17 April 2026 22:55
Cover Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang - Horisontal

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Sebelum melangkah masuk, Lita melongokkan kepala ke dalam.

Dilihatnya Theo sedang tiduran di tempat tidur, masih sibuk dengan handphonenya.

Jemarinya bergerak lincah menekan-nekan tuts yang ada di teleponnya.

“Hai, ayah. Apa kabar?” sapa Lita dengan nada sangat cerah. Hangat.

“Halo, sayang. Wah, makin sibuk ya. Bentar lagi jadi Ketua IWAPI, nih!” Theo menyambut Lita sambil berkelakar.

“Ah, males. Jadi Ketua IWAPI makin jauh saja dari rumah, nanti.” jawab Lita, mendekati Theo.

Lita duduk di samping Theo yang masih berbaring.

BACA JUGA:Warga NU Bersama TNI Siap Hadapi Teroris dan Radikalis

Dikecupnya kening Theo.

Theo membalas dengan melingkarkan tangannya ke pinggang Lita.

Mulutnya dimonyongkan ke depan.

Lita justru menjauhkan wajahnya dari Theo.

“Ah, aku masih bau, Yah. Aku mandi dulu, dong.” katanya manja.

Sedang ujung jari telunjuknya menyentil ujung hidung Theo.

“Hehehe… aku juga belum mandi. Ya udah. Kamu mandi dulu, deh.”

“Bentar, ah. Istirahat dulu…”

Lita bangkit dari tempat tidur.

Berjalan menuju almari pakaian.

Tangannya mengambil satu daster batik dari tumpukan baju-bajunya.

Daster batik lengan pendek.

Lita tertegun sebentar.

Ternyata daster itu yang dipakainya saat bermalam di Banjarbaru bersama Iben, beberapa minggu lalu.

Tangan Lita sedikit gemetar.

BACA JUGA: Muktamar PGIN II, Membuka Mata Hati Mewujudkan Aspirasi

Lita menghela nafas.

Dengan daster di tangan, Lita justru segera berjalan cepat menuju kamar mandi.

Theo yang melihatnya mau masuk kamar mandi dengan daster di tangan, merasa agak heran.

“Katanya mau istirahat dulu? Kok sudah siap mandi?” tanyanya.

“Badan rasanya sudah lengket semua dengan keringat. Sudah terasa gatal semua nih kulit. Cepet mandi saja biar segar.”

Lita menjawab sekenanya.

Langsung masuk kamar mandi.

Mengunci pintu dari dalam.

Di dalam kamar mandi, Lita kembali termenung.

Dilihatnya daster batik yang ada di tangannya.

Entah apa yang menggerakkan, tangannya pelan mengangkat daster itu ke wajahnya.

BACA JUGA: Kantongi 100 Medali Emas, Maitsa Tambah Percaya Diri

Daster itu menyentuh ujung hidungnya.

Daster itu diciumnya dengan tarikan nafas panjang.

Baru setelah itu, dia mencantelkan daster ke gantungan.

Lalu melepas seluruh pakaian.

Lita membuka kran air sampai terbuka penuh.

Suara gerojokan air terdengar cukup keras mengiringi mandinya yang lebih lama dari biasanya.

Ketika Lita selesai mandi dan akan keluar dari kamar mandi, Theo juga sudah siap mandi.

Dia hanya pakai kolor dan kaos singlet.

Handuk sudah dikalungkan di leher.

Theo menyongsong Lita yang melangkah keluar kamar mandi.

Mengecup kening Lita, terus masuk kamar mandi.

Lita duduk di depan meja rias.

Dari kamar mandi, terdengar suara Theo mandi sambil menyanyikan lagu “Maju Tak Gentar”.

”Maaaju Tak Gentaaaarrr….Membeeeela Yang Benaaarrr!…”

Bersamaan dengan itu, terdengar suara mesin Vespa tua distarter.

Mesinnya menggerung keras dari garasi.

Vespa tua itu seperti dipaksa harus lari dengan kekuatan penuh sejak awal bergerak dengan perseneling satu.

Lita yang sedang membedaki pipinya, mendengar Theo menyanyi dan deru suara mesin Vespa, berhenti sejenak membedaki pipi.

BACA JUGA : Bisakah Takdir Berubah? Ini Penjelasannya
Keningnya berkerut.

Suasana rumah kembali sepi.

Makan malam berdua saja dengan Theo, Lita lebih banyak diam.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *