18 April 2026 02:52
Cover Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang - Horisontal

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.com menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Iben meraih buku di atas meja.

Setengah berlari ke kamarnya.

Keluar sudah memakai Jaket.

Sebentar kemudian, terdengar mesin Vespa menggerung keras keluar halaman rumah.

Lita yang sedang terengah-engah mendaki puncak kemesraan bersama Theo, mendadak seperti kaget mendengar deru mesin Vespa di luar.
Gerung mesin Vespa itu menggetarkan batuan tebing yang sedang didaki kakinya.

Batuan tebing itu mendadak jadi begitu rapuh.

Batu-batu itu begitu rumpil, mudah patah dan pecah.

Kakinya hilang pijakan.

Tubuhnya limbung.

Dia meluncur, jatuh terguling ke dasar lembah.

Berdebam.

BACA JUGA:Nama Penulis Skenario Henricus Pria Penyalin Cahaya Dihapus, usai Dugaan Pelecehan Seksual

Tubuhnya terasa sakit, tulang-tulangnya terasa remuk.

Puncak yang tinggal selangkah lagi terengkuh, seketika lepas melesat jauh dari sentuhnya.

Tubuhnya tiba-tiba kejang.

Sedang Theo, mengira Lita kejang karena kakinya sudah hampir menginjak puncak.

Theo semakin cepat menyeret Lita dengan tenaga penuh.

Theo merasa mendapatkan kemenangan dengan meraih puncak perjuangan.

Sedang Lita hanya diam membisu.

Tubuhnya beku kaku.

Terkapar di dasar lembah yang dingin, keras, sekaligus menyakitkan.

“Ta, Kamu kenapa, kok diam saja?” tanya Theo sambil mengusap lembut rambut kepalanya.

“Oh, tidak apa-apa. Capek…” jawab Lita sambil memalingkan wajahnya ke arah Theo. Senyum tipis menghiasi bibirnya. Getir.

BACA JUGA:Bimbingan Pranikah Diwajibkan, Usul BP4 Jawa Tengah

Iben memacu motor Vespanya ke Simpanglima, pusat kegiatan warga Kota Semarang.

Simpanglima selalu memberikan daya tarik tersendiri di malam hari.

Lampu-lampu hias warna warni di sana sini.

Di setiap sudut lapangan.

Area pedestrian sisi luar lapangan yang cukup luas untuk pejalan kaki.

Di sana juga tersedia mobil-mobilan dan sepeda tandem onthel yang berhias lampu warna warni, disewakan dengan harga dua tiga puluh ribu rupiah, untuk dionthel berkeliling lapangan.

Sementara di tengah lapangan tersedia ruang terbuka yang cukup luas.

Orang bisa menikmati suasana dengan duduk-duduk santai atau menggelar tikar, ada juga yang menyewakan, bahkan sampai pagi hari, kalau mau.

Bila merasa lapar atau haus, di sekeliling lapangan, di bagian luar jalan yang melingkari lapangan, tersedia bermacam warung makan dengan aneka menu khas nusantara.

Serba lengkap.

Bila malas keluar lapangan, di dalam lapangan pun ada pedagang makanan keliling yang siap setiap saat melayani dengan wajah-wajah yang ramah.

Satu hal yang perlu dicatat, harga makanan di sekitar Simpanglima sangatlah murah.

Harga yang benar-benar sesuai dengan isi dompet rakyat.

Berbeda dengan yang ada di Malioboro, Yogyakarta.

BACA JUGA: Ikuti IBL 2022, Gading Marten Temui Ganjar Pranowo untuk Minta Dukungannya

Harga-harga makanan di sana beberapa waktu lalu sempat membuat Sri Sultan, penguasa Yogya, uring-uringan berang.

Banyak wisatawan pendatang yang merasa jadi korban pemerasan setelah makan di warung-warung sepanjang Malioboro.

Harga-harga mencekik leher.

Tidak sepadan antara harga yang harus dibayar dengan jumlah dan kualitas makanan yang telah disantap.

Iben duduk termenung di tengah lapangan.

Otaknya buntu.

Perasaannya bundet ruwet.

Beberapa hari belakangan ini dia mulai merasa senang dan nyaman berada di rumah.

Dia mulai bisa menerima Lita berada di rumah bersamanya.

Di dekat Lita sekarang dia merasa seperti dekat dengan ibunya.

Lita hadir seperti pengganti ketiadaan ibunya.

Dan hari ini ayahnya datang pulang ke rumah.

Dan Lita sekarang bersama Theo.

Dia tidak bisa lagi berdekatan dan berbicara atau bercerita tentang apa saja.

Lita membiarkan dirinya sepi sendiri.

Iben geram.

Tangannya terkepal kuat.

Ingin dia berteriak sekeras-kerasnya di tengah lapangan.

BACA JUGA:Gugatan kepada Rais Aam PBNU Dicabut: Persoalan Hukum Selesai, Persoalan Organisasi Kewenangan PBNU

Tapi itu tidak mungkin dilakukannya.

Dia bisa dianggap orang gila oleh orang-orang di sekelilingnya.

Sebagai gantinya, tanpa sadar jari-jari tangannya mencabuti rumput yang ada di sekitar tempat duduknya.

Rumput-rumput yang tercerabut sampai ke akar-akarnya itu diremas-remasnya dengan kuat, dipelintir, dan dikepal-kepal menjadi bulatan kecil dan dilempar-lemparkan ke segala arah.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *