Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 131
Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

OPINI JATENG –
Iben diam.
Tidak bergerak dari kursinya.
“Jawab…! teriak Theo sambil menggebrak meja.
Bayi dalam gendongan Lita kaget.
Menangis keras.
Lita harus menimang bayinya ambil berjalan hilir mudik di ruang makan.
Bayi itu menangis tak lama.
Lita langsung menyodorkan buah dadanya.
Menyusuinya.
Bayi itu tenang kembali.
“Baiklah, ayah. Untuk apa jawaban itu kalau memang sudah tahu? Tanpa aku jawab pun, semua sudah jelas. Lihat wajah bayi itu. Mirip ayah atau mirip aku? Ayah dengar tidak omongan para tamu tadi. Bayi itu persis aku. Tidak persis ayah. Bukankah itu sudah bukti nyata, siapa sesungguhnya bapaknya?” Iben bicara pelan tapi sangat jelas di telinga Theo.
Plaaaakkk…!
Tangan Theo menampar keras wajah Iben.
Kepala Iben sampai terdongak dan bergerak ke samping.
Iben hampir terpelanting dari kursinya.
Tangan Theo masih gemetar.
Giginya bergemeretak karena kemarahannya sudah sampai ke puncak.
“Minggat kamu dari rumah ini! Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi!” Nafas Theo sudah setengah megap-megap.
Tangannya menunjuk ke pintu keluar.
“Pergi kamu, sekarang! Dan jangan pernah menginjakkan kaki lagi di rumah ini.” kata Theo dengan suara bergetar.
Iben bangkit dari kursinya.
Pipinya tampak merah lebam bekas tamparan keras Theo.
Bahkan tampak ada darah meleleh dari mulutnya.
“Baik, ayah. Aku akan pergi dari sini. Paling tidak aku merasa cukup puas. Ayah sudah merampas kebahagiaan Ibu. Sekarang aku sudah merampas kebahagiaan ayah. Rasanya kita sudah impas!”
“Minggaaaattt sanaaaa…pergiii…! Kembali Theo bersuara keras.
Tapi suaranya kini terdengar serak.
Iben berlari ke lantai atas.
Masuk ke kamarnya sebentar.
Dimasukkannya beberapa potong baju ke dalam ranselnya.
BACA JUGA:Ketum PBNU Meminta Kasus Wadas Jangan Dipolitisasi
Setelah itu, berlari lagi menuruni tangga.
Di lantai bawah, dia sempat berhenti sebentar.
Dilihatnya Lita yang mondar mandir seperti orang bingung. Anaknya masih diam menyusu di gendongannya.
“Ben….” panggil Lita lirih.
Iben tidak menyahut.
Dibuangnya pandangan ke arah pintu keluar.
Dengan cepat melangkah ke arah pintu.
Diputarnya kunci.
Pintu terbuka.
Iben berlari keluar.
Pintu di belakangnya masih tetap membuka.
Dari pintu yang terbuka, terlihat suasana di luar rumah.
Sesekali kilat menyambar.
Langit gelap berselimut mendung hitam tebal.
Guruh terdengar menggelegar di kejauhan.
Angin dingin awal musim hujan menerobos masuk lewat pintu yang terbuka.
Angin dingin berisi uap air yang lembab.
Terasa seperti jarum menusuk kulit tembus sampai ke tulang.
Tak lama kemudian, terdengar deru mesin Vespa tua seperti melonjak karena kaget oleh gelegar petir di kejauhan.
Suara deru Vespa itu semakin menjauh, menjauh, sampai akhirnya hilang ditelan sepinya malam.
Tinggal Theo berdua Lita di ruang makan.
Theo masih duduk terengah-engah.
Dilihatnya Lita masih mondar mandir sambil menyusui bayinya.
BACA JUGA: Gejala Omicron yang Sering Dikeluhkan dan Diwaspadai
“Sekarang, apa katamu? Anak setan itu sudah minggat. Kamu ternyata tetap saja wanita sundal. Sudah kuangkat dari comberan. Sudah kuangkat jadi wanita terhormat. Ternyata semuanya tak ada gunanya. Kamu malah melempar tahi ke wajahku.”
“Terserah apa katamu. Semua sudah terjadi. Semua salah jadi beban pundakku. Kamu tidak salah. Iben tidak salah. Aku yang salah. Aku yang salah.”
“Mengapa aku mesti jadi istri lelaki tua yang sibuk dengan urusan politik. Sibuk urusan partai, sehingga istrinya dibiarkan terlantar kesepian di rumah. Nasibku tak jauh berbeda dengan nasib Ipo. Bedanya Ipo sudah tua, punya teman bicara Iben.”
“Aku? Kesepian sendiri di rumah. Dimusuhi anak tiri. Makan hati setiap hari. Hanya karena keteguhan hati, aku tetap bertahan di sini. Kalau aku akhirnya berhasil mengambil hati Iben, bukan tujuanku untuk mengajaknya selingkuh.”
“Semua terjadi karena Iben, anakmu lelaki remaja yang sangat manja. Dia biasa dielus ibunya. Kepadaku dia juga minta perlakuan yang sama. Minta dielus. Minta dipuk-puk sebagai bocah manja. Bagaimanapun, Iben remaja yang mulai matang. Gairahnya padaku tak bisa disembunyikan.”
“Dan aku wanita muda kesepian, yang ditinggal kelayapan suaminya berminggu-minggu, bahkan kadang sampai berbulan-bulan. Kalau akhirnya aku tidur dengan Iben, memang aku yang salah. Dan kamu pun tentu tidak merasa salah, bukan?” Lita memberondong Theo dengan pernyataan yang menyudutkan.
“Dasar sundal tetap saja sundal. Wanita sundal ketemu anak setan. Klop sudah!”
BACA JUGA:Keuangan Syariah akan Jadi Primadona di Indonesia
“Iya. Aku memang wanita sundal. Penyanyi dangdut murahan. Kamu tahu itu dari awal. Mengapa kamu ambil juga?”
Lita sepertinya sudah tidak punya pilihan lain untuk menghadapi Theo.
Lita sudah tidak menghiraukan sopan santun dan tata krama lagi.
Baginya, malam ini, cerita hidupnya bersama Theo sudah tamat.
Dia harus siap menghadapi apapun risikonya.
Maka, Lita tak segan lagi menyebut Theo, dengan “kamu”, bukan seperti sebutan biasanya,“ayah”.
Air matanya sudah kering.
Tak terdengar lagi tangis sesenggukan.
KOMENTAR : weesenha@gmail.com***
