Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 102
Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

OPINI JATENG –
Sementara Iben seperti bingung menghadapi keliaran Lita.
“Litaaa..” Iben memanggil namanya.
“Ibennn..” Lita pun memanggil namanya
Lita mengelus punggung Iben.
Iben mengelus punggung Lita.
Lita meraba dada Iben.
Iben meraba dada Lita.
Lita menggigit bibir Iben.
Iben menggigit bibir Lita.
Lita membuka baju kaos Iben.
BACA JUGA:Bimbingan Pranikah Diwajibkan, Usul BP4 Jawa Tengah
Iben membuka daster Lita.
Dini hari itu, Lita dan Iben seperti dua kuda sedang berpacu menuju ke puncak bukit.
Keduanya saling dorong seperti tak ada yang mau mengalah.
Lita menjelma kuda betina binal yang lama tidak dibawa keluar kandang.
Melihat lorong pacuan segera mendengus-dengus, ingin memamerkan gaya berpacunya yang indah.
Lita adalah wanita yang sudah matang sempurna.
Pengalaman sebagai penyanyi panggung dangdut telah menempanya menjadi wanita dengan karakter yang unik.
Semua wilayah sudah dijelajahi.
Bermacam lelaki sudah dia temui.
Gunung, lembah, laut, telah dijamah dengan langkahnya.
Bermacam karakter telah dia kenali.
Sedang Iben, kuda remaja yang belum pernah berpacu.
Ini adalah pengalaman pertama dia diseret mendaki bukit, menuruni lembah, menerobos hutan, menyelam di telaga dalam.
Pengalaman pertama selalu memberikan sensasi tersendiri.
Sensasi yang mampu menggelegakkan adrenalin sampai ke pucuk rambut di ubun-ubun.
Sekali diajak berpacu, partnernya kuda betina binal yang sedang dalam puncak menebar feromon pemancing kejaran pejantan.
Jadilah Iben seolah ingin memuaskan rasa ingin tahunya, mengendus setiap lekuk dan sudut yang membuatnya penasaran.
Mereka saling mencari sesuatu yang ingin diraihnya dalam angan-angan.
Darah Lita bergolak seperti magma yang mencoba mencari saluran keluar karena selama ini tersumbat.
Naluri Iben sebagai remaja yang serba ingin tahu, memperoleh jawaban pasti dari gerakan Lita yang terus membelit dan mendorongnya untuk diajak terus mendaki.
Mendaki menuju telaga di puncak bukit.
Dan pendakian itu pun akhirnya sampai pula ke puncak.
BACA JUGA: PTA Semarang akan Gelar Diklat Mediator Masalah Keluarga Bekerja Sama dengan BP4
Lita seperti histeris membelit Iben yang benar-benar megap-megap kehabisan nafas.
Keduanya terkapar dengan terus saling menggenggam tangan, tak ingin terpisah walau hanya sedetik.
Tulang-tulang mereka serasa remuk.
Seluruh tenaga serasa lenyap terhisap ke dasar telaga gelap yang baru saja menenggelamkan mereka sampai ke titik terdalam.
Kamar kembali hening.
Sepi.
Lita menatap Iben dengan tersenyum.
Iben menatap Lita dengan tersenyum.
Lita mengusap dan mengelus kedua pipi Iben.
Iben mengusap dan mengelus kedua pipi Lita.
Lita mencium dahi Iben.
Iben mencium dahi Lita.
Lita memagut bibir Iben.
Iben memagut bibir Lita.
Mereka kembali berpagut dan berpelukan cukup lama.
Lita melirik jam dinding di tembok kamar.
Jam tiga lebih tiga puluh menit.
Hampir pagi.
“Ben…” suara Lita lirih.
“Lita…” suara Iben lirih.
“Menyesalkah kamu…?” tanya Lita dengan tatapan mata menyelidik.
“Menyesalkah kamu…?” tanya Iben dengan tatapan mata menyelidik.
Iben menggeleng.
BACA JUGA:Nur Khoirin: BP4 Harus Hadir di Setiap Kecamatan dan Desa, sebagai Bengkel Keluarga
Lita menggeleng.
Keduanya tersenyum.
Keduanya kembali saling peluk.
Saling pagut.
Siap untuk kembali berpacu dengan lintasan yang berbeda, untuk mencapai telaga di puncak yang sama.
KOMENTAR : weesenha@gmail.com***
