Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 61
Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.com menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

OPINIJATENG.COM –
Terdapat kejujuran dan kesungguhan dari setiap ucap katanya.
“Lita memang cantik dan pekerja keras. Tak heran, nasib baik selalu menyertainya. Dengan kondisi serba terbatas dia masih bisa menemukan suami yang hebat. Saya benar, kan?”
Pertanyaan paman Lita hanya di jawab senyuman oleh Iben.
Paman pun tersenyum, dengan melihat Lita yang sedang sibuk beres-beres di depan mereka.
Paman melanjutkan lagi ceritanya.
“Lita memang cantik. Iya, kan?”
“Iya,” jawab Iben.
BACA JUGA:Lalu Lintas di Jateng Landai, Ganjar Prediksi Peningkatan Malam Hari
“Dia benar-benar cantik luar dalam. Hingga suatu hari ada yang mengajaknya menjadi penyanyi dangdut.”
“Awalnya Lita ragu karena dia tidak punya suara merdu. Orang itu mengatakan “dengan kecantikan Lita, sudah cukup.”
“Kami menganggap itu rezeki dan jalan Tuhan untuk menyelesaikan masalah ekonomi keluarga ini, terutama untuk biaya pengobatan adikku. Sejak saat itu Lita jarang pulang, bahkan setahun terakhir ini tidak pernah. Ibunya sangat merindukan Lita, bahkan di detik-detik terakhir hidupnya dia menyebut nama Lita,” tangis Paman Lita mulai tak terkendali.
Dia kembali pada suasana haru dan duka atas penderitaan adiknya.
“Lita tidak pernah menceritakan hal itu, dan saya tidak tahu. Sekali lagi maafkan saya, paman,” Iben menepuk pundak paman Lita.
“Tapi kalian baik, bahkan sangat baik. Setiap bulan uang yang kalian kirim lebih dari cukup untuk kami. Mungkin ini setimpal. Semakin banyak uang yang Lita berikan semakin sulit kami bertemu dengannya. Karena hal itu, adikku tidak mau menggunakan uang dari Lita untuk biaya pengobatannya, hingga dia meninggal. Meski demikian, dia tidak pernah marah pada Lita. Dia tetap mencintai Lita sampai akhir hayatnya.”
Tak terasa mata Iben ikut berkaca-kaca.
BACA JUGA:Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 60
Selama ini dia selalu merasa benar dan hanya dirinya seorang yang terluka.
Sekarang Iben menyadari meski dirinya terluka dia tidak berhak melukai orang lain.
Setiap orang punya luka atau bekas luka.
Setiap orang membawa lukanya.
Bahkan ada yang sengaja merawat lukanya tetap menganga tak tersembuhkan, agar setiap saat masih bisa merasakan sakitnya.
Iben tersentak sendiri.
Bukankah dirinya juga orang seperti itu?
Menikmati sakitnya luka bersama ibunya dalam genggaman kuat tangan perkasa Theo?
Malam hari yang tak kunjung sepi.
Tahlil terdengar hingga setiap sudut rumah.
BACA JUGA: Pasar Kroya Terbakar, Kios Habis Dilalap Jago Merah
Semua orang khusyuk mendoakan almarhumah.
Begitu pula Lita yang duduk sendiri di bangku depan rumahnya sembari memanjatkan doa pada Yang Kuasa dan menyesali betapa bodohnya dirinya.
Iben melihat Lita duduk sendiri, kemudian perlahan berjalan mendekatinya.
“Are you okay?” tanya Iben
“Yaa…” jawab Lita sambil mengusap air matanya.
“Kamu sudah tahu siapa aku sebenarnya, kan? Aku bukan orang yang kaya sejak lahir, maaf aku pernah berbohong padamu,” Lita tersenyum getir menyesali kebodohannya.
“Sebenarnya aku sudah bisa menduga, tapi tidak sejauh yang pamanmu ceritakan.”
“Apa yang dia ceritakan? Jangan percaya padanya. Dia suka berbohong. Sama sepertiku.”
“Semua hal yang harus aku ketahui. Aku tidak percaya pada siapapun selain pada Tuhan.”
BACA JUGA:Rem Blong, Truk Tabrak 7 Mobil hingga Rusak Berat
“Hahaha… kamu memang pintar, seperti kata ayahmu.”
“Dan sekarang aku tidak percaya dia berkata aku pintar.”
“Kamu percaya pada Tuhan dan Tuhan menciptakanmu sebagai manusia yang bisa merasakan cinta. Maka kamu harus percaya cinta. Jika tidak, mungkin kamu bukan manusia dan kamu tidak hidup di dunia nyata, tapi di neraka.”
“Apa kamu percaya?” tanya Iben
“Ya,” jawab Lita yakin
“Apa kamu pernah merasa benar-benar hidup di dunia bukan di neraka?”
“Pernah. Sebelum aku melangkahkan kaki meninggalkan ibuku, orang yang sangat kucintai.”
“Maksudmu, meninggalkan cinta akan hidup seperti di neraka?”
“Tidak. Cinta dan sayang itu abadi. Yang aku rasakan mungkin hanya bayang-bayangnya saja.”
“Sudahlah, aku tidak mengerti. Jadi kapan kita akan pulang? Jika terus di sini kamu akan membuat tempat ini banjir air mata,” kata Iben sedikit meledek.
KOMENTAR : weesenha@gmail.com***
