By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Reading: PT NU Harus Kembangkan Kapasitas Rohani Mahasiswa
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Us Today
  • Us Today
  • Us Today
  • World
  • World
  • World
  • Economy
  • Economy
  • Economy
  • Business
  • Business
  • Business
  • Industry
  • Industry
  • Industry
  • Politics
  • Politics
  • Politics
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
  • Advertise
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Gagasan

PT NU Harus Kembangkan Kapasitas Rohani Mahasiswa

Arifin
Last updated: 29 Oktober 2021 17:15 17:15
By Arifin
3 Min Read
Share
MELANTIK: Katib Aam PBNU KH Yahya Cholil Staquf (Gus Yahya) saat melantik Ahmad Zaini (paling kiri) menjadi Rektor IAINU Tuban, Jatim, Kamis (28/10)
SHARE

OPINIJATENG.com – Katib Aam PBNU, KH Yahya Staquf mengingatkan agar semua perguruan tinggi yang ada di lingkungan Nahdlatul Ulama (NU) tidak hanya mengajarkan wacana-wacana intelektual. PT NU, katanya, jangan sampai melupakan pengembangan sisi rohani bagi para mahasiswanya.

“Kita tidak boleh mengabaikan apalagi meninggalkan dimensi rohani dalam pendidikan anak-anak kita,” kata Gus Yahya, sapaan KH Yahya Staquf, saat memberikan sambutan pada upacara pelantikan Ahmad Zaini sebagai Rektor Institut Agama Islam Nahdlatul Ulama (IAINU) Tuban, Jatim, Kamis (28/10).

Dulu, kata Gus Yahya menjelaskan, pesantren adalah lembaga pendidikan paling paripurna yang dimiliki umat Islam dan bangsa Indonesia. Di dalamnya diintegrasikan dimensi-dimensi kognitif dangan dimensi spiritual. Maka, lanjutnya, santri bukan semata unggul secara akademis dan intelektual, namun juga mumpuni secara spiritual dan rohani.

BACA JUGA: Ganjar; Kalau Ada Kecurangan Tes CPNS di Jateng, Tidak Ada Ampun!

“Dulu itu, nggak ada santri yang tidak “sakti”. Kalau sudah jadi santri, hampir pasti juga sakti,” jelas putra almaghfurlah KHM Cholil Bisri Rembang itu.

Ia menyebut KH Wahab Hasbullah, Rais Aam pertama PBNU sebagai contoh. Dikatakan Gus Yahya, selain masyhur sebagai akademisi paripurna, intelektual sejati, Kiai Wahab juga dikenal sebagai seorang pendekar pilih tanding di zamannya.

Istilah Pemisahan
Kenapa bisa lahir orang-orang sekaliber Kiai Wahab, lanjut kandidat Ketua Umum PBNU ini, sebab dari awal pendiriannya, pesantren tidak mengenal istilah pemisahan antara pendidikan berdimensi kognitif dengan dimensi spiritual. Di situlah, lanjut Gus Yahya, terletak inti dan tujuan dari pendidikan yang sebenarnya.

Di situ jugalah, jelas Gus Yahya, muara semua ilmu pengetahuan. Yaitu, ujarnya, ilmu yang mendatangkan manfaat, bukan saja untuk dirinya, tetapi lebih dari itu juga berguna untuk masyarakat dan lingkungannya. Dengan ilmu yang bermanfaat, jelasnya, akan tercapai tujuan hidup orang beriman, yakni ketakwaan kepada Tuhan YME.

BACA JUGA: Warnai Semangat Sumpah Pemuda dengan Berbagi untuk Kemanusiaan

Oleh sebab itu, lanjut Gus Yahya, ketika ilmu manfaatnya tidak dirasakan oleh diri dan lingkungannya, maka tujuan dari pendidikan tidak tercapai. “Jika IAINU gagal mengintegrasikan dua dimensi ini, maka gagal pula kita dalam menjaga dan meneruskan tradisi turots, warisan para pendiri NU, para kiai, ulama, dan guru-guru kita,” katanya.

Memanfaatkan momentum Hari Santri Nasional, Gus Yahya mengingatkan, bahwa ada tanggung jawab besar, khususnya di pundak para pemangku badan-badan pendidikan di NU untuk menyukseskan misi pendidikan ini. Tanpa itu, lanjutnya, anugerah Hari Santri Nasional hanya akan menjadi kebanggaan politik yang semu.

“Sebab, sebutan santri itu identik dengan kita, NU. Besar sekali makna penghargaan Hari Santri itu untuk kita. Tapi kalau setiap tahun kita menyikapinya dengak seremoni belaka, maka itu akan jadi sia-sia,” jelas Gus Yahya.

Ia meminta, Hari Santri Nasional dijadikan sebagai kebanggaan bersama seluruh bangsa Indonesia.***

You Might Also Like

Pemkab dan MUI Wonosobo: Islamic Center dan Kuliner Halal
Siswa SMP Isriati Semarang Juara di World International Youth Invention and Innovation Award 2022
Aksesibilitas dan Integrasi LRT Jabodebek
Awas Wajah Kusam apabila Konsumsi Gorengan Berlebih
Cuti Bersama Tidak Ada, Libur Natal dan Tahun Baru 2023 sesuai Kelender
TAGGED:Kapasitas Rohani MahasiswaKH Yahya StaqufPT NU
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Vaksin booster Ganjar; Kalau Ada Kecurangan Tes CPNS di Jateng, Tidak Ada Ampun!
Next Article DMI Adakan Workshop Pemberdayaan Ekonomi Berbasis Masjid
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Azzahra, Pramuka Garuda SMA Negeri 1 Banjarnegara: Sang Juara Eagle Scout Penegak Putri 2026,
Banjarnegara Jateng
Zulfikar Al Habsy, Sosok Pemuda Inspiratif Banjarnegara Lolos Paskibraka Provinsi Jawa Tengah
Pendidikan
Pramuka Garuda Penegak SMA Negeri 1 Banjarnegara Bersiap Diri dalam Lomba ESA Tingkat Provinsi Jawa Tengah
News
68 Peserta Resmi Ikuti Pradana Wiyata Permadani Banjarnegara Angkatan XIII
Banjarnegara
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?