18 April 2026 13:06
Prof Ahmad Rofiq 2

Prof Dr Ahmad Rofiq, MA. Ketua PW Dewan Masjid Indonesia Provinsi Jawa Tengah, Guru Besar Pascasarjana dan FSH UIN Walisongo Semarang, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua DPS Rumah Sakit Islam Sultan Agung Semarang, Anggota DPS BPRS Bina FInansia, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah MES Pusat, dan Anggota Dewan Penasehat IAEI Pusat.

OPINIJATENG.COM – Judul di atas adalah bagian dari nasihat sangat bijak, dari gurunya Syekh Ibnu ’Athaillah As-Sakandari, yakni Syeikh Abu l-Hasan Asy-Syadzili (1197-1258), yang bisa kita ambil pelajaran sangat berharga bagi perjalanan kita.

Utamanya bagi yang sudah berusia lebih setengah abad.

Berapa umur kita, diberi jatah oleh Allah, tidak ada yang tahu, itu rahasia-Nya.

Kapan ajal kita datang, tidak bisa diduga.

BACA JUGA:IBN dan Penguatan Kompetensi Akademik Digital Berbasis Moderasi Beragama

Mungkin sebagian orang ada yang mendapat sinyal tanda kematian itu mendekat, atau bahkan sampai harinya pun tahu.

Biasanya, orang-orang yang menjadi kekasih Allah, yang dapat menangkap isyarat itu.

Kehidupan dunia itu menyenangkan namun sekaligus menipu.

Ketika seseorang sudah terkena jebakan maut itu, kedudukan dan jabatan, maka ia tidak lagi memiliki kesadaran sedikitpun akan risikonya, justru sebaliknya, ia akan merasa semakin haus dan dahaga untuk bisa mendapatkannya secara terus dan terus.

Siapapun yang berpotensi menjadi penghalang, harus disingkirkannya.

BACA JUGA:S2 MPI IAIN Palangkaraya dan Keluarga Samawa, Prof Ahmad Rofiq: untuk Indonesia Emas 2045

Bahkan apapun dilakukan, meskipun terkadang, sesungguhnya itu ia sedang mendown-grade martabat dan marwahnya.

Apalagi dengan berbagai fasilitas yang menyertainya.

Pada bab 3 Risalah al-Amin, Syeikh Syadzili membahas “Buah dari Uzlah” yang secara singkat dijelaskan, yaitu

1). Tersingkapnya tabir; 2). Turunnya rahmat; 3). Terwujudnya mahabbah; dan 4). Lisan yang jujur dalam berbicara.

Syeikh Syadzili merujuk Firman Allah: “Maka Ketika dia (Ibrahim) sudah menjauhkan diri dari mereka dan dari apa yang mereka sembah selain Allah, Kami anugerahkan kepadanya Ishaq dan Yaqub. Dan masing-masing Kami angkat menjadi nabi” (QS. Maryam (19): 49).

BACA JUGA: Pengurus Jam’iyyatul Walidin Al Azhar Kalibanteng Semarang Dilantik, Sri Wahyuni Ketuanya

Apa itu uzlah dan bagaimana caranya, para ulama berbeda-beda menjabarkannya.

Menurut Imam Al-Ghazali (1058-1111 M/450-505 H), uzlah diartikan dengan pengasingan diri atau menjauhkan diri dari masyarakat untuk mendekatkan diri kepada Allah swt.
Uzlah dalam dunia tasawuf merupakan salah satu amalan yang banyak dilakukan oleh para sufi.

Karena jalan dan praktik tasawuf atau kesufian, menurut  Al-Ghazali, harus dilalui dengan ‘uzlah (menyendiri), khalwat (menyepi),  riyadhah  (olah jiwa), dan mujahadah (sungguh-sungguh) demi memperbaiki hati dan akhlaq agar selalu ingat Allah swt, sehingga dapat merasakan (dzauq) hasil yang dilakukan.

Suatu hari, Imam al-Ghazali dilanda keresahan dan kebingungan yang terasa berat.

BACA JUGA:Komitmen BWI, DMI, dan Baznas Jateng dalam Percepatan Sertifikasi Tanah Masjid

Dalam dialog dirinya sendiri mengatakan: “Selama ini, aku sudah banyak sekali menulis kitab, mengajarkan ilmu, dan melayani umat melalui pendidikan yang tujuannya hanya untuk mendapatkan pahala dari Allah, namun Ketika diangkat menjadi pimpinan Universitas Nidzhamiyah oleh raja al-Wazir Nidzam al-Mulk kok jadi begini (merasa tidak nyaman). (Thabaqah as-Syafiiyah).

Setelah mengalami kegundahan itu, al-Ghazali mengambil langkah uzlah dan khalwat. Tujuannya, menyucikan sifat-sifat tercela menuju kebeningan hati. Dia sadar, selama menjadi idola dan orang yang terpandang, maka kedudukan, jabatan, dan kemewahan akan menjadi orientasi hidupnya.

Hampir sepuluh tahun uzlah, al-Ghazali merasakan sesuatu hal yang baru saat kembali dari uzlah ke Naisaburi, menjadi tenaga pengajar. Dalam uzlah beliau membawa istrinya serta anak-anaknya untuk meninggalkan hal-hal yang bersifat duniawi dan focus beribadah kepada Allah SWT.

BACA JUGA:Ini Kata Syeh Ubaidillah: Ulama Indonesia Tersohor Kealiman dan Keulamaannya

Dalam kitab al-Munqidz min adl-Dlalal, Al-Ghazali menjelaskan, “…dalam proses uzlahnya, ia merasakan ada hal baru yang tidak ia rasakan ketika masih di Baghdad. Jiwanya tenang, dan ia tidak lagi mencari kedudukan, gelar, harta, dan pengaruhnya. Dirinya bersandar pada kalimat laa haula wa laa quwwata illa billah. Aku tidak berdaya. Dialah yang menggerakkan jiwa dan ragaku”. Selama pengasingan, Al-Ghazali menulis Minhaj al-‘Abidin dan karya magnum opus Ihya’ al-‘Ulum al-Din.

Syeikh Hasan Syadzili pada Bab 4 mengingatkan dalam bab “Kegagalan dalam Uzlah”.

Bagi orang awam, kegagalan uzlah, ada empat: ketergantungan jiwa pada makhluk, kecenderungan hati pada orientasi tertentu dalam berusaha, akal merasa puas atas apa yang diperoleh, dan muncul kekhawatiran terhadap musuh, yang akibatnya menjauhkan dari tujuan utama. 

Sementara bagi orang-orang khusus, juga ada empat: selalu merasa waswas, hati – dan fikiran – Kembali sibuk dengan urusan dunia, membatasi waktu (untuk uzlah), dan seolah mendengar bisikan-bisikan ilahi yang dirasakan melalui pancaindra (h. 15).

BACA JUGA:Jangan Pandang Sebelah Mata Supir Truk, Berharap Polisi Usut Tuntas Kecelakaan di Bekasi

Syekh Syadzili mengingatkan, kembalilah kepada perjanjian dengan Allah.

“Aku telah berjanji di hadapan Allah” dan “Jika Allah berkehendak maka terjadi, dan ketika Allah belum berkehendak maka tidak terjadi”. Karena itu, “tenggelamkan dunia di dalam lautan tauhid sebelum dunia menenggelamkanmu” (h. 16). Jika engkau menjadi hamba yang sebenarnya, Dia akan menjadi Tuhan bagimu. Jika Ia menjadi Tuhan bagimu atas Ridha-Nya, engkau adalah hamba-Nya, dan Ia tidak akan meninggalkanmu dari jalan haqiqat, impian, dan harapanmu. Mintalah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah (QS. Al-Baqarah (2): 153).

Hadana Allah wa iyyakum ila shirathin mustaqim. Allah a’lam bi sh-shawab.

*)Prof Dr H Ahmad Rofiq MA, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo, Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam-Sultan Agung (RSI-SA) Semarang, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat, dan Ketua BPRS Kedung Arto Semarang.***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *