8 Desember 2025 02:02
Cover Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang - Horisontal

SEJAK Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.com menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINIJATENG.com –

Iben benar-benar merasa jadi anak lelaki tidak berguna malam ini.

Dia tidak memedulikan dirinya dan sekelilingnya.

Dia merasa jengkel karena tetap sulit menghubungi Ikang di Boston.

Dia hanya bisa duduk tertunduk di lorong rumah sakit yang sepi, dingin dan gelap.

Sama seperti hatinya.

BACA JUGA : : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 1
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 2
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 3
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 4
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 5
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 6
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 7
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 8
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 9
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 10

Iben berusaha untuk tidak memercayai apa yang sedang terjadi dan berharap segera bangun jika itu semua hanya mimpi.

“Berhenti menangis, kamu itu anak laki-laki,” ucap Theo yang sudah berdiri di depan Iben.

Iben tidak memedulikan ayahnya dan tetap memejamkan matanya.

“Ikhlaskan ibumu, agar dia tenang di sisi-Nya.”

“Apa ayah tidak merasa kehilangan ibu?” tanya Iben kemudian, masih dengan mata terpejam.

“Apa saat kehilangan aku harus menangis?” jawan Theo dingin.

“Aku memang laki-laki dan aku juga seorang anak,” jawab Iben yang kemudian membuka mata, menatap ayahnya.

“Seorang anak yang sangat menyayangi ibunya,” tambah Iben.

“Hm…, tunggu di sini. Ayah pergi sebentar karena banyak hal yang harus ayah urus untuk pemakaman ibumu,” Theo seperti tidak mendengar omongan Iben dan berjalan meninggalkan Iben sendirian di lorong rumah sakit.

“Ayah! Beri aku alasan untuk tidak menangis saat aku kehilangan sesuatu yang membuatku hidup. Masihkan aku bisa hidup, ayah? Beri aku jawaban. Sikapmu itu, sekuat itukah, ayah? Atau memang ayah tidak kehilangan? Jawab aku, ayah!” Teriak Iben, tapi Theo tetap meneruskan langkahnya.

***

“Halo, ayah? Apa ada suatu hal mendesak yang membuat ayah meneleponku siang-siang begini?” jawab Ikang terdengar malas-malasan, sambil masih tiduran di tempat tidur.

“Jam berapa di situ?! Kenapa tidur?!” bentak Theo.

Perbedaan waktu Indonesia Bagian Barat dengan Amerika Serikat Bagian Timur Laut, yang sering disebut dengan wilayah East Coast, seperti Boston dan New York adalah persis dua belas jam.

Jam dua belas malam di Jakarta berarti jam dua belas siang hari sebelumnya di Boston.

“Ah, hehehe… aku tidak tidur, ayah, aku baru saja mengerjakan tugas-tugas kuliah. Aku lelah, aku tidak lihat jam, ayah. Maaf,” jawab Ikang dengan keahlian berbohongnya.

“Bangun! Segera beli tiket yang paling cepat. Pulang ke Semarang, sekarang!” Perintah Theo, lugas!

“Ta.. Tapi aku ada kuliah nanti jam empat sore,” jawab Ikang gugup.

“Bodoh! Ibumu meninggal. Cepat pulang atau tidak ada uang bulanan lagi,” bentak Theo lagi, dan kemudian menutup teleponnya.

“Apa.. apaan ini? Apa yang terjadi? Apa aku mimpi?” ucap Ikang yang kemudian menepuk nepuk pipinya.

Ikang lalu melihat handphonenya dan mendapati sepuluh panggilan tak terjawab dari Iben, satu panggilan tak terjawab dari Ibas, dan satu pesan suara dari Iben dan satu pesan dari Ibas.

Ikang kemudian membuka pesan Ibas dan mendengarkan pesan suara dari Iben.

“Ternyata bukan mimpi.” Bisiknya.

Dia lalu melompat menyambar handuk dan masuk kamar mandi. (bersambung)

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *