pancing.

Mendengar kata-kata Adi, Lita sangat paham.

Oleh karena itu, sebelum Iben menjawab, Lita sudah mendahului.

“Mas Adi. Terima kasih untuk sambutan Mas Adi yang ganteng ini. Soal pelanggan pertama harus diperlakukan istimewa, ya memang harus begitu. Kami tentu akan memberi harga khusus untuk order awal ini. Jangan khawatir, kami berikan tambahan diskon dua setengah persen untuk Mas Adi.”

BACA JUGA:Bulan Rajab Bulan Spesial untuk Beribadah

“Gitu ya, Bu? Oke deh. Prinsip saya bisa menerima penawaran Bu Lita.” jawab Adi sambil tersenyum lebar.

“Tuh, kan? Diskonnya saja sudah cukup untuk ongkos kawin, Di.” canda Iben, yang disambut tawa ngakak oleh Adi.

“Oke, Ben. Tunggu saja dua tiga hari ke depan. Aku hubungi kamu nanti. Konfirm deal untuk penawaranmu. Bagaimanapun aku harus diskusikan dengan Tim.” Adi menutup pertemuan dengan menyenangkan dua belah pihak.

“Oke, Di. I am waiting forward to your call.” sambut Iben. Menjabat tangan Adi dengan erat.

“Sure.” jawab Adi singkat.

Pertemuan siang itu berlangsung singkat.

Hasilnya sudah bisa diperkirakan.

Adi menyambut positif.

Tinggal menunggu waktu realisasi deal saja.

Dari Ambarawa, Lita dan Iben tidak langsung pulang ke Semarang melalui Bawen, tetapi naik menuju ke Bandungan.

Wilayah wisata pegunungan berhawa sejuk, yang banyak dikunjungi orang untuk sekedar ngadem di sana.

Hanya berjarak sekitar sepuluh kilometer dari Ambarawa.

Dan siang ini Lita dan Iben menuju ke sana.

BACA JUGA:Akupuntur Alternatif Wajah jadi Glowing, Buktikan!

“Apa acara ayah hari ini?” tanya Iben, sambil terus mengemudikan mobil.

“Katanya, akan sampai malam. Rakornas partai seperti itu tentu padat acaranya. Bahkan biasa sampai dini hari. Apalagi besok kan pembukaan. Aku tadi pagi ikut ke sana sebentar. Tapi karena ayah sangat sibuk, daripada aku ditinggal sendirian, gak ngerti mau berbuat apa, akhirnya aku minta ijin ke kantor pengolahan saja.”

Lita memberikan penjelasan rinci.

“Hm, partai politik busuk! Indonesia ini rusak karena partai politik. Isinya hanya manusia saling berebut kekuasaan. Kalau sudah berkuasa, lalu korupsi. Rakyat hanya dijadikan martyr bagi hegemoni mereka.” sungut Iben.

“Termasuk ayahmu, dong.” celetuk Lita sambil tersenyum

“Termasuk suamimu juga, dong.Hahaha…”

Kali ini Iben tak tahan menahan tawa.

Lita cemberut.

Diam.

BACA JUGA:SD Isriati 1 Semarang Lahirkan Calon Saintis Internasional

Iben juga diam.

Iben tetap konsentrasi mengemudikan mobil di jalanan yang terus menanjak.

Dipegangnya tangan Lita dengan tangan kirinya.

Lita masih diam.

Tetapi ketika tangan Iben mulai meremas lembut tangannya, Lita bereaksi.

Tangannya ikut meremas lembut tangan Iben.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *