Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 33
Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.com menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

OPINIJATENG.COM –
Bagian 5
IBU TIRI
Ikang, Ibas, Iben, mereka terdiam.
Melihat Theo datang dengan seorang wanita, mereka bertiga sudah bisa menebak wanita itulah yang akan menjadi ibu tiri mereka.
Yang ada di pikiran mereka adalah wanita itu terlihat masih sangat muda.
Tapi tidak satu pun dari mereka peduli akan hal itu, mereka tidak ingin tahu sama sekali tentang calon ibu tiri mereka karena mereka tidak pernah mengharapkannya.
Baik Theo atau ketiga putranya, mereka mempunyai tujuan masing-masing yang akan disampaikan di acara makan malam.
“Kalian tidak ingin menyapa ayah? Baiklah sepertinya kalian penasaran dan bertanya-tanya siapa wanita cantik yang ayah bawa ini. Namanya Lita.”
Theo mempersilakan Lita untuk menyapa anak-anaknya.
“Halo aku Lita, senang bertemu dengan kalian, Ikang, Ibas, dan Iben,” ucapnya sambil tersenyum
“Berapa umurmu?” tanya Ikang yang penasaran karena Lita terlihat masih sangat muda.
BACA JUGA: Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 32
Lita melengak. Sama sekali tidak diduga, Ikang langsung bertanya tentang umur.
“Em… Sebaiknya persilakan dia duduk dulu,” kata Theo sambil mempersilakan Lita duduk di kursi yang biasa Ipo tempati.
“Jangan!” teriak Iben yang mengagetkan semua orang terutama Lita.
“Itu kursi ibuku, tidak boleh ada yang duduk di situ. Karena selamanya kursi itu milik ibuku.”
“Iben! Berhenti bertindak kekanak-kanakan!” bentak Theo.
“Ayolah kapan kita makan. Aku lapar, makan malam ini sudah terlambat dari rencana undangannya. Dan sekarang masih harus membuang-buang waktu untuk memperdebatkan kursi,” ucap Ibas yang kemudian melemparkan lirikan tajam pada Lita.
“Ba.. baiklah aku duduk di kursi lain. Tidak masalah,” jawab Lita dengan raut wajah ketakutan.
“Bagus. Mari kita mulai acara makan malamnya,” kata Ikang.
Mereka makan dalam diam.
Tidak ada yang saling menatap.
Lita makan dengan kepala tertunduk karena canggung sekaligus takut.
Ikang merasa dia yang harus memulai pembicaraan.
“Jadi berapa umurmu? Kamu belum menjawab pertanyaanku?” tanya Ikang pada Lita.
“Dua puluh empat tahun,” jawab Lita yang membuat Iben terkejut, sementara Ibas tersenyum sinis, dia sudah bisa menebak sebelumnya.
“Kamu masih lebih muda dariku. Jadi aku harus memanggilmu ibu atau adik?” tanya Ikang agak nakal.
“Setelah menikah dengan ayah, kalian harus memanggilnya ibu,” Theo yang menjawab pertanyaan nakal itu.
“Tidak akan pernah!” Celetuk Iben ketus.
“Aku tidak perlu memanggilnya karena kami tidak perlu bertemu lagi,” Ibas bicara santai sambil menyandarkan punggungnya ke kursi.
“Kalian jangan kurang ajar, ya!” Theo bicara sambil melihat ketiga anaknya bergantian.
“Jadi karena ini ayah meminta kami untuk makan malam?” tanya Iben.
“Ayah akan segera menikah dengannya. Bulan depan,” jawab Theo.
“Lupakan itu, ayah. Aku tidak peduli ayah akan menikah dengan siapa. Aku datang ke sini untuk memberitahu ayah. Ayah harus datang ke konser saya ini dengan semua teman ayah. Jika ayah tidak datang, aku tidak tahu apa yang akan media beritakan tentang ayah,” Ibas memberikan tiket konser ‘anti korupsi’ pada ayahnya.
“Hmh… Konser kaleng rombeng gedombrengan…!” Theo melihat tiket yang ada di depannya.
“Imageku sebagai anak Wakil Ketua DPR tidak akan rusak, tapi aku pikir judul artikel: Wakil Ketua DPR RI tidak memenuhi undangan konser ‘anti korupsi’, akan sangat menarik.”
Theo tidak menanggapi omongan Ibas.
Dia diam dan meraih tiket konser pemberian Ibas, dan memasukkannya ke saku bajunya.
Ikang tersenyum karena tahu ayahnya tidak punya kalimat untuk mendebat Ibas.
“Sudahlah. Kalian membuat tamu kita takut. Maafkan kami,” ucap Ikang pada Lita.
“Tidak apa-apa, tidak apa apa,” jawab Lita.
“Oh iya, aku lupa ada tamu tidak diundang di sini. Maaf aku hanya ada sisa satu tiket untuk ayahku, aku tidak yakin jika beliau akan mengajakmu,” kata Ibas yang dijawab dengan senyum terpaksa dari Lita.
“Ayah, aku ingin pamit karena besok pagi aku harus berangkat,” Ikang berusaha mengalihkan pembicaraan.
“Tidak bisakah kamu undur hingga bulan depan dan menghadiri pernikahan ayah? Banyak teman ayah yang akan datang, ayah akan mengenalkanmu pada mereka. Itu bagus untuk karirmu nanti.”
“Shhh.., Yang benar saja,” ejek Ibas.
“Tidak, ayah. Seperti yang sudah kukatakan pada ayah kemarin, keputusanku sudah bulat,” jawab Ikang.
“Baiklah. Untukmu Iben, obati luka-lukamu. Ayah tidak ingin tamu-tamu ayah yang hadir berpikir negatif ketika melihat keadaanmu yang kacau.”
“Tenang saja, ayah,” jawab Iben.
“Bagus!” Jawab Theo dengan tersenyum.
“Karena aku tidak akan datang,” tambah Iben yang kemudian meletakan sendok dan garpunya. “Aku sudah selesai makan.”
“Ehemm. Aku juga sudah selesai makan,” Ibas tersenyum dan meletakkan sendok dan garpunya.
Ikang meletakkan sendok dan garpunya.
“Ayah jika sudah tidak ada yang dibicarakan lagi aku permisi karena masih banyak yang harus aku bereskan.”
Ikang, Ibas, dan Iben meninggalkan meja makan.
Tersisa Theo yang geram dan Lita yang shock.
Lita tidak pernah menduga makan malam yang dinanti-nantikannya ternyata sangat berantakan.
Lita juga tidak menduga sebelumnya dia akan berada di dalam keluarga yang mengerikan.
“Bagaimana ini? Apa yang harus aku lakukan?” tanya Lita pada Theo.
“Tenang saja. Ini urusanku.” jawab Theo singkat.
KOMENTAR : weesenha@gmail.com***
