18 April 2026 03:01
Cover Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang - Horisontal

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

“Mbok sebenarnya sudah sangat kuatir ketika tahu Neng Lita banyak bertanya tentang mendiang Ibu Ipo. Mbok tahu, Neng Lita ingin menaklukkan Den Iben yang membencinya, dengan mencoba mengikuti kebiasaan Ibu Ipo dalam memperlakukan Den Iben. Pada awalnya Mbok seneng, usaha Neng Lita berhasil. Den Iben bisa menerima Neng Lita. Lalu kalian seperti menjadi sahabat.”

“Tapi, bagi Mbok, kedekatan kalian menjadi lampu kuning. Peringatan untuk Mbok agar kalian tidak terus menjadi terlalu dekat. Apalah artinya Mbok, Den. Mbok tidak mungkin menasehati langsung Den Iben. Apalagi Neng Lita.”

“Kalian anak-anak muda yang masih berdarah panas. Kekhawatiran Mbok akhirnya terbukti. Mbok lihat lama-lama pandangan Neng Lita pada Den Iben berubah. Benih-benih cinta mulai tumbuh di hati Neng Lita. Juga Mbok lihat di hati Den Iben. Kini, semua sudah terjadi, Den. Mbok tak mampu lagi berbuat apa-apa.”

Mbok Siti kembali menundukkan kepala.

“Aku tidak tahu, Mbok. Apakah aku mencintai Lita? Apakah Lita mencintai aku?”

Iben seperti berkata pada dirinya sendiri.

Wajahnya tengadah memandang langit-langit kamar.

“Sudah sangat jelas, Den. Ketika Neng Lita menampar keras pipi Den Iben tadi, apakah Den Iben tidak merasakan cinta Neng Lita yang begitu dalam? Tamparan itu bukti Neng Lita sangat mencintai Den Iben.”

“Begitupun, ketika Den Iben pergi semalaman tidak pulang. Menghabiskan malam dengan minum-minum sampai mabuk begini, apakah itu bukan tanda Den Iben mencintai Neng Lita?”

“Den Iben gelisah galau begini karena tahu Neng Lita malam ini tidur bersama Tuan Theo. Den Iben cemburu dengan Tuan. Ya, kan?”

Mbok Siti memberondong Iben dengan pertanyaan-pertanyaan yang semuanya sudah sangat jelas jawabannya bagi Iben.

Tapi Iben hanya diam.

BACA JUGA:Muktamar PGIN II, Membuka Mata Hati Mewujudkan Aspirasi

Malah seperti bengong.

Pikirannya justru berputar mencerna omongan Mbok Siti.

Lita menampar keras pipinya justru karena cinta padanya?

Lita cinta padanya?

Ya, kata Mbok Siti, Lita cinta padanya.

Apakah Lita marah karena melihat dia pulang dalam keadaan mabuk?

Apakah Lita marah karena mencemaskan keadaan dirinya?

Apakah Lita marah karena menganggap dirinya mabuk hanya sebagai jalan pelarian dari persoalan?

Tanpa tanda atau isyarat, tiba-tiba Iben bangkit dari tempat tidur.

Mbok Siti kaget.

Mbok Siti ikut bangkit dari duduknya.

“Terima kasih, Mbok. Terima kasih sudah membukakan pikiranku. Sekarang, aku mau mandi. Setelah itu sarapan. Setelah itu mau langsung ke tempat pengolahan.” Katanya, lalu menyambar handuk dan melangkah cepat ke kamar mandi.

“Sarapan sudah siap dari tadi, Den.” sambut Mbok Siti.

“Iya, Mbok. Mbok Siti ke pasar saja. Aku pulang sore. Masak yang enak untuk makan malam ya, Mbok.”

“Siap, Den.”

Mbok Siti keluar kamar.

Iben masuk kamar mandi.

BACA JUGA: Warga NU Bersama TNI Siap Hadapi Teroris dan Radikalis

Sebentar kemudian terdengar shower mengucur deras mengguyur tubuh Iben.

Usai mandi, Iben sarapan.

Usai sarapan, Iben langsung menstarter Vespa tuanya ke pengolahan kayu.

Mobil Lita sudah diparkir di garasi kantor.

Seperti biasa, Iben memarkir Vespanya di sebelah mobil.

Memasuki ruangan kantor, Iben hanya menyapa pendek Dewi, Si Bendahara cantik.

Dia langsung masuk ke ruang kantor Lita.

Tapi ruang itu kosong.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *