20 April 2026 18:25
Cover Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang - Horisontal

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Sebagai istri, Lita mencoba melayani Theo sebaik-baiknya.

Lita justru agak heran, Theo malah bersikap mesra, hangat, dan cenderung manja kepadanya.

Sementara, dia sendiri sedang gelisah galau.

Sikapnya jadi serba salah antara ingin melayani Theo dengan baik, tetapi pikirannya tidak pernah bisa berkonsentrasi.

“Memang Iben masih sering keluar kalau malam?” tiba-tiba Theo bertanya.

“Gak tahulah. Jam sembilan aku biasa sudah ngumpet di dalam kamar. Coba saja besok tanya Mbok Siti.” jawab Lita, mencoba melempar masalah ke Mbok Siti.

“Anak itu belum bener juga, ya. Gimana kalau di pengolahan, bisa kerja bener gak, tuh anak?” tanya Theo lagi, setengah menyelidik.

BACA JUGA:Bisakah Takdir Berubah? Ini Penjelasannya

“Setahuku sih cukup rajin. Kayaknya seneng juga dia kerjasama dengan Dewi. Kan Dewi cantik.”

Lita merasa bisa keluar dari kungkungan perasaan gelisahnya sendiri, saat Theo bicara tentang Iben soal suasana pengolahan kayu.

“Bocah ingusan begitu sudah ngerti gadis cantik? Payah…!”

Theo setengah menggerutu.

Ada seperti rasa tidak suka ketika Lita cerita tentang Iben dekat dengan Dewi yang cantik.

“Ya, biarkan saja lah. Anak-anak muda biar menikmati masa-masa mudanya.”

“Asal tidak bikin masalah saja. Itu anak pada dasarnya masih suka netek pada ibunya.”

“Itu sih, kayaknya penyakit keturunan dari bapaknya. Hihihi….” Lita tertawa ngikik sendiri.

“Boleh jadi. Sebentar lagi aku juga mau minta netek, kok. Hahaha…”

Theo juga tertawa ngakak sendiri.

“Nah, tuh. Kumat…” ledek Lita.

Theo masih tertawa.

Tubuhnya disenderkan ke belakang di senderan kursi.

“Teh manisku dipenuhi lagi, deh. Dan bawa ke kamar saja. Kalau nanti malam aku pengin minum biar tak perlu keluar kamar.” katanya memberi instruksi pada Lita.

“Beres…”Singkat saja Lita menjawab.

Lita menyiapkan gelas besar milik Theo dengan teh panas manis.

Gelas itu sekarang penuh lagi.

Bahkan, Lita juga mengisi gelasnya sendiri dengan air putih.

BACA JUGA:Gejala Omicron yang Sering Dikeluhkan dan Diwaspadai

Lalu dengan nampan kecil, dua gelas besar berisi teh panas dan air putih itu dibawanya masuk ke dalam kamar tidur.

Setelah meletakkan dua gelas berisi teh hangat dan air putih, Lita menuju lemari pakaian.

Dibolak-baliknya tumpukan baju tidurnya.

Lalu ditariknya selembar gaun tipis berwarna merah muda.

Di depan Theo yang berbaring di tempat tidur, dilepasnya daster batik yang dipakainya saat bermalam di Banjarbaru bersama Iben.
Dipakainya gaun tipis warna merah muda itu.

Sedang daster batik yang dilepas, hati-hati dilipatnya dan dimasukkannya kembali ke dalam tumpukan pakaian tidurnya.

Diselipkannya daster itu di bagian paling bawah dari tumpukan yang ada.

“Kok ganti baju? Daster batik itu juga bagus kok. Tetap memperlihatkan tubuhmu yang seksi.”

Kata Theo sambil melihat apa yang dilakukan Lita.

“Ah, biarin. Gak papa. Aku pengin ganti. Gaun tipis ini terasa lebih nyaman untuk tidur.”

Lita memberi penjelasan cukup rasional.

Theo hanya manggut-manggut pelan.

Ketika Lita mendekati tempat tidur, Theo seperti sudah tidak sabar menunggu.

Diulurkannya tangannya.

BACA JUGA: Wadas, “Cadas Keadilan” dan Raja Midas

Lita menerima uluran tangan Theo.

Theo menarik tangan Lita agak kuat.

Jatuhlah Lita ke dalam rengkuhan peluk Theo.

Walau sudah setengah umur, menuju usia enam puluh tahun, Theo masih gagah.

Untuk urusan tidur dengan wanita, tak perlu disebut lagi pengalamannya.

Lita sendiri sudah sangat paham.

Hampir setahun pernikahan mereka, Lita tak pernah mengeluhkan kemampuan Theo sebagai suami.

Saat Theo pulang, meskipun jarang, Theo selalu mampu memberikan yang terbaik untuk Lita.

Lita juga mampu menikmatinya dan sebagai imbalan, dia juga selalu memberikan yang terbaik kepada Theo.

Boleh dikata, hubungan suami-istri mereka sesungguhnya tidak ada masalah berarti.

Masalahnya adalah, Theo lebih sibuk dengan dunia politiknya di Jakarta.

Lita terlalu sering ditinggalkan sendiri di Semarang.

Sebagai wanita muda, kebutuhan dan gelora naluri biologisnya, pada saat-saat tertentu, mengikuti siklus kesuburannya, sering melonjak-lonjak tanpa memperoleh penyaluran yang alamiah.

Masalah satu inilah, yang sering dirasakan Lita sebagai beban jiwa yang cukup berat.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *