17 April 2026 23:37
Cover Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang - Horisontal

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

“Sudah, Ben. Sudah. Yuk, kita istirahat saja.”

Lita bicara pelan.

Memegang tangan Iben, menuntunnya menuju ke kamar Ipo, ibunya.

Begitu masuk, pintu segera ditutupnya.

Didudukannya Iben di tempat tidur.

Lita sendiri lalu duduk di samping Iben.

Tangannya merangkul bahu Iben.

BACA JUGA: Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 102

“Oke…oke… Nanti kita bicarakan lagi. Sekarang tidurlah.” bujuk Lita lembut.

“Aku benci ayah. Dia sudah menghilangkan ibu dari hidupku. Sekarang dia akan datang lagi merampas kamu dari hidupku.”

Iben seperti menggerutu sendiri.

Dheg!

Lita terkejut mendengar omongan Iben.

“Ayah akan datang lagi merampas kamu dari hidupku.”

Pernyataan ini sangat jelas bagi Lita.

Iben benar-benar merasa sudah memilikinya, dengan perkembangan kualitas hubungan yang semakin lengket belakangan ini.

Terutama, sejak pulang dari Banjarbaru, hubungan mereka sudah tanpa batas lagi.

BACA JUGA: Usia Terbaik Anak Disunat

Iben sudah memperoleh semua yang diinginkannya.

Dia sudah memperoleh kelembutan, kasih sayang, rasa aman, tenteram, damai, sekaligus kesenangan libidinal, yang di bawah sadarnya, itu juga harus diperoleh dari tubuh ibunya.

Dengan Ipo, ibunya, Iben bisa menggelendot, peluk cium, tidur di atas perut, dada, paha, dengan bebas tanpa sentuhan naluri libidinal.

Ya, karena Ipo ibu kandungnya.

Ikatan batin ibu-anak sudah terbentuk sejak Iben lahir.

BACA JUGA : Teliti Metode Dakwah KH Bisri Musthofa, Samsul Raih Doktor

Ipo pun, dalam menerima sikap manja Iben, bersikap sebagai ibu.

Yang tercurah adalah cinta kasih sayang ibu kepada anaknya.

Dengan demikian persentuhan bagian tubuh mana pun, tidak memunculkan naluri libidinal.

Berbeda dengan Lita.

Lita adalah wanita lain.

Wanita muda usia yang masih menyimpan magma panas naluri libidinal.

Bahkan boleh dikata, naluri itu selama ini tersumbat.

Di mata Iben, Lita tetap wanita muda seksi yang memberikan daya tarik tinggi terhadap gairah seksualitas dalam tubuhnya.

Bila dia belakangan mendekat pada Lita karena Lita berdandan, bersikap, dan berbuat menyerupai Ipo, ibunya, hal itu hanya berfungsi stimulus yang membangkitkan memori bawah sadar Iben tentang hubungan emosional dengan ibunya.

Kerinduan Iben karena kehilangan ibunya, seperti memperoleh sarana pelampiasan saat melihat Lita mencoba mengidentifikasikan diri seperti ibunya.

Iben mendapatkan kembali kelembutan, kasih sayang, rasa aman, tenteram, damai, saat berada dekat dengan Lita.

BACA JUGA:Tausiyah di Khataman Quran HPN, Ketua MUI Jateng Ajak Wartawan jadi Penyuara Kebenaran

Namun, persoalannya menjadi berbeda, saat terjadi kontak fisik di antara keduanya.

Iben merasakan getaran naluri libidinal, gairah seksualitas, yang dipancarkan oleh Lita.

Lita sendiri, dengan sadar sengaja memberikan pancingan-pancingan rangsangan itu ke tubuh Iben.

Maka, yang harus terjadi terjadilah.

Lita dan Iben terlibat dalam belitan gairah panas seksualitas lelaki dan wanita dewasa.

Dan di luar pemahaman pikiran mereka, mereka ternyata memang saling membutuhkan, saling isi mengisi dengan kekosongan jiwa dan tubuh mereka.

Mereka menjadi saling ketergantungan untuk memenuhi tuntutan mengisi kekosongan itu.

Dari hubungan yang unik ini, di luar sadar mereka telah saling jatuh cinta.

Cinta makin menyatukan keduanya.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *