Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 103
Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

OPINI JATENG –
Matahari bersinar terang di luar jendela kamar.
Jalan raya di depan hotel sudah ramai kendaraan berlalu lalang.
Sesekali terdengar klakson mobil dan motor menyalak, sepertinya sang pengendara merasa jalan di depannya terganggu, terhalang oleh pengendara lain.
BACA JUGA:PTA Semarang akan Gelar Diklat Mediator Masalah Keluarga Bekerja Sama dengan BP4
Di bagian bawah hotel juga terdengar suara celoteh orang-orang yang bicara cukup keras.
Restoran hotel tampaknya sudah dipenuhi penghuni hotel yang sedang menikmati sarapan, sambil ngobrol dengan sesama teman semejanya.
Lita membuka mata.
Dia melihat di balik gorden jendela kaca, suasana luar sudah terang.
Dia menggeliat sebentar.
Melemaskan tulang-tulang tubuhnya yang serasa rontok semua.
Pagi ini, dia bangun dengan tubuh sangat capek, tetapi jiwanya terasa sangat tenteram dan damai.
Dia merasa sangat bahagia.
Belum pernah selama hidupnya, dia merasa sebahagia pagi ini.
Lita menoleh ke sampingnya.
BACA JUGA:Bimbingan Pranikah Diwajibkan, Usul BP4 Jawa Tengah
Iben juga masih mendengkur.
Lita tersenyum menatap wajah Iben yang polos seolah anak tanpa dosa.
Dengan lembut diciumnya kening Iben.
Iben menggeliat, tetapi tidak bangun dari tidurnya.
Lita sendiri yang kemudian bangun.
Bangkit dari tempat tidur, Lita masih telanjang bulat.
Disambarnya daster batik yang tergeletak di kaki tempat tidur, begitu pula dengan celana dalamnya.
Dia lalu bergegas masuk ke kamar mandi.
Di kamar mandi, Lita masih sempat berdiri lama di depan cermin.
Dipandanginya tubuh telanjangnya yang terpantul di dalam cermin.
Dia tersenyum melihat tubuhnya sendiri.
BACA JUGA:Angka Perceraian Tinggi, BP4 Jateng Adakan Edukasi Pernikahan
Tubuh dengan kulit kuning bersih, bentuknya indah dengan lekak lekuk yang mampu membuat mata lelaki tak mungkin tahan untuk tidak meliriknya.
Dilihatnya wajahnya, dadanya yang montok penuh, perutnya yang kencang datar, pinggulnya yang berukuran sedang dengan lekukan yang halus.
Dan terakhir tatap matanya berhenti pada pangkal pahanya.
Cukup lama dia menatapnya.
Akhirnya, Lita menutup mata dengan satu tarikan nafas panjang.
Tentu hanya dia yang tahu, apa artinya itu.
Mandi dengan air hangat di bawah shower di pagi hari tentu menyegarkan badan yang lunglai.
Lita mengguyur tubuhnya berlama-lama, menikmati sensasi tekanan terpaan air hangat di sekujur kulit tubuhnya.
Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka.
Lita tidak mengunci pintu tadi.
Masuklah Iben dengan terburu-buru.
Juga dalam keadaan telanjang bulat.
“Aku kebelet pipis. Sudah tak tahan, nih.”
katanya sambil setengah meringis.
BACA JUGA:Angka Perceraian di Jateng Peringkat Pertama, BP4 Diminta Mengendalikan
Sebentar kemudian terdengar suara air mengucur deras masuk ke dalam kloset.
“Sekalian saja mandi bareng, Sini.”
ajak Lita sambil memberi tanda masuk ke dalam kotak fiber shower.
Selesai kencing, Iben melangkah pelan masuk ke dalam kotak fiber shower.
Di dalam kotak fiber, keduanya mandi bersama.
Bercinta bersama.
Dua kuda itu benar-benar masih binal.
Masih punya simpanan tenaga.
Saling belit, saling dorong.
Hingga akhirnya jatuh terduduk di bawah guyuran shower yang terus deras mengucur, membuat kabut putih uap air di dalam kotak fiber semakin buram.
Banjarbaru.
Bumi Kalimantan.
Di sinilah buah terlarang itu dipetik.
Di sinilah buah terlarang itu mulai dikupas.
Lita dan Iben sudah mulai mencicipi.
Entah takdir entah nasib entah kutukan, barang siapa sekali mencicipi buah terlarang, seterusnya dia akan kecanduan akan rasa nikmatnya.
Siapa pun yang sudah mencicipinya, selamanya buah terlarang menjadi candu memabukkan.
BACA JUGA:Ketika Miskin Teman Menghindar, Itu Bagus Kata Gus Baha
Selamanya akan terus menuntut pemenuhan pelampiasan ketagihannya.
Dan Lita bersama Iben sudah mencicipi buah terlarang itu!
KOMENTAR : weesenha@gmail.com***
