By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Reading: Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 113
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Us Today
  • Us Today
  • Us Today
  • World
  • World
  • World
  • Economy
  • Economy
  • Economy
  • Business
  • Business
  • Business
  • Industry
  • Industry
  • Industry
  • Politics
  • Politics
  • Politics
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
  • Advertise
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Ruang Ekspresi

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 113

Arifin
Last updated: 16 Februari 2022 16:02 16:02
By Arifin
6 Min Read
Share
SHARE

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Baru beberapa langkah berjalan, Lita menengokkan kepala ke belakang.

Pada saat bersamaan, Iben juga memandang kepadanya.

Pandangan mata keduanya bertemu.

Lita segera menggerakkan kepalanya mengalihkan pandangan ke depan.

Meneruskan langkahnya, dengan tangan masih digandeng Theo.

Sedang Iben, saat yang sama segera membalikkan badan dan berlari ke lantai dua menuju kamarnya.

Hari ini sudah dimulai dengan mood yang tidak mengenakkan hati.

BACA JUGA:Rasa Cemas Berlebihan Picu OCD, Aliando Syarief lebih Ekstrem Rasakan Kondisi ini

Hari ini Theo mengajak Lita ikut menghadiri Gladi Bersih Rapat Kerja Nasional, yang diselenggarakan di Hotel Patra.

Hotel bintang lima yang terletak di wilayah atas Kota Semarang.

Karena ikut Theo, Lita tidak pergi ke pengolahan kayu.

Dia menghubungi Dewi, bilang hari ini tidak dapat datang.

Sedang Iben, begitu masuk ke dalam kamar, langsung membanting tubuhnya ke tempat tidur.

Kepalanya masih pusing karena pengaruh alkohol.

Tangannya mengelus-elus pipi yang tadi ditampar Lita.

Mengapa Lita menamparnya begitu keras?

Terasa sekali, tamparan Lita bukanlah tamparan main-main.

Pipi Iben terasa sakit.

Pedih dan panas bercampur jadi satu.

Saking kerasnya, pipinya berubah warna kemerahan.

Apakah Lita memang benar-benar marah padanya?

Iben jadi geleng-geleng kepala.

Bahkan tangannya garuk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

Rambutnya jadi makin acak-acakan.

Tiba-tiba terdengar pintu diketuk dari luar.

Tok…tok…tok…

“Ya, Mbok. Masuklah…” Iben sudah hafal, itulah suara ketukan pintu yang khas dari Mbok Siti.

Pintu terbuka.

Mbok Siti melangkah masuk.

Tangannya membawa nampan kecil, di atasnya ada segelas besar susu segar.

“Ini susunya, Den. Den Iben perlu susu biar badan segar.” katanya.

“Iya, mbok. Terima kasih.” Sahut Iben pendek.

BACA JUGA: Teliti Metode Dakwah KH Bisri Musthofa, Samsul Raih Doktor

Setelah meletakkan gelas susu di atas meja kecil, Mbok Siti mendekati Iben.

Dia duduk di samping Iben yang berbaring.

Duduknya sejajar dengan bagian kaki Iben.

Tangannya memegang kaki Iben, dipijitnya dengan pelan.

Iben menikmati pijitan itu dengan setengah memejamkan matanya.

“Den….” panggil Mbok Siti lirih.

“Maaf ya, Den. Mbok tahu semua yang terjadi di bawah tadi.”

“Ya, gak papa, Mbok. Mbok kan sudah paham bagaimana hubungan kami dengan ayah.”

“Iya, Den. Tapi Mbok lihat ada sesuatu yang lain dengan Neng Lita waktu menampar pipi Den Iben.”

kata Mbok Siti sambil menundukkan kepala dalam-dalam.

“Maksud Mbok?” Iben agak sedikit menaikkan nada suaranya.

Bahkan kepalanya juga sedikit terangkat.

“Maafkan Mbok, Den. Mbok sudah tahu semua yang terjadi di rumah ini. Mbok ini sudah tua, Den. Sudah kenyang dengan segala persoalan hidup. Tapi, percayalah pada Mbok. Hanya Mbok yang tahu. Hanya Mbok yang tahu, Den.”

Wajah Mbok Siti kini berani tengadah.

Tatap matanya bertemu tatap mata Iben.

Mata Iben nanar.

Tidak kuat menahan tatapan mata Mbok Siti.

Iben memalingkan wajahnya.

Iben menarik nafas panjang.

“Ya sudah Mbok. Kalau Mbok sudah tahu, apakah lalu persoalan selesai?” Iben bertanya pelan.

BACA JUGA:Usia Terbaik Anak Disunat

“Mbok mengerti, Den. Mbok sangat paham dengan keadaan rumah ini. Den Iben tidak salah. Neng Lita tidak salah. Den Ikang dan Den Ibas juga tidak salah. Kalian semua pada dasarnya orang-orang baik. Mbok jadi sedih, Den. Mengapa keluarga yang baik ini selalu diikuti mendung hitam tebal di atas rumah? Mbok khawatir, Den. Khawatir hujan badai akan menerpa rumah ini.”

Mbok Siti mulai terisak.

Air matanya menetes.

Iben bangkit dari telentangnya.

Dia duduk di tempat tidur.

Dipegangnya kedua pundak Mbok Siti.

“Tidak, Mbok. Rumah ini tidak akan diterjang hujan badai. Aku yang harus mengaku salah. Justru di mataku, semua orang dalam keluarga ini memberikan andil kesalahan untuk munculnya awan hitam gelap itu.”

“Den, Neng Lita memang cantik. Mbok yang perempuan saja sangat kagum dengan wajahnya yang cantik, tubuhnya yang molek menawan. Semua mata lelaki pasti tak tahan untuk tidak meliriknya.”

Iben tersenyum mendengar Mbok Siti memuji kecantikan dan kemolekan Lita.

“Den Iben juga perjaka ganteng. Mbok juga mengagumi kegantengan Den Iben. Sudah ganteng, tubuhnya jangkung, kulit bersih. Mahasiswa, pinter, dan banyak duit lagi. Den Iben sudah menjadi lelaki dewasa sempurna sekarang. Rasanya tidak ada yang percaya kalau tahu umur Den Iben masih dua puluhan tahun. Kalau Den Iben mau, tentu semua gadis cantik di kampus akan bersedia menjadi pacar Den Iben.”

Iben makin tersenyum lebar mendengar Mbok Siti juga memuji dirinya.

“Sesungguhnya Den Iben dan Neng Lita memang sangat cocok menjadi pasangan. Yang lelaki ganteng, yang wanita cantik. Tetapi nasib mempertemukan kalian dalam tempat yang beda. Itulah takdir, Den. Apakah Den Iben akan melanggar batas takdir itu? Buntutnya akan panjang, Den. Maaf, Mbok mungkin bicara terlalu banyak. Semua ini Mbok katakan karena Mbok sayang dengan Den Iben. Mbok sayang dengan Neng Lita.”

BACA JUGA:Angka Perceraian Tinggi, BKKBN dan BP4 Bersinergi untuk Menurunkan

“Iya, Mbok. Aku tahu. Aku dan Lita memang telah melanggar batas takdir itu. Semua terjadi di luar kendali pikiranku, Mbok.”

Iben menundukkan kepalanya dalam-dalam di depan Mbok Siti.

Mbok Siti menarik nafas panjang.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

You Might Also Like

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 119
Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 101
Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 81
Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 85
Detik Ruhi dan Ruha
TAGGED:Di Balik Bayang-bayang Kasih SayangnovelWardjito Soeharso
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Warga NU Bersama TNI Siap Hadapi Teroris dan Radikalis
Next Article Santi Nurmalitasari, S.Pd Pemanfaatan Media Pembelajaran berbasis Augmented Reality ‘AR’
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Azzahra, Pramuka Garuda SMA Negeri 1 Banjarnegara: Sang Juara Eagle Scout Penegak Putri 2026,
Banjarnegara Jateng
Zulfikar Al Habsy, Sosok Pemuda Inspiratif Banjarnegara Lolos Paskibraka Provinsi Jawa Tengah
Pendidikan
Pramuka Garuda Penegak SMA Negeri 1 Banjarnegara Bersiap Diri dalam Lomba ESA Tingkat Provinsi Jawa Tengah
News
68 Peserta Resmi Ikuti Pradana Wiyata Permadani Banjarnegara Angkatan XIII
Banjarnegara
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?