18 April 2026 02:39

IBN dan Penguatan Kompetensi Akademik Digital Berbasis Moderasi Beragama

0
Prof Ahmad Rofiq di IBN Tegal

Prof Ahmad Rofiq, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo Semarang saat memberi materi kuliah perdana di Kampus Institut (Agama Islam) Bakti Negara (IBN) Kota Slawi Tegal, Sabtu 10 September 2022.

OPINIJATENG.COM – Sabtu, 10 September 2022, saya mendapat kehormatan untuk memberikan kuliah perdana Institut (Agama Islam) Bakti Negara (IBN) di Kampus yang Asri di Kota Slawi Tegal.

Tidak kurang dari 200 mahasiswa baru, pimpinan, dan para dosen IBN dengan antusias mengikuti dengan aktif, yang juga dilakukan dengan live-streaming melalui YouTube.

Tema yang diusung adalah “Penguatan Kompetensi Akademik Mahasiswa pada Infrastruktur Sosial dan Informatika Berbasis Moderasi Beragama”.

BACA JUGA:Jelajah Pendidik Merah Putih Nasima Tandai Kebersamaan dan Keakraban Mengemban Tugas Pendidikan

Mahasiswa baru yang merupakan generasi millennial, adalah agen perubah (agent of change) yang dapat dipastikan akan menjadi para pemimpin bangsa ini.

Selain itu, mahasiswa termasuk orang-orang yang terpilih secara alamiah (sunnatuLlah), karena lebih banyak lulusan sekolah menengah yang tidak bisa melanjutkan kuliah. 

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis, jumlah mahasiswa di Indonesia pada 2021, sebanyak 8.956.184 orang.

BACA JUGA:Teh Herbal Serbuk Nanopartikel, Prof Sudarmin: Bisnis Menjanjikan Bisa Jadi Pematik Ekonomi Masyarakat

Jumlah itu naik 4,1% dibanding tahun sebelumnya sebanyak 8.603.441 orang.

Secara rinci, mahasiswa yang berasal dari perguruan tinggi di bawah Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbud Ristek) sebanyak 7,67 juta orang.

Sementara, mahasiswa dari kampus di bawah Kementerian Agama sebanyak 1,29 juta orang.

Bila dilihat status kampusnya, sebanyak 4,02 juta mahasiwa berkuliah di perguruan tinggi negeri (PTN).

Sementara, ada 4,93 juta mahasiswa di perguruan tinggi swasta (PTS) (https://dataindonesia.id/2021).

BACA JUGA: Prof Sudarmin Ajak Para Guru Mapel Kimia Melanjutkan S2 Prodi Magister Pendidikan di Unnes

Laman republika.co.id merilis, bahwa: Generasi milenial diprediksi menjadi populasi terbesar di Indonesia beberapa tahun mendatang. Pada 2020, jumlah usia produktif diperkirakan akan melonjak 50 hingga 60 persen. Kini, jumlah usia produktif 15 hingga 35 tahun sudah mencapai 40 persen” (Yoris Sebastian, OMG Consulting).

Karena itu, upaya atau ikhtiar serius terutama dari kampus IBN Tegal, untuk membekali diri terutama kompetensi akademik para mahasiswa pada infrastruktur sosial dan informatika, berbasis moderasi beragama.

Mengapa mahasiswa baru harus melek dunia digital? Kompas.com merilis, pengguna internet di Indonesia pada awal 2022 ini dilaporkan mencapai 210 juta jiwa.

Dari jumlah ini, mayoritas pengguna mengakses internet lewat ponsel untuk membuka media sosial.

BACA JUGA:S2 MPI IAIN Palangkaraya dan Keluarga Samawa, Prof Ahmad Rofiq: untuk Indonesia Emas 2045

Hal tersebut terungkap dalam laporan terbaru bertajuk “Profil Internet Indonesia 2022” yang dirilis oleh Asosiasi Penyedia Jasa Internet Indonesia (APJII) baru-baru ini.

Dalam laporan tersebut, APJII mengumpulkan data melalui survei dan wawancara kepada 7.568 responden (berusia 13-55 ke atas) sejak 11 Januari 2022 hingga 24 Februari 2022 (10/6/2022).

APJII mencatat, “Profil Internet Indonesia 2022” APJII, Jumat (10/6/2022) untuk: (1).  Mengakses informasi/berita (92,21 persen); (2). Bekerja atau bersekolah dari rumah (90,21 persen). (3). Akses layanan publik (84,9 persen); (4). Menggunakan layanan e-mail (80,7 persen); (5). Melakukan transaksi online (79 persen): (6). Mengakses konten hiburan (77,25 persen); (7). Mengakses transportasi online (76,47 persen); dan (8). Mengakses layanan keuangan (72,32 persen).

Selain itu, Prof Nasaruddin Umar, terkait penyebaran radikalisme melalui internet, menyebutkan, sebanyak 80 persen situs yang memuat konten tentang Islam menyebarkan paham radikal.

BACA JUGA:DMI Semarang Siapkan Anak Cintai Masjid, Prof Ahmad Rofiq: Menarik dan Urgent

Anehnya, “80 persen website Islam dikuasai kelompok-kelompok radikal. Hanya 20 persen yang berada di bawah Islam yang dikenal moderat. Itu pun juga paling malas melayani umat, dibandingkan yang 80 persen,” tutur Nasaruddin di Kantor Nasaruddin Umar Office (NUO), Cilandak, Jakarta Selatan, Sabtu 26 Januari 2019.

Yang 80 persen situs yang dikelola kelompok radikal lebih aktif berinteraksi dengan para pengakses alias netizen.

Setiap 10 sampai 30 menit ada yang bertanya di web, maka langsung dijawab oleh yang dari Inggris, Kanada.

Sementara yang 20 persen itu satu bulan bertanya di web, enggak ada yang jawab-jawab.

BACA JUGA:Jangan Pandang Sebelah Mata Supir Truk, Berharap Polisi Usut Tuntas Kecelakaan di Bekasi

Jadi ada kelompok yang memanjakan umat, dan ada yang nyuekin umat.

Mereka yang merasa “dimanjakan” segera menjadi follower mereka.

Ungkapan senada dikatakan Gus Mus, “Saat ini teknologi informasi di media online dan media sosial justru dikuasai oleh kelompok-kelompok yang tak memahami dan menguasai agama secara mendalam. “Itu Masya Allah. Jadinya kacau semua.”

Begitu orang membuka mesin pencari di Internet seperti Google mengenai tanya jawab tentang hukum tertentu, maka yang pertama sekali muncul keluar justru dari orang-orang yang tidak jelas. Kata dia, banyak sekali situs-situs berisi agama Islam yang tidak memahami agama secara mendalam. “Dia tidak dunung (paham), tapi dia menguasai IT (informasi dan teknologi)”.

BACA JUGA:Siswa SMP Isriati Semarang Juara di World International Youth Invention and Innovation Award 2022

Prof Suyitno, mengutip hasil penelitian INFID bersama GUSDURian menemukan bahwa sebesar 12.8 % pemuda setuju dengan kelompok agama yang menggunakan kekerasan.
Penelitian pada 1.200 responden di enam kota besar: Bandung, Makassar, Pontianak, Surabaya, Surakarta, dan Yogyakarta, selama Agustus-Oktober 2016. Responden yang diambil rentan usia 15-30 tahun.

Era digital dan society 5.0, menyadarkan kita, bahwa IT adalah instrument, karena itu pasti di dalamnya ada sisi positif dan negatifnya.

Semua tergantung penggunanya. Sama dengan ilmu. Menurut Al-Ghazaly, ilmu itu bisa putih atau hitam, tergantung siapa yang memanfaatkannya.

Gadget atau smartphone, itu bisa sangat bermanfaat untuk bisa mengakses informasi, jualan online, dan kebutuhan manfaat lainnya, namun juga sebaliknya bisa menjadi “mesin” menghancur keluarga dan bahkan masa depan.

BACA JUGA:Jelajah Pendidik Merah Putih Nasima Tandai Kebersamaan dan Keakraban Mengemban Tugas Pendidikan

Berkembanganya faham radikal, terorisme, dan fundamentalisme, juga banyak dilakukan melalui jaringan digital. 

Di sinilah peran penting Mahasiswa sebagai agen perubahan, yang nantinya menjadi pemimpin bangsa ini, harus mulai sekarang, menguatkan kompetensi akademik dan literasi infrastruktur sosial dan informatika berbasis moderasi.

Sudah barang tentu, dibutuhkan kompetensi akademik berbasis moderasi beragama yang memadai, agar mampu memberi konten dan warna-warna yang kompatibel dengan Islam Wasathiyah dan Pancasila dengan NKRI.

Tujuannya, agar mampu dan rajin mengisi ruang-ruang digital secara massif, agar persebaran informasi dan konten akademik berbasis moderasi beragama, bisa mendominasi alam pikiran digital di negeri ini.

Karena itu perlu modal dasar kompetensi akademik ilmu keagamaan, sosial, budaya, politik, dan media, berbasis moderasi beragama.

Karena masyarakat yang makin cerdas dan pintar, maka sangat membutuhkan jawaban-jawaban cerdas, bijak, dan komprehensif. 

Selamat dan sukses IBN Tegal, semoga mahasiswa IBN siap menjadi generasi masa depan yang hebat dan Tangguh, berintegritas dan berakhlakul karimah. Allah a’lam bi sh-shawab.
 
*) Prof Dr H Ahmad Rofiq MA, Guru Besar Hukum Islam Pascasarjana UIN Walisongo, Ketua PW Dewan Masjid Indonesia (DMI) Provinsi Jawa Tengah, Direktur LPPOM-MUI Jawa Tengah, Ketua Dewan Pengawas Syariah (DPS) Rumah Sakit Islam-Sultan Agung (RSI-SA) Semarang, Koordinator Wilayah Indonesia Tengah Masyarakat Ekonomi Syariah (MES) Pusat, Anggota Dewan Penasehat Ikatan Ahli Ekonomi Islam Indonesia (IAEI) Pusat, dan Ketua BPRS Kedung Arto Semarang.***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *