By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Reading: Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 31
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Us Today
  • Us Today
  • Us Today
  • World
  • World
  • World
  • Economy
  • Economy
  • Economy
  • Business
  • Business
  • Business
  • Industry
  • Industry
  • Industry
  • Politics
  • Politics
  • Politics
Search
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
  • Advertise
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Ruang Ekspresi

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 31

Arifin
Last updated: 26 November 2021 09:57 09:57
By Arifin
6 Min Read
Share
SHARE

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.com menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINIJATENG.COM –

Iben terkejut hingga tersedak makanan.

Ikang melihat wajah ayahnya untuk memastikan apakah dia serius mengatakan hal itu.

Sementara Ibas tersenyum sinis dan tetap fokus pada makanannya.

“Apakah harus secepat itu yah?” Tanya Ikang.

“Ayah, kami bukan anak kecil lagi. Kami tidak butuh ibu tiri.” Kata Iben tidak mau menerima keputusan ayahnya.

“Ayah tidak sedang meminta izin kalian.” jawab Theo santai.

“Tidak perlu repot mencari isteri kalau akhirnya ditinggal pergi.” Kata Ibas masih sinis.

“Siapa dia? Apa pekerjaannya?” tanya Ikang penasaran.

“Namanya Lita, tidak penting pekerjaannya. Kalian juga akan bertemu dia nanti.”

BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 30
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 29

“Lita? Jangan katakan dia si penyanyi dangdut itu,” kata Iben yang kemudian membanting sendok dan garpu.

“Jaga sikapmu! Kita ada di tempat umum!” Bentak Theo pada Iben.

“Hahaha… Keren sekali. Ternyata ayahku menyukai musik. Genrenya adalah dangdut, harusnya aku bisa menebak ini,” kata Iben.

“Dengar! Dia tidak akan bernyanyi lagi setelah dia menikah dengan ayah.”

“Terserah lah. Aku sedang sibuk bersiap kembali ke Australia. Jadi jangan minta aku jadi pengisi acara di acara pernikahan nanti.”

“Kakak mau pergi lagi secepat ini?” tanya Iben.

“Sebaiknya, kalian tidak pergi sebelum pernikahan ayah! Ayah jadwalkan di akhir masa reses bulan depan!”

“Maaf ayah, tapi aku juga harus segera kembali ke Amerika dan aku sudah pesan tiket,” kata Ikang.

“Kak Ikang juga?” Iben terlihat semakin shock.

“Aku harus melanjutkan kuliah. Aku sudah bolos hampir sebulan. Bulan ini ada presentasi penting. Ayah sendiri yang selalu berkata kuliahku adalah yang utama,” tambah Ikang lagi.

Theo hanya diam dan tidak bisa mendebat perkataan Ikang.

“Ayah akan adakan makan malam lagi, agar kalian bisa bertemu dan berkenalan dengan calon ibu kalian, sebelum kalian pergi.”

“Ayah keterlaluan! Belum genap tiga bulan ibu pergi, ayah sudah mau kawin lagi. Huh…” Iben marah dan segera pergi.

Berjalan sempoyongan di trotoar jalan raya tanpa arah dan tujuan, sendirian dan dengan pikiran kacau, Iben terlihat seperti orang mabuk.

Dia sama sekali tidak ingin pulang ke rumah.

Dia marah pada ayahnya, marah pada kedua kakaknya, dan marah pada dirinya sendiri.

“Kenapa hanya aku satu-satunya orang yang harus terjebak!” Iben berteriak ke jalanan yang penuh dengan kendaraan lalu lalang.

“Kenapa tidak ada yang peduli!” teriaknya lagi.

Dia hanya melihat lampu-lampu kendaraan yang lewat silih berganti.

Pandangannya sedikit kabur karena air mata mulai menggenang di kelopak matanya.

“Lihat ada siapa di sini!”

Iben mencari sumber suara berasal.

Ternyata segerombolan preman sedang berjalan ke arahnya.

“Anak kecil yang tersesat?”

Iben tidak menanggapi preman-preman itu dan berjalan melewati mereka.

Tapi seorang preman menahannya.

“Sepertinya orang kaya. Mau pergi ke mana, Pangeran?” ucapnya sambil memberi instruksi berupa kode gerakan tangan pada yang lainnya.
Salah satu dari mereka kemudian melompat menghadang di depan Iben.

Dia memandang Ibu dengan wajah cengar cengir menyebalkan.

“Hmm bagus…” Ucap Iben sambil tersenyum.

Iben menemukan cara untuk melampiaskan kemarahannya.

Segera dia waspada dan siap menerima segala kemungkinan.

“Hahahah… Kamu mau melawan kami?” Kata orang yang berdiri di depannya.

Iben tidak ingin banyak omong lagi.

Seumur hidupnya, dia belum pernah berkelahi beneran.

Sewaktu kecil memang dia suka berkelahi dengan Ibas atau kawan-kawan bermainnya, hanya untuk urusan kecil seperti berebut mainan.

Sedang untuk berkelahi beneran untuk mempertahankan diri dari ancaman seperti malam ini, Iben sama sekali tidak pernah mengharapkannya.

Dan malam ini dia harus berkelahi melawan tiga orang sekaligus.

Tapi Iben justru sama sekali tidak merasa takut.

Dia merasa ada saluran pelampiasan emosinya yang bergolak menghentak-hentak mau meledakkan isi dada dan kepalanya.

Maka, tanpa isyarat, Iben langsung melayangkan tinjunya tepat di ujung hidung preman yang berdiri menghadang di depannya.

Preman itu kaget. Terlambat bereaksi. Tinju Iben dengan mulus mendarat di ujung hidungnya.

Nafasnya terasa terhenti, tersedak menghantam balik paru-parunya.

Tubuhnya limbung terdorong ke belakang.

Matanya sempat gelap sesaat.

Ketika kesadarannya sudah kembali, dia mengusap hidungnya yang terasa nyeri.

Terasa ada cairan darah membasahi punggung tangannya.

Sementara itu, dua preman lainnya, begitu melihat wajah temannya berdarah ditinju Iben, langsung melayangkan pukulan dan tendangan ke tubuh Iben.

Terjadilah perkelahian tidak seimbang antara seorang anak laki-laki melawan tiga preman.

Orang yang melihat kejadian itu hanya diam saja, tidak mau ikut campur, tidak mau terlibat atau bahkan pura-pura tidak tahu.

Iben bukan atlet bela diri, dia juga belum pernah terlibat perkelahian fisik sebelumnya.

Dia hanya anak laki-laki sembilan belas tahun yang sedang marah pada hidupnya. (Bersambung)

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

You Might Also Like

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 24
Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 91
Senja di Kota Praha
Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 9
Perlukah Wisuda Lulusan TK hingga SMA?
TAGGED:Di Balik Bayang-bayang Kasih SayangnovelWardjito Soeharso
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Kembangkan Potensi Wisata, Pemkab Batang Gandeng Unwahas
Next Article Ditemukan sosok mayat Sosok Mayat Tanpa Identitas Ditemukan di Saluran Irigasi Desa Glempang
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Tumis buncis dengan wortel, irisan sosis, dan cabai merah yang disajikan dalam mangkuk cokelat.
Bingung Menyiapkan Menu Harian? Ini 7 Ide Tumisan Praktis yang Hemat Minyak dan Cocok untuk Keluarga
Jateng News
Martabak telur goreng berwarna keemasan dengan isian telur dan daun bawang, dipotong menjadi beberapa bagian.
Tak Perlu Beli di Pinggir Jalan, Martabak Telur Kulit Lumpia Ini Bisa Dibuat Sendiri di Rumah
Jateng News
Nasi goreng berbumbu dengan telur mata sapi, irisan cabai merah, daun bawang, dan sambal.
Tak Perlu Timbangan Dapur! Resep Nasi Goreng Takaran Sendok untuk Bekal Sekolah Anak
Jateng News
Sup ayam dengan wortel, kentang, dan sayuran dalam kuah bening hangat
Bingung Masak Apa Hari Ini? 3 Resep Sop Rumahan yang Hemat, Gurih, dan Mudah Dibuat
Jateng News
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Informasi

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi Opini

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?