By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Reading: Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 131
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • World
  • Economy
  • Business
  • Industry
Search
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
  • Advertise
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Ruang Ekspresi

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 131

Arifin
Last updated: 19 Februari 2022 17:58 17:58
By Arifin
6 Min Read
Share
SHARE

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Iben diam.

Tidak bergerak dari kursinya.

“Jawab…! teriak Theo sambil menggebrak meja.

Bayi dalam gendongan Lita kaget.

Menangis keras.

Lita harus menimang bayinya ambil berjalan hilir mudik di ruang makan.

Bayi itu menangis tak lama.

Lita langsung menyodorkan buah dadanya.

Menyusuinya.

Bayi itu tenang kembali.

“Baiklah, ayah. Untuk apa jawaban itu kalau memang sudah tahu? Tanpa aku jawab pun, semua sudah jelas. Lihat wajah bayi itu. Mirip ayah atau mirip aku? Ayah dengar tidak omongan para tamu tadi. Bayi itu persis aku. Tidak persis ayah. Bukankah itu sudah bukti nyata, siapa sesungguhnya bapaknya?” Iben bicara pelan tapi sangat jelas di telinga Theo.

Plaaaakkk…!

Tangan Theo menampar keras wajah Iben.

Kepala Iben sampai terdongak dan bergerak ke samping.

Iben hampir terpelanting dari kursinya.

Tangan Theo masih gemetar.

Giginya bergemeretak karena kemarahannya sudah sampai ke puncak.

“Minggat kamu dari rumah ini! Aku tidak sudi melihat wajahmu lagi!” Nafas Theo sudah setengah megap-megap.

Tangannya menunjuk ke pintu keluar.

“Pergi kamu, sekarang! Dan jangan pernah menginjakkan kaki lagi di rumah ini.” kata Theo dengan suara bergetar.

Iben bangkit dari kursinya.

Pipinya tampak merah lebam bekas tamparan keras Theo.

Bahkan tampak ada darah meleleh dari mulutnya.

“Baik, ayah. Aku akan pergi dari sini. Paling tidak aku merasa cukup puas. Ayah sudah merampas kebahagiaan Ibu. Sekarang aku sudah merampas kebahagiaan ayah. Rasanya kita sudah impas!”

“Minggaaaattt sanaaaa…pergiii…! Kembali Theo bersuara keras.

Tapi suaranya kini terdengar serak.

Iben berlari ke lantai atas.

Masuk ke kamarnya sebentar.

Dimasukkannya beberapa potong baju ke dalam ranselnya.

BACA JUGA:Ketum PBNU Meminta Kasus Wadas Jangan Dipolitisasi

Setelah itu, berlari lagi menuruni tangga.

Di lantai bawah, dia sempat berhenti sebentar.

Dilihatnya Lita yang mondar mandir seperti orang bingung. Anaknya masih diam menyusu di gendongannya.

“Ben….” panggil Lita lirih.

Iben tidak menyahut.

Dibuangnya pandangan ke arah pintu keluar.

Dengan cepat melangkah ke arah pintu.

Diputarnya kunci.

Pintu terbuka.

Iben berlari keluar.

Pintu di belakangnya masih tetap membuka.

Dari pintu yang terbuka, terlihat suasana di luar rumah.

Sesekali kilat menyambar.

Langit gelap berselimut mendung hitam tebal.

Guruh terdengar menggelegar di kejauhan.

Angin dingin awal musim hujan menerobos masuk lewat pintu yang terbuka.

Angin dingin berisi uap air yang lembab.

Terasa seperti jarum menusuk kulit tembus sampai ke tulang.

Tak lama kemudian, terdengar deru mesin Vespa tua seperti melonjak karena kaget oleh gelegar petir di kejauhan.

Suara deru Vespa itu semakin menjauh, menjauh, sampai akhirnya hilang ditelan sepinya malam.

Tinggal Theo berdua Lita di ruang makan.

Theo masih duduk terengah-engah.

Dilihatnya Lita masih mondar mandir sambil menyusui bayinya.

BACA JUGA: Gejala Omicron yang Sering Dikeluhkan dan Diwaspadai

“Sekarang, apa katamu? Anak setan itu sudah minggat. Kamu ternyata tetap saja wanita sundal. Sudah kuangkat dari comberan. Sudah kuangkat jadi wanita terhormat. Ternyata semuanya tak ada gunanya. Kamu malah melempar tahi ke wajahku.”

“Terserah apa katamu. Semua sudah terjadi. Semua salah jadi beban pundakku. Kamu tidak salah. Iben tidak salah. Aku yang salah. Aku yang salah.”

“Mengapa aku mesti jadi istri lelaki tua yang sibuk dengan urusan politik. Sibuk urusan partai, sehingga istrinya dibiarkan terlantar kesepian di rumah. Nasibku tak jauh berbeda dengan nasib Ipo. Bedanya Ipo sudah tua, punya teman bicara Iben.”

“Aku? Kesepian sendiri di rumah. Dimusuhi anak tiri. Makan hati setiap hari. Hanya karena keteguhan hati, aku tetap bertahan di sini. Kalau aku akhirnya berhasil mengambil hati Iben, bukan tujuanku untuk mengajaknya selingkuh.”

“Semua terjadi karena Iben, anakmu lelaki remaja yang sangat manja. Dia biasa dielus ibunya. Kepadaku dia juga minta perlakuan yang sama. Minta dielus. Minta dipuk-puk sebagai bocah manja. Bagaimanapun, Iben remaja yang mulai matang. Gairahnya padaku tak bisa disembunyikan.”

“Dan aku wanita muda kesepian, yang ditinggal kelayapan suaminya berminggu-minggu, bahkan kadang sampai berbulan-bulan. Kalau akhirnya aku tidur dengan Iben, memang aku yang salah. Dan kamu pun tentu tidak merasa salah, bukan?” Lita memberondong Theo dengan pernyataan yang menyudutkan.

“Dasar sundal tetap saja sundal. Wanita sundal ketemu anak setan. Klop sudah!”

BACA JUGA:Keuangan Syariah akan Jadi Primadona di Indonesia

“Iya. Aku memang wanita sundal. Penyanyi dangdut murahan. Kamu tahu itu dari awal. Mengapa kamu ambil juga?”

Lita sepertinya sudah tidak punya pilihan lain untuk menghadapi Theo.

Lita sudah tidak menghiraukan sopan santun dan tata krama lagi.

Baginya, malam ini, cerita hidupnya bersama Theo sudah tamat.

Dia harus siap menghadapi apapun risikonya.

Maka, Lita tak segan lagi menyebut Theo, dengan “kamu”, bukan seperti sebutan biasanya,“ayah”.

Air matanya sudah kering.

Tak terdengar lagi tangis sesenggukan.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

You Might Also Like

Odi Sang Juara Kelas
Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 23
Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 33
Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 59
Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 13
TAGGED:Di Balik Bayang-bayang Kasih SayangnovelWardjito Soeharso
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Kalam UIN Walisongo Harapkan Gedung Alumni
Next Article Sya’ban Bulan Investasi Pahala
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Pelaku UMKM mengemas produk batik untuk pesanan pelanggan dengan bantuan toko online di laptop.
Promosi Ramai, Penjualan Sepi? Ini Strategi Marketing yang Perlu Diubah Pelaku UMKM
Jateng Marketing
Seseorang menganalisis data digital marketing melalui laptop dan tablet dengan tampilan grafik trafik, pengunjung, dan performa pemasaran.
Digital Marketing Bukan Sekadar Jualan Online, Ini Cara UMKM Kecil Menarik Pelanggan Tanpa Bakar Uang
Jateng Marketing
Ilustrasi desain logo dan identitas merek bisnis pada kemasan produk, kartu nama, gelas, tas, dan panduan branding
Promosi Sudah Ramai, tetapi Penjualan Masih Sepi? Ini Kesalahan Marketing yang Sering Diabaikan
Jateng Marketing
Content creator merekam video promosi produk skincare menggunakan smartphone, tripod, dan lampu tambahan.
Konten Media Sosial Ramai Belum Tentu Laris, Ini Strategi Marketing yang Perlu Dicoba Pelaku Usaha
Jateng Marketing

OTOINFO MEDIA GROUP

Satu jaringan media untuk berita otomotif, balap motor, informasi daerah, dan konten digital Indonesia.

Ikuti Media Sosial Kami

Instagram Otoinfo Instagram Info Media Instagram Kabaroto Instagram Opini Banjarnegara TikTok Otoinfo TikTok Opini Banjarnegara YouTube Otoinfo Facebook Otoinfo Facebook Opini Banjarnegara

Jaringan Website

OTOINFO.IDPortal otomotif dan balap KABAROTO.IDBerita otomotif OPINI JATENGInformasi dan opini daerah
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?