18 Januari 2026 21:18
Kenapa Sapi Dianggap Sakral

Penjelasan Suhu Padepokan Carang Seket, Kenapa Sapi Dianggap Sakral

OPINIJATENG.COM – Den Juneng, Suhu Padepokan Carang Seket kali ini akan menjelaskan mengenai “kenapa sapi dianggap sakral”.

Menurut Kekawin Ramayana dan Nitisastra posisi Lembu sangat sakral pada Hindu di Bali. Keutamaannya hingga disebut sebagai Ibu yang dimana merupkan simbol Ibu Pertiwi dan Ibu Alam Semesta “gavah visvasyah matarah”.

Orang Bali asli dilarang mengonsumsi daging sapi dan ada “Awig-awig” yang mengharuskan orang yang memakan daging sapi karena tidak sengaja untuk mandi dan keramas di sungai atau pancuran diluar desa, hanya setelah itu barulah yang bersangkutan yang telah memakan daging sapi tersebut boleh memasuki area desa. Kalau tidak, desa akan menjadi “leteh” (tercemar, kotor, tidak murni).

Jika ada Brahmana memakan daging sapi, mereka akan merasa sangat malu berada di tengah-tengah masyarakatnya dan “pengadilan umum” menyatakan mereka menjadi Brahmana Patita. Artinya yang bersangkutan jatuh sangat berarti dan jauh dari level ke brahmana annya.

Hal yang sama juga berlaku kepada dua golongan tri wangsa lainnya. Sehingga bahkan melompati tali Sapi pun dianggap perbuatan tercela dan wajib dihindari oleh orang yang telah mengerti.

“Aghnya iti gavam nama, ka etam hantum arhati, mahaccakara kusalam, vrsam gam valabhetti yah.” -Shanti Parwa 262.47-

Sapi suci merupakan binatang yang sama sekali tidak boleh dibunuh.

Kekawin Ramayana menyebut hanya orang jahat yang akan akan mengartikan Sapi sebagai mahluk yang harus disakiti dan disiksa maupun dianggap tidak suci.

Oleh umat Hindu Sapi dianggap sebagai Nandini yang dihormati sebagai kendaraan Hyang Siwa. Sehingga dengan demikian Sapi amat sangat dimuliakan oleh umat Hindu di Bali.

Panca Gavya dari Sapi yang disucikan ini sangat vital dalam upacara penting dan utama di Bali. Panca Gavyasya Laksanam. Upacara besar setingkat “Agung” di Bali memang wajib menghadirkan Panca Gavya dan hingga kehadiran Ida Dhang Hyang Nandini.

Panca Gavya di Bali adalah 5 hal yang dihasilkan oleh Sapi Suci: Liur, Keringat, Air Kencing, Susu, dan Kotorannya. Panca Gavya ini dipakai dalam upacara Pitra Yadnya sebagai simbol berkat dari Ibu Semesta supaya mendiang Swargi mencapai kesempurnaan kembali ke asal yaitu Hirania Garba (Rahim Semesta).

Sehingga inilah alasan mengapa Sapi dipuja sebagai Ibu sebab ada tiga entitas Ibu sekala yang dipuja umat Hindu: Ibu Kandung, Ibu susu (yang menyusui meski bukan melahirkan kita), dan Sapi yang memberikan Panca Gavya.

Pada Upacara di Bali yang tingkat besar pasti akan menghadirkan Panca Gavya dari Sapi Suci, tanpanya maka upacara itu tidak lengkap dan bisa mendatangkan hal buruk.

Sapi juga sebenarnya memiliki makna lain yaitu Sang Pitara (Sapi) akan tetapi orang jahat akan menyebut Sapi itu Sapinalu dan Sapinandem. Maka dari itu umat Hindu hendaknya berusaha untuk tidak mengonsumsi saging Sapi bila masih ada banyak pilihan lain.***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *