Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 19
Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.com menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

OPINIJATENG.COM –
Bagian 3
NAMAKU IBEN
Namaku Iben.
Nama lengkapku Adi Buntoro.
Mengapa dipanggil Iben?
Aku tak tahu.
Ibuku yang memberi nama panggilan itu.
Aku punya seorang ayah yang angkuh, keras kepala, dan selalu ingin berkuasa di kehidupannya atau kehidupan orang lain.
Ayahku, Theo, sekarang banyak orang lebih mengenalnya sebagai salah seorang Wakil Ketua DPR RI daripada pengusaha kayu.
Aku punya dua kakak laki-laki.
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 1
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 2
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 3
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 4
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 5
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 6
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 7
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 8
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 9
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 10
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 11
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 12
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 13
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 14
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 15
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 16
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 17
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 18
Kak Ikang, nama lengkapnya Adi Pangarso, dan Kak Ibas, nama lengkapnya Adi Baskoro.
Semua nama panggilan itu, ibu yang memberi.
Kakak sulung, Kak Ikang, katanya dulu waktu kecil diberi panggilan Ipang.
Tapi ketika mulai belajar bicara, menyebut dirinya sendiri Ikang.
Rupanya lidahnya tidak bisa melafalkan huruf p dengan jelas.
Malah berubah jadi k.
Akhirnya panggilannya berubah menjadi Ikang.
Mungkin, aku pun sama dengan Kak Ikang.
Dari nama Bun berubah menjadi Ben.
Putra kesayangan ayah adalah Kak Ikang, karena dia menurut dengan segala kemauan ayah.
Sementara Kak Ibas dan aku dianggap pemberontak karena tidak mau mengikuti kemauan ayah.
Nama ibuku Ipo, wanita paling hebat di dunia.
Aku masih tidak mengerti kenapa ibu bisa begitu mencintai ayahku yang secara tidak langsung telah membuangnya, bahkan di nafas terakhirnya, di detik-detik terakhir kehidupannya, dia masih mencintai ayahku.
Kata Kak Ibas aku adalah anak kesayangan ibu, tapi kataku Kak Ibas adalah anak kesayangan ibu.
Banyak orang berusaha melupakan masa lalunya yang pahit, tapi tidak bagiku.
Aku punya masa lalu yang sempurna dan membuatku ingin hidup dalam masa lalu.
Semua kembali lagi pada roda kehidupan yang berputar, masa laluku adalah saat aku berada di atas.
Meski aku sedang berada di bawah setelah kepergian ibuku, aku tidak akan membiarkan seterusnya berada di bawah.
Aku akan berusaha mencuat kembali ke atas membuat ibuku tersenyum di surga.
Mampukah aku mewujudkan kebahagiaan ibuku?
Ayah berpikir bahwa dirinya telah memiliki segalanya karena dia mempunyai kekuasaan dan banyak uang.
Dia tidak menyadari, semakin dia tergila-gila pada uang semakin dia kehilangan cinta sejatinya.
Kami tinggal di perumahan elite, rumah besar, megah dan mewah, kendaraan mewah.
Itu semua yang selalu ayah katakan, “Kurang apa lagi?”
Ayah bahagia karena kekuasaan dan uang.
Dia lebih memilih memberi banyak uang pada istri dan anak-anaknya ketimbang waktu dan kasih sayang.
Ibu selalu bercerita kepadaku bahwa ayah membuatnya jatuh cinta karena dia penyayang dan pekerja keras.
Ayah selalu ingin yang terbaik untuk ibu, dan mereka mengawali semuanya dari nol untuk menjadi seperti sekarang.
Ayahku anak tunggal dan telah menjadi tulang punggung keluarganya sejak kecil.
Karena itulah dulu aku menganggap ayah sebagai orang yang hebat.
“Dulu ayah harus menebang pohon dan memanggul kayu, sekarang ayah punya perusahaan pengolahan kayu untuk anak-anak ayah,” begitu yang sering diceritakan ibu pada aku dan kakakku.
“Ikang harus belajar berbisnis agar bisa meneruskan usaha ayah,” begitulah doktrin ayah pada kakak tertuaku.
Dia telah dijadwalkan menjadi pemilik perusahaan sejak usia tiga belas tahun.
Saat Ikang masih sekolah di bangku SMP.
Sejak saat itu pula Ibas iri pada Ikang, umurnya masih sebelas tahunan saat dia memutuskan untuk belajar main gitar untuk menjauhi dunia ayah dan Kak Ikang.
Ibas belajar dengan keras karena tidak ada darah seni mengalir di tubuhnya.
Berkat kemauan dan kerja kerasnya, Ibas menjadi kebanggaan kelas les musiknya karena sudah berhasil meraih banyak prestasi dalam berbagai panggung pertunjukan musik. (bersambung)
KOMENTAR : weesenha@gmail.com***
