By using this site, you agree to the Privacy Policy and Terms of Use.
Accept
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Reading: Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 39
Share
Notification Show More
Font ResizerAa
Font ResizerAa
Opini Jawa TengahOpini Jawa Tengah
  • Us Today
  • Us Today
  • Us Today
  • World
  • World
  • World
  • Economy
  • Economy
  • Economy
  • Business
  • Business
  • Business
  • Industry
  • Industry
  • Industry
  • Politics
  • Politics
  • Politics
Search
  • Banjarnegara
  • Ekonomi
  • Gagasan
  • Jateng
  • Khazanah
  • News
  • Olahraga
  • Pendidikan
  • Ruang Ekspresi
Have an existing account? Sign In
Follow US
  • Advertise
  • Advertise
  • Advertise
© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Ruang Ekspresi

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 39

Arifin
Last updated: 3 Desember 2021 16:50 16:50
By Arifin
5 Min Read
Share
SHARE

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.com menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINIJATENG.COM –

Kehangatan sinar mentari yang menyusup melalui celah-celah jendela, membangunkan Iben dari tidurnya.

Iben mendapati seorang wanita sedang berdiri meletakkan segelas susu di sampingnya.

“Selamat pagi, kamu sudah bangun?”

Iben diam sesaat.

Matanya berkedip-kedip mencoba menyesuaikan dengan cahaya lampu kamar.

Dia sangat kaget melihat Lita ada di kamarnya pada saat dia tertidur.

“Apa yang kamu lakukan di sini?! Keluar!”

Spontan Iben bangun dari tempat tidur dan menyeret Lita keluar dari kamarnya.

“Hey… hey… Aku ini ibumu, tidak bisakah kamu sopan sedikit padaku?”

“Jangan harap kamu bisa menjadi ibuku. Aku tidak butuh ibu sepertimu! Jangan pernah masuk ke kamarku lagi!”

Iben melemparkan gelas penuh susu yang tadi diletakkan Lita di atas meja.

Pyaaaarrr….!

Suara pecahan gelas dan pintu yang dibanting mengagetkan Mbok Siti.

Dia yang sedang memasak di dapur segera berlari mencari tahu apa yang terjadi.

Dia melihat Lita dengan kemarahan di wajahnya. Pecahan gelas dan susu berserakan di lantai.

“Biar saya yang bersihkan, Bu.” tergopoh-gopoh Mbok Siti mendekati Lita yang hanya berdiri mematung diam sambil menggigit bibir dan tangan mengepal keras.

“Memang kamu yang harus bersihkan!”

Lita bicara pelan tapi penuh tekanan. Dia menendang pecahan gelas dengan sandalnya.

“Satu lagi Mbok, jangan panggil aku ibu. Panggil aku Nyonya.”

“Iyyaa…iya, Nyonya…”

Di dalam hati Mbok Siti sangat kesal karena sikap dan kelakuan Lita yang arogan dan sombong.

Dia bisa memahami perasaan Iben.

Mbok Siti membersihkan pecahan gelas dan ceceran susu di lantai, kemudian pergi kembali ke belakang.

Dia tidak ingin mengganggu Iben yang menurutnya butuh waktu untuk menyendiri dan menenangkan diri.

BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 36
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 35
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 34
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 33

Lita menemui Theo dan melaporkan semua kelakuan Iben padanya.

“Padahal aku hanya ingin pamitan. Apa itu salah?”

Lita berpura-pura sedih.

“Anak itu memang kurang ajar!”

“Sepertinya istrimu yang sudah meninggal itu tidak becus menjadi ibu dan isteri.”

Theo tidak menghiraukan perkataan Lita dan pergi ke kamar Iben.

“Buka pintunya!”

Iben sudah bisa menebak apa yang terjadi.

Lita melaporkannya pada ayah dan ayah marah.

Iben tidak menggubris ayahnya dan memejamkan matanya, berusaha untuk tidur lagi.

“Berhenti bertingkah seperti anak kecil atau Ayah akan menghukummu!”

Selesai bicara Theo langsung balik badan kembali turun ke lantai bawah.

Mendengar makian ayahnya Iben sama sekali tidak takut.

Hal itu justru membuatnya tersenyum kecil.

“Anak kecil? Menghukum? Hahaha… Ayah! Hukuman seperti apa yang ayah inginkan? Semua ini sudah terasa lebih dari siksaan darimu,” ucap Iben di dalam hati.

Sementara itu, di Bandara Ibas termenung melihat jadwal penerbangan.

Satu jam lagi pesawatnya akan membawanya terbang ke Australia.

Entah kapan dia akan kembali ke Indonesia.

Masih adakah alasan untuknya kembali?

Semua pertanyaan-pertanyaan itu berkecamuk di pikiran Ibas.

“Hati-hati ya sayang, telepon ke rumah kalau sudah sampai di sana nanti.”

“Iya, Bu.”

Mendengar percakapan itu, Ibas tersadar dari lamunannya.

Dia melihat seorang anak laki-laki bersama ibu dan ayah yang mengantarnya ke bandara.

Bersama mereka ada seorang anak kecil yang merengek terus minta oleh-oleh.

Sepertinya anak kecil itu adalah adiknya.

Ibunya terlihat sangat khawatir berpisah dengan anaknya.

Sang ayah tampak lebih banyak diam meski kekhawatiran tampak pula di wajahnya.

Ibas tersentuh.

Dia merasa iri.

Saat pertama dia pergi ke Australia, tidak ada yang mengantarnya karena dia pergi diam-diam, dan begitu seterusnya.

Ibas sebenarnya sering pulang pergi dari Indonesia-Australia tapi hanya untuk mengurus pekerjaannya di Indonesia dan sama sekali tidak pulang ke rumahnya.

Saat ini Ibas pulang ke rumah karena ibunya meninggal, dan nanti Ibas tidak tahu apa dia masih punya alasan untuk pulang ke rumah atau tidak.

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

You Might Also Like

Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 75
Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 131
Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 111
Detik Ruhi dan Ruha
Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 17
TAGGED:Di Balik Bayang-bayang Kasih SayangnovelWardjito Soeharso
Share This Article
Facebook Email Print
Previous Article Kunci Jawaban Tema 6 Kelas 4 Halaman 73, 75, 76, 77, 78 Pembelajaran 2 Sub Tema 2 Hebatnya Cita-Citaku
Next Article Ridwan Kamil Siap Maju Dikancah Politik 2024, Pantang Tolak Momentum yang Datang
Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Stay Connected

FacebookLike
XFollow
YoutubeSubscribe
TelegramFollow
- Advertisement -
Ad image

Latest News

Ilustrasi pemuda dan tokoh acara memegang bola sepak di atas panggung dengan pertunjukan seni tradisional dan lampu warna-warni.
Bukan Sekadar Panggung Hiburan, Anak Muda Butuh Ruang untuk Mengubah Ide Menjadi Peluang
Jateng Ruang Ekspresi
Ilustrasi penari jaran kepang mengenakan kostum tradisional merah dan emas sambil menari dengan properti kuda kepang di panggung festival.
Festival Budaya Jangan Cuma Ramai Pengunjung, Seniman dan UMKM Juga Harus Diuntungkan
Jateng Ruang Ekspresi
Ilustrasi penari tradisional mengenakan hiasan kepala berwarna emas dan membawa selendang kuning dalam pertunjukan budaya.
Budaya Lokal Bukan Sekadar Tradisi, Ini Peluang Besar bagi Ekonomi Kreatif dan Generasi Muda
Culture Jateng
Ilustrasi parade Cap Go Meh dengan peserta berbaju merah mengarak hiasan ritual di bawah deretan lampion merah.
Cap Go Meh Bukan Sekadar Festival Lampion, Ada Jejak Akulturasi Budaya yang Hidup di Indonesia
Culture Jateng
//

We influence 20 million users and is the number one business and technology news network on the planet

Informasi

  • Tentang Kami
  • Kontak Kami
  • Redaksi Opini

Sign Up for Our Newsletter

Subscribe to our newsletter to get our newest articles instantly!

[mc4wp_form id=”55″]

© 2022 Foxiz News Network. Ruby Design Company. All Rights Reserved.
Join Us!
Subscribe to our newsletter and never miss our latest news, podcasts etc..
[mc4wp_form]
Zero spam, Unsubscribe at any time.
Welcome Back!

Sign in to your account

Username or Email Address
Password

Lost your password?