Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 136
Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

OPINI JATENG –
Bagian 20
MASIHKAH ADA PENANTIAN?
Dodit minum kopi sambil membaca berita koran pagi.
Matanya tertuju pada berita di halaman depan bawah dengan judul cukup mencolok: Tragedi Keluarga Pejabat Negara, Bapak dan Anak Berebut Cinta Sang Istri Muda.
Berita sepertinya akan dibuat bersambung.
Cerita disusun sedemikian rupa agar pembaca tetap setia mengikuti perkembangan selanjutnya.
Berita hari ini baru bercerita tentang nasib sang istri muda berinisial L yang masuk rumah sakit bersama bayinya karena pingsan di pinggir jalan.
Bayinya dalam keadaan kritis karena kedinginan terguyur hujan lebat.
Bayi itu mengalami hipotermia.
Yaitu kondisi tubuh sudah sampai batas kemampuan tidak mampu lagi melawan udara dingin.
Sekarang keduanya masih dirawat di rumah sakit Dr. Kariadi.
Ternyata, si Pejabat Negara dengan nama inisial T, juga masuk rumah sakit yang sama, karena terkena serangan jantung.
BACA JUGA:Usia Terbaik Anak Disunat
Dan polisi sedang melakukan investigasi.
Apakah ada unsur kekerasan dalam rumah tangga atau kejahatan lainnya, dalam kasus ini.
Dodit membanting koran pagi yang dibacanya.
Tapi koran itu segera diambilnya kembali.
Koran itu dibawa ke kamarnya.
Iben masih tampak tiduran di tempat tidurnya.
“Ben, baca berita ini! Kasusmu berkembang demikian cepat. Pasti segera menjadi bahan pembicaraan publik.” kata Dodit sambil melemparkan koran ke arah Iben.
Iben terlihat malas mengambil koran yang dilemparkan kepadanya.
Tapi, begitu membaca judul beritanya, matanya langsung setengah melotot.
Dia lalu dengan cepat membaca berita sampai selesai.
“What? Lita dan bayinya masuk rumah sakit? ayah juga?” Iben bertanya entah pada siapa.
Dodit hanya berdiri diam melihat reaksi Iben.
Sedang Iben sekarang dalam posisi duduk di tempat tidur.
BACA JUGA: Bulan Rajab Bulan Spesial untuk Beribadah
“Aku harus ke rumah sakit sekarang.” katanya tiba-tiba.
“Perlu aku temani?” tanya Dodit.
“Tak usah. Aku bisa selesaikan sendiri urusanku.” jawab Iben.
“Oke, Good Luck, Broo…” sahut Dodit, sambil tangannya terkepal disorongkannya ke arah Iben.
“Thanks, Dit.” Jawab Iben, dia pun menyorongkan kepalan tangannya menyambut kepalan tangan Dodit.
Dua kepalan tangan mereka bertemu.
Saling menempel beberapa detik.
Sebentar kemudian, Iben sudah ngebut dengan Vespanya menuju rumah sakit.
Sesampai di rumah sakit, tak terlalu sulit baginya mencari informasi tentang Lita.
Setelah tahu di ruang mana Lita dirawat, Iben langsung ke sana.
Iben berdiri diam sebentar di depan pintu kamar.
Dengan dada berdebar-debar, dibukanya pintu kamar.
Mendengar pintu kamar berbunyi karena bergerak membuka, Lita yang berbaring sambil menyusui bayinya di tempat tidur, menolehkan kepala ke arah pintu.
BACA JUGA: Tata Cara Berhutang Menurut Islam
Tatap mata keduanya bertemu.
Iben tersenyum.
Lita melongo.
“Ben….?!” Hanya sepotong kata itu yang keluar dari mulut Lita.
“Hussstt…!”
Desis Iben sambil meletakkan jari telunjuk ke bibirnya.
Iben melangkah masuk kamar.
Berdiri di samping tempat tidur.
Lita sedikit menggeser tubuhnya agak ke pinggir.
Bayinya menyusu tenang dengan mata terpejam.
Agaknya menyusu sambil tidur.
“Kok kamu bisa sampai ke sini?” tanya Lita, kali ini wajahnya tersenyum cerah.
BACA JUGA:Ada Apa dengan Shalat Kita?
“Ya, bisa saja. Namamu, namaku, nama ayah, banyak menghiasi koran dua hari ini. Dari berita koran juga aku tahu kamu ada di sini.” jawab Iben. Tangannya menarik kursi di sudut kamar, ke dekat tempat tidur. Dia lalu duduk di kursi, persis di sebelah tempat tidur.
“Ah, Ben….aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan, sekarang ini.” kata Lita, pelan.
Pandangan matanya ke atas, menerawang menembus langit-langit kamar.
Entah sampai di mana.
KOMENTAR : weesenha@gmail.com***
