17 April 2026 19:12
Cover Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang - Horisontal

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.COM menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINI JATENG –

Bagian 19
YANG KOKOH, YANG ROBOH

Pukul tiga dini hari.

Hujan lebat dengan kilat menyambar dan petir menggelegar silih berganti.

Tak ada mahluk yang sudi keluar rumah dalam suasana seperti itu.

Binatang bersembunyi di sarang.

Manusia meringkuk di tempat tidur.

Berselimut mengusir hawa dingin yang terasa menusuk tulang.

Lita masih melangkah tertatih menyusuri lorong jalan yang sepi.

Jalanan banjir.

BACA JUGA:Ada Apa dengan Shalat Kita?

Kaki Lita hanya beralas sandal jepit karet tipis.

Tubuhnya basah kuyup.

Ikatan rambutnya terlepas.

Rambutnya yang basah terurai, sebagian dibiarkannya menutupi wajahnya.

Suara tangis bayinya sudah hampir tak terdengar lagi.

Bayinya hanya ditutupi ujung selendang, yang karena basah justru lekat menempel pada tubuh bayinya.

Lita tidak tahu, ke mana arah langkahnya.

Yang penting dia pergi menjauh dari kompleks perumahan elit, tempat rumah Theo berada.

Dia berjalan menuju jalan raya.

BACA JUGA: Laporan Tak Valid dan Lemah, LBH Ansor Bakal Gugat Balik Roy Suryo ke Polisi

Jarak jalan raya dari kompleks perumahan sekitar satu kilometer.

Lita berjalan tanpa berpikir.

Dia tidak berpikir tentang keselamatan dirinya.

Dia tidak berpikir tentang keselamatan bayinya.

Seminggu sehabis melahirkan, tubuh Lita boleh dikata masih lemah.

Dia masih perlu istirahat untuk pemulihan.

Begitu pula dengan bayinya.

Belum boleh dibawa keluar rumah berlama-lama.

Bayi umur seminggu masih terlalu lemah untuk diajak berhujan-hujan di malam dingin menusuk tulang.

Setelah mencapai jalan raya, Lita merasa kakinya makin terasa berat untuk melangkah.

Tubuhnya yang hanya berbungkus daster batik tipis, yang sudah basah kuyup lekat menempel pada tubuhnya, tak mampu menahan dinginnya guyuran hujan.

Wajahnya pucat.

BACA JUGA:Fatah Syukur Lantik Badko LPQ Kabupaten Banjarnegara, Pengurus Badko ujung Tombak di Lapangan

Bibirnya biru kunguan.

tubuhnya menggigil kedinginan.

Didekapnya bayinya ke dadanya, dengan harapan berbagi kehangatan dengan tubuhnya.

Apa daya, tubuhnya sendiri seperti terasa beku karena kedinginan.

Bayinya sudah tidak bersuara.

Semua diam.

Diam dalam kebekuan malam.

Malam yang diguyur hujan panjang.

Di tikungan jalan menuju pusat kota, tenaga Lita habis terkuras.

Kakinya goyah.

Lututnya tertekuk.

Matanya berkunang-kunang.

Sedetik kemudian, Lita ambruk di pinggir jalan.

***

Pagi hari, di Kantor Polsek Gajahmungkur, banyak wartawan merubung Kapolsek.

Mereka meminta informasi tentang ditemukannya seorang wanita muda yang menggendong bayi, ditemukan pingsan di pinggir jalan Diponegoro, di depan rumah dinas Kapolda Jawa Tengah.

Untung wanita dengan bayinya itu waktu jatuh pingsan terlihat oleh petugas jaga gardu di depan rumah dinas Kapolda Jawa Tengah.

“Jadi begini ceritanya. Sekitar pukul empat pagi, dalam keadaan hujan lebat, dan jalanan sepi, petugas jaga rumah dinas Kapolda melihat ada wanita berjalan kaki.”

“Sekitar dua ratus meter dari gardu jaga, petugas melihat wanita itu tiba-tiba jatuh. Petugas lari mendekati. Ternyata seorang wanita muda menggendong bayi.”

BACA JUGA:Rekaman Menag Dipelintir, Ajak Umat Budayakan Tabayun

“Dia jatuh pingsan di pinggir jalan. Oleh petugas segera diberikan pertolongan. Bersama teman piket jaga, petugas langsung melarikan wanita dan bayinya ke rumah sakit.”

“Mereka sekarang sudah ditangani oleh dokter di rumah sakit. Bagaimana kondisinya sekarang, kami belum koordinasi lagi dengan pihak rumah sakit.”

Kapolsek diam sebentar.

Dia berbicara dengan staf yang ada di sebelahnya.

“Siapa wanita muda yang menggendong bayi itu, Pak?” tanya para wartawan.

“Wanita itu tidak membawa identitas apa-apa. Kami sedang mengumpulkan informasi. Tapi, ada yang mengenali, katanya istri seorang pejabat tinggi negara. Kami belum bisa pastikan informasi itu. Perlu cek dan ricek dulu untuk tidak menyesatkan publik. Silakan kalian liput langsung ke rumah sakit, bila ingin mengetahui perkembangan kondisinya terkini.” Kapolsek menutup wawancara.

Para wartawan bubar.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *