Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 123
Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

OPINI JATENG –
Bagian 17
PANCAROBA
Sembilan bulan sudah berjalan.
Selama sembilan bulan, waktu terus berputar.
Hari berganti hari.
Minggu berganti minggu.
Bulan berganti bulan.
Kandungan Lita terus membesar.
Theo sangat bahagia waktu diberi tahu Lita benar positif hamil.
Dia merasa masih tetap lelaki tangguh.
BACA JUGA:Jangan Sia-siakan Shalat Kita dengan Menebar Fitnah
Walau umur sudah mendekati enam puluh tahun, ternyata masih bisa menghamili Lita, istrinya yang masih berusia dua puluh enam tahun.
Ternyata menjadi kebanggaan tersendiri bagi lelaki kalangan usia tua, bila masih mampu menghamili wanita, artinya secara seksual itu bukti nyata dia masih jantan dan tangguh.
Sejak diberi tahu Lita kalau Lita positif hamil, ke mana pun Theo berada, di tengah kerumunan kawan-kawannya, dia selalu menceritakan, Lita, istrinya yang masih muda, saat ini sedang hamil, mengandung anak dari benihnya.
“Wah, ternyata Pak Theo masih joss juga ya.” seloroh teman-temannya bila sedang kumpul-kumpul.
“Iya nih. Pak Theo ternyata tetap sakti. Sekali sengat, jadi. Hehehe…” ledek yang lain, menimpali.
“Hahaha…kalian bisa saja. Yang jelas usia boleh tua. Semangat harus tetap muda.” canda Theo tetap tertawa, menanggapi seloroh dan ledekan teman-temannya.
Tetapi Theo tetaplah Theo.
BACA JUGA:Akibat Hujan dan Angin Kencang, Rumah Warga Lebakwangi Pagedongan Tertimpa Pohon
Pulang ke Semarang menengok Lita, belum tentu tiap minggu.
Sekali dalam sebulan saja sudah bagus.
Apalagi, Lita juga tidak banyak menuntut.
Lita tidak pernah bertanya, kapan Theo mau pulang.
Juga jarang menghubunginya, kecuali ada hal-hal sangat penting berkaitan dengan perusahaan pengolahan kayu.
Tanpa gangguan telepon atau layanan SMS dari Lita, Theo malah lebih asyik dengan dunianya sendiri.
Bila tidak ada hal-hal penting dan mendesak, dia pun jarang berinisiatif menghubungi Lita.
Walau sekedar say hello menanyakan kabar baik.
Bagi Lita, sikap cuek Theo justru terasa menguntungkan.
Dia melewati hari-harinya bersama Iben tanpa ada gangguan.
Di luar pemahaman mereka, Lita sudah mempraktekkan hidup sebagai wanita dengan status seperti poliandri, satu wanita kawin dengan dua lelaki.
Sehari-hari, Lita dan Iben bercumbu dan bercinta sepuasnya.
Tapi, saat Theo pulang, Iben pergi dari rumah.
Gantian Lita melayani Theo.
Memang, Lita melayani Theo sudah tidak dengan hati lagi.
Namun, sebagai wanita, yang kodratnya hanya menerima, menampung, dia bisa berhubungan badan tanpa sentuhan rasa.
Dia hanya memberikan tubuhnya kepada Theo.
BACA JUGA:Yang Pahit dalam Hidup adalah Berharap kepada Manusia
Hatinya sudah habis diserahkan kepada Iben.
Dan Lita ternyata berbakat pula bermain peran.
Dia mampu memerankan diri sebagai istri yang baik di depan Theo, di lain saat sebagai kekasih yang panas di pelukan Iben.
KOMENTAR : weesenha@gmail.com***
