OPINIJATENG.COM – Mendidik anak bukan hanya soal memberikan kasih sayang, memenuhi kebutuhan sehari-hari, atau memastikan mereka mendapatkan pendidikan terbaik. Lebih dari itu, orang tua juga perlu membangun kesepakatan agar anak memahami aturan dan batasan yang berlaku di rumah.
Namun, dalam praktiknya, perbedaan cara mendidik anak kerap menjadi tantangan tersendiri bagi pasangan. Ayah mungkin menerapkan aturan yang tegas, sementara ibu cenderung memberikan kelonggaran. Situasi sebaliknya juga bisa terjadi.
Perbedaan tersebut sebenarnya wajar. Setiap orang tua memiliki pengalaman masa kecil, kebiasaan, dan cara pandang yang tidak selalu sama. Persoalan muncul ketika ayah dan ibu saling bertentangan di hadapan anak, terutama saat salah satu pihak membatalkan keputusan yang sudah dibuat pasangannya.
Misalnya, ayah melarang anak bermain ponsel sebelum menyelesaikan tugas sekolah. Namun, ibu justru memberikan izin karena merasa kasihan melihat anak kelelahan. Jika situasi seperti ini terus berulang tanpa komunikasi yang jelas, anak berpotensi kesulitan memahami aturan yang sebenarnya berlaku.
Lantas, bagaimana cara membangun kekompakan dalam pola asuh tanpa harus membuat ayah dan ibu selalu memiliki pendapat yang sama?
Bukan Harus Selalu Sependapat, Orang Tua Perlu Punya Kesepakatan
Dalam pengasuhan anak, kekompakan tidak berarti ayah dan ibu harus memiliki karakter yang identik. Ayah boleh lebih tegas, sedangkan ibu lebih lembut, selama keduanya tetap memiliki tujuan yang sejalan.
Mengutip pemberitaan Kompas.com pada 14 Juli 2025, psikolog anak sekaligus Co-founder BN Montessori, Pritta Tyas, M.Psi., menekankan pentingnya komunikasi terbuka ketika pasangan menghadapi perbedaan pola asuh.
Perbedaan tersebut perlu dibicarakan untuk memahami latar belakang masing-masing, bukan dijadikan alasan untuk menentukan siapa yang paling benar.
Sebagai contoh, orang tua yang dibesarkan dengan banyak aturan mungkin terbiasa menerapkan kedisiplinan ketat. Sementara itu, pasangan yang memiliki pengalaman pengasuhan lebih longgar bisa merasa bahwa anak perlu diberi kebebasan lebih besar.
Keduanya dapat memiliki niat baik. Karena itu, langkah yang lebih tepat adalah mendiskusikan nilai-nilai yang ingin ditanamkan kepada anak, kemudian menentukan aturan yang bisa diterapkan bersama.
4 Kebiasaan yang Perlu Dihindari agar Anak Tidak Bingung
1. Membatalkan keputusan pasangan di depan anak
Salah satu kebiasaan yang perlu dihindari adalah langsung membatalkan keputusan pasangan ketika anak mengadu atau meminta izin kepada orang tua lainnya.
Contohnya, ayah sudah meminta anak berhenti bermain gim karena waktu tidur hampir tiba. Namun, anak kemudian meminta izin kepada ibu dan mendapatkan kelonggaran tanpa pembicaraan terlebih dahulu.
Jika terjadi berulang kali, anak bisa belajar bahwa aturan dapat dihindari dengan meminta izin kepada orang tua yang lebih mudah memberikan persetujuan.
Solusinya, orang tua sebaiknya tidak langsung mengubah keputusan pasangan di hadapan anak. Apabila ada perbedaan pendapat, bicarakan terlebih dahulu secara pribadi, kemudian sampaikan keputusan bersama dengan bahasa yang mudah dipahami anak.
2. Menggunakan pengalaman masa kecil sebagai satu-satunya patokan
Kalimat seperti “Dulu Ayah juga begitu dan tidak apa-apa” atau “Ibu dulu tidak pernah diperlakukan seperti itu” sering muncul dalam perdebatan mengenai pengasuhan.
Padahal, pengalaman masa kecil tidak selalu bisa dijadikan patokan mutlak untuk mendidik anak pada masa sekarang.
Orang tua perlu mengevaluasi kebiasaan yang diwarisi dari keluarga masing-masing. Pertimbangkan apakah aturan tersebut masih relevan, membantu perkembangan anak, atau justru perlu diperbaiki.
Dengan begitu, pola asuh tidak hanya menjadi pengulangan kebiasaan generasi sebelumnya, tetapi berkembang berdasarkan kebutuhan anak dan nilai yang ingin dibangun dalam keluarga.
3. Berdebat mengenai pola asuh di hadapan anak
Perbedaan pendapat sebaiknya tidak berubah menjadi pertengkaran terbuka yang menempatkan anak di tengah konflik ayah dan ibu.
Ketika orang tua saling menyalahkan, anak bisa merasa harus memilih salah satu pihak. Kondisi ini juga berpotensi membuat anak merasa bersalah karena menganggap dirinya sebagai penyebab pertengkaran.
Jika terjadi perbedaan pendapat, orang tua dapat menunda pembahasan sampai situasi lebih tenang. Setelah itu, cari solusi yang mempertimbangkan kebutuhan anak sekaligus kemampuan orang tua dalam menerapkan aturan.
Perlu diingat, anak tidak harus menyaksikan semua perdebatan orang tuanya untuk belajar menyelesaikan masalah. Mereka justru dapat belajar dari cara ayah dan ibu berdiskusi dengan tenang, saling mendengarkan, dan memperbaiki keputusan.
4. Membuat aturan tanpa membedakan hal penting dan hal fleksibel
Tidak semua aturan di rumah harus diterapkan dengan tingkat ketegasan yang sama.
Ada hal-hal yang perlu dijaga secara konsisten, seperti keselamatan anak, kebiasaan tidur yang sehat, dan batas penggunaan perangkat digital sesuai usia. Namun, ada pula keputusan yang masih bisa dinegosiasikan, misalnya memilih kegiatan akhir pekan atau menentukan camilan sesekali.
Orang tua perlu membedakan aturan yang menjadi prinsip utama keluarga dan hal-hal yang dapat disesuaikan dengan situasi.
Sebagai contoh, anak mungkin mendapatkan tambahan waktu bermain pada akhir pekan setelah menyelesaikan tanggung jawabnya. Kelonggaran tersebut tidak harus dianggap sebagai pelanggaran aturan selama ayah dan ibu sudah menyepakatinya.
Cara ini membantu anak memahami bahwa disiplin bukan berarti semua keinginan dilarang, melainkan belajar mengenali batasan sekaligus bertanggung jawab atas pilihannya.
Mulai dari Obrolan Sederhana, Bukan Saling Menyalahkan
Membangun pola asuh yang kompak tidak harus dimulai dengan diskusi panjang atau aturan yang rumit. Pasangan dapat meluangkan waktu untuk membicarakan persoalan pengasuhan yang paling sering memicu perbedaan.
Misalnya, bagaimana menyikapi anak yang sulit tidur, penggunaan ponsel, kebiasaan belajar, atau perilaku anak ketika sedang marah.
Agar pembicaraan berjalan lebih sehat, masing-masing pihak perlu mendapat kesempatan untuk menjelaskan alasannya. Hindari menganggap pasangan sebagai orang tua yang buruk hanya karena memiliki pendekatan berbeda.
Setelah itu, tentukan beberapa kesepakatan utama yang realistis untuk diterapkan. Orang tua juga perlu mengevaluasi aturan tersebut secara berkala karena kebutuhan anak dapat berubah seiring bertambahnya usia.
Jika perbedaan pola asuh terus memicu konflik berkepanjangan dan sulit diselesaikan secara mandiri, berkonsultasi dengan psikolog keluarga dapat menjadi salah satu pilihan.
Pada akhirnya, anak tidak membutuhkan ayah dan ibu yang selalu sepakat dalam segala hal. Mereka membutuhkan orang tua yang mampu menyelesaikan perbedaan secara dewasa, memberikan batasan yang jelas, dan tetap menghadirkan rasa aman di rumah.
Kekompakan dalam pengasuhan bukan tentang siapa yang paling berkuasa menentukan aturan, melainkan bagaimana ayah dan ibu bekerja sama demi tumbuh kembang anak.



