21 Januari 2026 14:26
Di balik bayang-bayang kasih sayang cover

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang karya Wardjito Soeharso

Sejak hari Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.com menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Ini murni fiksi. Ini murni sebuah karya sastra. Isi di luar tanggungjawab redaksi.

Wardjito Soeharso

OPINIJATENG.com

IBEN seperti memperoleh energi baru.

Segera saja dia sangat bersemangat untuk pulang.

Dia cepat-cepat mengemasi buku-bukunya.

Meski Iben tahu di luar hujan semakin deras.

Dia tidak ingin mengecewakan ibunya, sehingga memutuskan untuk menerjang hujan dengan motor Vespa tua kesayangannya.

Tak sampai lima menit dia lari dari lantai tiga perpustakaan menuju tempat parkir Vespanya.

BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 1

Iben menengadahkan tangan dan merasakan tetesan air hujan yang sejuk dan lembut menyentuh kulitnya.

Tetesan air hujan itu menyadarkan Iben akan segala rasa rindu dan sepinya yang sirna begitu saja, hanya dengan membaca pesan singkat dari ibunya.

Baginya ibu itu seperti hujan di musim kemarau yang kedatangannya selalu ditunggu, yang kesejukannya selalu dirindu.

Sebentar saja Iben dengan Vespanya sudah menembus hujan di jalan raya.

Jalanan basah.

Siang yang biasanya gerah karena panas berubah jadi siang yang sejuk karena guyuran hujan.

Mobil, motor, angkot, seolah saling kejar-kejaran walau tak tahu apa sesungguhnya yang mereka buru.

Tapi bagi Iben, semua itu bukanlah masalah.

BACA JUGA : 7 Tips agar Kuat Bertemu dengan Mantan, Tidak Perlu Judes

Dia dengan Vespanya sangat lincah mencari celah di antara mobil dan angkot yang berseliweran.

Dia seperti sudah hafal setiap jengkal jalanan yang dilaluinya hampir setiap hari.

Jarak kampus ke rumahnya hanya sekitar tujuh atau delapan kilometer saja, dan biasanya dia hanya perlu waktu tak lebih dari lima belas menit.

Begitu juga siang ini, walaupun jalanan basah oleh hujan, Iben sudah sampai rumah lima belas menit setelah keluar dari perpustakaan tadi.

Iben lalu memarkir Vespanya di garasi, di samping mobil yang sudah terparkir diam di sana.

“Iben!”

Ibunya setengah berteriak menyambut Iben yang baru saja masuk rumah dari pintu garasi.

Ibunya berjalan mendekati Iben yang masih sibuk mengibas-ngibaskan sisa air hujan yang membasahi bajunya.

“Aduh, kamu basah kuyup begini, Ben! Memang kamu gak pakai mantel? Kamu ini pintar tapi selalu cuek dengan hal-hal sepele. Apa ibu harus selalu mengingatkanmu? Lagian, kenapa sih tetep saja ngotot pakai Vespa butut itu? Kan ada mobil nganggur tuh. Kalau hujan begini kan lebih enakan pakai mobil?”

Iben hanya tersenyum simpul melihat ibunya. Sambil membuka bajunya yang basah, dia mendekati ibunya dan mencium tangannya.

“Ibu ini terlalu berlebihan, Iben hanya kehujanan sedikit dan gak mungkin sakit. Kalau Iben sakit kan ada ibu yang merawat Iben sampai sembuh.”

“Kamu pikir ibu akan membiarkanmu sakit? Kamu sudah besar harus bisa jaga dirimu sendiri.”

“Dan juga menjaga ibu,” ucap Iben sambil tersenyum.

“Sudah sana cepat mandi.”

BACA JUGA : Ini Cara Jika Kamu Bertemu MacanTutul saat Datang ke Hutan

“Siap!”

Iben berlari ke kamarnya di lantai dua.

Ipo, ibu Iben, melihat layar handphonenya dan kembali membaca SMS yang tadi dikirimkan Theo, suaminya, “Aku sedang dalam perjalanan pulang.”

“Kami menunggu. Kita rayakan kedatangan ayah dengan makan malam bersama di luar nanti ya.”

Senyum Ipo tidak bisa disembunyikan ketika mengetikkan pesan balasan itu.

“Hmm, setan mana yang berani merasuki ibuku sampai membuatnya senyum-senyum sendiri?”

Iben tiba-tiba saja sudah berdiri di samping ibunya.

“Ah… Kau ini, apa anak ibu akan membiarkan setan mendekat?”

Ipo tertawa sambil meledek Iben.

“Hahaha… Kenapa wajah ibu memerah? Ibu terlihat seperti remaja sedang jatuh cinta.”

Ipo hanya tersenyum. Iben jadi penasaran, “Ih, ibu genit. Ibu harus ceritakan, apa yang membuat ibu bahagia hari ini?”

“Ada yang akan pulang nanti malam,” jawab Ipo, pelan.

“Benarkah?!”

Sejenak Iben diam dan menatap mata ibunya untuk meyakinkan bahwa yang barusan didengarnya tidak salah.

“Siapa? Kak Ikang atau Kak Ibas?”

“Ayahmu.”

“Ayah?! Ah..” Iben tidak melanjutkan kata-katanya.

BACA JUGA : Hasil Kualifikasi MotoGP Emilia Romagna: Bagnaia Unggul, Valentino Rossi Diurutan Bontot

“Kenapa Iben? Tidakkah kau kangen dengan ayahmu?”

Ayahnya, Theo, malam ini akan pulang ke rumah.

Iben tahu, ibunya bahagia menyambut kepulangan ayahnya.

Dan dia merasa, keberadaan ayahnya di rumah ini justru membuat dirinya serba kikuk.

Dan yang terpenting, dia pasti kehilangan sebagian dari waktu ibunya, karena ibunya tentu akan lebih banyak berada di samping ayahnya.

Iben masih diam, hanya ayah yang ada di dalam pikirannya.

Ayah yang sangat dicintai ibunya.

Ayah yang selalu sibuk dengan pekerjaannya.

Ayah yang lebih suka tinggal di Ibu Kota Jakarta, daripada hidup bersama istri dan anaknya di kota asalnya, Semarang.

Ayahnya sibuk dengan pekerjaannya, sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat, yang kantornya amat megah di Senayan.

Ayahnya sangat jarang pulang ke Semarang.

Iben masih ingat, sejak dia lulus Sekolah Dasar, ayahnya hampir tak pernah ada di rumah.

Kalau dia bertanya, ibunya selalu menjawab ayahnya di Jakarta bekerja mencari uang.

Sesekali saja, dua tiga bulan sekali, ayahnya pulang beberapa hari.

Meskipun demikian, ayahnya tetap saja hampir tidak pernah di rumah.

Ada saja tamu yang datang dan mengajak pergi ayahnya.

Iben tidak tahu dan tidak ingin tahu.

BACA JUGA : Konservasi KSDAE Kembali Melepas Liarkan Orang Utan

Dia merasa ayahnya seperti orang asing, yang masuk keluar rumah tanpa pamit, yang kalau ketemu dia hanya menyapa, “Hai, Iben, bagaimana sekolahmu?”.

Bagi Iben, ayahnya sangat kaku, kering, bahkan sekadar mengelus kepalanya pun tidak.

Lain dengan ibunya, yang selalu mengelusnya, mendongeng menjelang tidur, dan memeluknya dengan hangat sampai dia pulas. (bersambung)

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *