Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 96
Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

OPINI JATENG –
Sebuah perusahaan pemasok kayu gelondongan yang cukup besar, terletak di pinggir Sungai Barito.
Mereka disambut langsung oleh pemiliknya, Pak Syamsudin.
Walau namanya Syamsudin, karena kulitnya putih, matanya agak sipit, oleh karyawan, kolega, dan partner dagangnya, dipanggil Koh Syam.
Tapi Pak Syamsudin senang saja dipanggil Koh Syam.
Jadilah Koh Syam nama populer.
“Wah, selamat datang di Bumi Kalimantan, Bu Lita. Senang sekali saya dikunjungi Bu Lita. Isteri tokoh politik yang hebat. Bagaimana kabar Pak Theo?” Koh Syam langsung memberondong Lita dengan sapaan yang hangat.
“Kabar baik, Koh Syam. Bapak juga sehat-sehat saja. Biasa. Terus saja sibuk. Kayaknya ngurus negara ini tak kan ada habis-habisnya.” Seloroh Lita, menanggapi sapaan Koh Syam.
“Hahaha, iya betul, Bu. Ngurus negara tak kan pernah ada habisnya. Mendingan ngurus kayu saja. Seperti saya,” kembali Koh Syam bercanda dengan hangat.
“Ini mesti putra Pak Theo ya. Sekilas melihat sudah bisa ditebak. Wajahnya kayak foto copy beliau saja.”
Berkata begitu, Koh Syam menepuk dan merangkul bahu Iben.
Iben hanya tertawa kecil.
Sedang Lita juga tersenyum kecil menanggapi seloroh Koh Syam.
“Mas, kurang sehat ya. Badannya kok agak panas.” Kata Koh Syam setelah memegang tangan Iben.
BACA JUGA:BKKBN Gandeng BP4 Jateng Turunkan Kasus Stunting
“Iya, Koh. Katanya kepalanya pusing badannya meriang.”
Lita yang menjawab mewakili Iben.
“Oh, tak apa. Nanti aku kasih batu Martapura, dipakai langsung hilang itu pusing dan meriang.” kata Koh Syam lagi, dengan menepuk-nepuk pundak Iben.
“Kok hanya Iben yang diberi, Koh. Aku juga mau lho, ya. Hehehe…” Lita jadi ikut-ikutan berseloroh.
“Oh, beres. Beres Bu. Untuk Bu Lita, aku pilihkan yang paling spesial, nanti. Hehehe…” Koh Syam jadi makin bersemangat.
BACA JUGA:BKKBN Gandeng BP4 Jateng Turunkan Kasus Stunting
Begitulah Lita.
Bila bertemu dengan pelanggan bisa membangun komunikasi yang hangat dan menyenangkan.
Ketika bertemu, justru lebih banyak ngobrol ringan tentang hal-hal sepele.
Yang penting justru membangun kehangatan dalam menjalin hubungan personal.
Persoalan inti yang jadi tujuan utama pembicaraan, malah terkadang hanya disinggung selintas di akhir pertemuan.
Dan semuanya selesai dengan baik.
Menyenangkan kedua belah pihak.
“Koh Syam, itu Pak Ali cerita ke saya. Sekarang kok Koh Syam agak rewel menyiapkan pesanan saya. Ada apa to sebenarnya? Mbok ya kalau ada masalah, saya diberitahu. Kalau Koh Syam gak ngomong, bagaimana saya tahu si Koh ada masalah? Beberapa kiriman terakhir kemarin, kok saya diberi banyak gelondongan yang bolong di tengah. Tidak seperti biasanya. Ada apa, Koh?”
BACA JUGA:BP4 Jateng Mengusulkan agar Bimbingan Pranikah Diwajibkan
Lita mulai masuk pada tujuan pertemuan.
“Aduh..aduh, maafkan aku, Bu. Bukan maksudku mau ngirim gelondongan jelek kepada ibu. Tapi memang, pasokan dari hulu, akhir-akhir ini banyak yang berlobang keropos di dalam begitu. Sekarang susah cari yang kelas premium utuh, Bu. Kalau yang medium masih cukup banyak. Lha, Pak Ali, mintanya selalu yang premium. Hehehe…”
“Untuk pelanggan setia, mestinya diberi yang terbaik dong, Koh. Pokoknya, aku tidak mau lagi dapat yang bolong keropos begitu. Kalau dapat lagi, pasti aku retour. Kerugian risiko Koh Syam tanggung sendiri.” Lita seperti mengancam.
“Wah..wah..wah… Jangan begitu dong, Bu. Oke deh, mulai besok aku kirim yang terbaik untuk ibu. Sebagian kelas medium juga ya, Bu?” Koh Syam mencoba bernegosiasi.
“Gak mau, Koh. Aku minta kelas premium. Kalau saya perlu medium, nanti tentu saya kabari dulu.”
“Ya, Bu. Aku usahakan selalu yang terbaik untuk ibu. Tak usah lapor Pak Theo lho, ya.” Lagi-lagi Koh Syam berseloroh.
BACA JUGA:PTA Semarang akan Gelar Diklat Mediator Masalah Keluarga Bekerja Sama dengan BP4
“Kalau perlu lapor, ya saya laporkan lah.” ujar Lita sambil tersenyum.
“Waduh, bisa dijithak Bapak saya nanti. Hehehe…” Kembali Koh Syam tertawa.
Pertemuan berakhir sukses.
Ada titik temu di antara Lita dan Koh Syam.
Masalah selesai.
KOMENTAR : weesenha@gmail.com***
