17 Februari 2026 10:24
Cover Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang - Horisontal

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Tanpa dapat ditahan lagi, Lita mulai terisak.

Dadanya terasa pepat dengan berbagai perasaan yang campur aduk jadi satu.

Matanya basah.

Pipinya basah.

“Baiklah, Ben. Kuakui aku salah. Aku melupakanmu, malam ini. Aku mengikuti perasaanku sendiri. Untuk semua itu, aku minta maaf.”

Lita bicara pelan, masih dengan sesenggukan.

“Kamu memang keterlaluan, Ta. Di atas semua ini, yang paling tidak aku suka adalah penampilanmu. Aku tidak suka melihat mata para lelaki jelalatan seperti kucing lapar melihat ikan asin. Aku tidak suka melihat ayah yang malah terlihat bangga dan bahagia, karena kamu jadi pusat perhatian mata para lelaki jalang. Aku tidak suka itu. Aku marah. Aku kecewa. Kamu jadi seperti wanita murahan…”

BACA JUGA: Jangan Sia-siakan Shalat Kita dengan Menebar Fitnah

“Benarkah aku wanita murahan? Begitukah kau menilaiku? Aku akui aku salah. Tapi, bukan berarti aku egois seperti kamu. Cobalah mengerti situasi kita. Bukannya membuat suasana adem, kamu malah mengipasinya jadi panas.”

“Siapa yang membuat suasana panas? Kamu memang seperti wanita murahan…!” suara Iben makin tinggi.

“Baiklah, Ben. Kalau kamu memang tidak mau terima salahku. Tidak mau memaafkan aku. Lalu apa maumu sebenarnya? Aku wanita murahan, katamu? Iya, aku memang wanita murahan untukmu. Kamu bisa meniduriku. Kamu peroleh kenikmatan dari tubuhku. Gratis..tis.. Tanpa membayar serupiah pun. Iya. Begitu?”

Lita mulai tak tahan untuk tidak meluapkan emosi yang membuat dadanya pepat.

Iben diam.

Hanya matanya saja yang memandang Lita dengan tajam.

Lita membalas tatapan mata Iben.

BACA JUGA: Kantongi 100 Medali Emas, Maitsa Tambah Percaya Diri

Iben meremas botol air minum.

Botol yang terbuat dari plastik itu gepeng.

“Kamu egois…!”

Lita mengusap matanya yang kembali basah dengan air mata yang membanjir.

“Kamu yang egois…!”

Iben tak mau kalah, suaranya cukup keras.

“Kamu yang egois…!”

Lita kembali bicara dengan mata mendelik ke arah Iben.

“Kamuuuu…!”

Iben tak kalah keras.

“Kamuuuuuu….!”

Lita juga tak mau kalah keras.

Praaakk….!

Iben membanting botol air minum yang sudah gepeng di tangannya.

Suaranya cukup keras.

Lita kaget!

Dia tidak menyangka Iben akan berbuat sebodoh dan segila itu.

Isak tangis Lita makin menjadi.

Karena berusaha menahan isaknya agar tidak terlalu keras, cairan tangis yang ada di antara lubang hidung dan mulut, justru masuk ke dalam lubang nafas.

Tersedak masuk ke dalam paru-paru, membuat Lita bersuara sedak cukup keras.

Iben masih duduk diam di kursinya.

Kedua tangannya dijulurkan lurus di atas meja.

Terjulur ke hadapan Lita.

Lita juga menjulurkan tangannya, memegang tangan Iben.

Meremas-remasnya.

Jam dinding berdentang sekali.

Sudah memasuki dini hari.

BACA JUGA:Wadas, “Cadas Keadilan” dan Raja Midas

Pada saat bersamaan dentang jam dinding, pintu kamar utama terbuka.

Theo keluar kamar.

Lita segera menarik tangannya yang menggenggam tangan Iben.

Tangannya segera berusaha menghapus sisa air mata dari pipi dan matanya.

Lita tampak sangat gugup.

Iben masih duduk diam di kursinya.

Theo melihat Lita dan Iben duduk berhadapan di meja makan.

Theo sempat melihat tangan Lita yang ditarik dari atas meja.

Theo masih melihat tangan Lita yang sibuk menyeka mata dan pipinya.

“Apa yang kalian lakukan di tengah malam begini? Berduaan seperti orang pacaran?” kata Theo dingin sambil melangkah mendekat ke meja makan.

“Tidak apa-apa. Kami ngobrol saja. Ipung tadi rewel, aku bawa keluar supaya tidur lagi. Kebetulan Iben juga keluar, cari minum air dingin. Sama-sama tidak dapat tidur, jadi ya ngobrol saja di sini.” Lita berusaha memberikan penjelasan.

“Hm, ngobrol. Terlalu naif alasan kamu,” sergah Theo, lalu dia menghadap ke Iben, “Ini rupanya penyakit yang membuat rumah berbau busuk. Aku memang sudah melihat tanda-tanda kebusukan kamu. Dan malam ini semuanya menjadi jelas. Kalian ternyata bermain api di belakangku.”

Theo makin mendekati Iben.

BACA JUGA: SD Isriati 1 Semarang Lahirkan Calon Saintis Internasional

Matanya mencureng.

Tangannya terkepal.
Suaranya berat.

“Kamu anak kurang ajar. Tak tahu diuntung. Anak setan…!”

Iben masih duduk di kursi.

Kepalanya menengok ke arah ayahnya.

“Anak setan. Bapaknya setan juga..!” jawabnya pelan. Suaranya dingin.

“Apa kau bilang?!” teriak Theo.

“Dari kecil kubesarkan kamu. Beginikah balasanmu pada ayahmu? Kita memang tidak pernah bisa akur. Tapi, selama ini aku masih tetap menganggap kamu anakku. Apapun yang kamu lakukan aku biarkan. Tidak aku ambil pusing. Ternyata, bukannya ngerti, kamu makin nranyak kepada ayahmu. He, apa maumu sebenarnya?!” Mata Theo makin berkilat menahan amarah.

“Ayah tanya apa mauku?” jawab Iben, datar, ”Aku tidak ingin melihat ayah bahagia. Aku ingin melihat ayah merana seperti ibu. Apa yang sudah ayah lakukan pada ibu? Ayah menyiksanya. Ayah memenjarakannya di rumah ini. Ayah membuatnya merana sampai kematian menjemputnya. Ayah sudah menyakiti ibu. Ibuku….”

BACA JUGA: Gejala Omicron yang Sering Dikeluhkan dan Diwaspadai

“Tahu apa kamu tentang ibumu, ha…!” Theo memotong kata-kata Iben.

“Ibuku adalah wanita paling setia di dunia. Dia rela, dia ikhlas kau penjara. Dia menerima kau sakiti hatinya. Tak pernah protes. Tak pernah mengeluh. Dia bertahan hanya karena kami bertiga, anak-anaknya. Apa yang ayah lakukan di luar sana? Semua lelaki juga tahu. Bahkan belum tiga bulan ibu meninggal, ayah sudah pulang membawa penyanyi dangdut ini ke rumah. Ayah masih tanya apa mauku?”

Theo diam sejenak.

Nafasnya memburu.

BACA JUGA:Usia Terbaik Anak Disunat

Jelas dia sedang berusaha menahan emosi yang kian memuncak.

“Aku menganggap persoalan ibumu sudah selesai. Tak perlu dibicarakan lagi. Sekarang aku bertanya kepadamu. Dan jawab dengan jujur. Walau jawabmu aku sudah tahu. Tapi aku ingin dengar pengakuan langsung dari mulutmu. Benar kamu sudah selingkuh dengan Lita? Benar kamu sudah meniduri Lita?” suara Theo makin keras.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *