15 Januari 2026 06:12
Cover Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang - Horisontal

Sejak Minggu 24 Oktober 2021, OPINIJATENG.com menyajikan novel “Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang” karya Wardjito Soeharso, novelis asal Kota Semarang, secara bersambung (serial). Semoga bermanfaat. (red)

Wardjito Soeharso

OPINIJATENG.COM

Iben tercenung setelah membaca kedua surat itu.

Dia ikut merasakan betapa perihnya hati ibunya selama ini.

Tidak diperhatikan suami, kedua putranya pun ikut-ikutan menjauh darinya.

Iben lalu merekatkan kedua amplop surat itu dengan lem kertas, dan memasukkannya ke dalam saku celana.

Setelah itu, dia duduk termangu di tepi ranjang ibunya.

ibu, aku kesepian dan semakin kesepian setelah ibu pergi.

Semasa hidup ibu selalu membelaku di hadapan ayah dan kakakku.

Selalu tersenyum di depanku dan menangis di belakangku.

Setiap hari aku merasakan bahwa ibu juga kesepian.

Makan seperti tidak makan, minum seperti tidak minum.

Apapun yang ibu lakukan, kosong.

Dan ada cahaya di mata ibu setiap mendengar nama ayah atau kakakku.

Aku menyaksikan itu setiap hari.

Aku cemburu dengan mereka yang selalu tak mengacuhkan ibu tetapi selalu ibu sayangi.

Tapi aku tidak bisa marah pada ibu, kenapa malam itu ibu pergi?

Bahkan tidak membiarkan aku meminta maaf atas perlakuan tidak sopanku.

Aku menyayangimu ibu.. aku juga sangat merindukanmu.

Sekarang aku merasakan apa yang ibu rasakan setiap harinya.

Makan seperti tidak makan, minum seperti tidak minum.

Meski ada cahaya di mataku setiap mengingat ibu, aku tidak bisa lagi melihat ibu.

BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 1
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 2
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 3
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 4
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 5
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 6
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 7
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 8
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 9
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 10
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 11
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 12
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 13
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 14
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 15
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 16
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 17
BACA JUGA : Di Balik Bayang-bayang Kasih Sayang – 18

***

Kamar Theo dan anak-anaknya adalah dunia yang berbeda, dan hanya meja makan tempat mereka bertemu.

Mereka hanya berbicara apabila ada hal yang penting dan mendesak saja.

Mereka masing-masing diam dan tidak saling pandang.

Itulah yang terjadi setiap makan malam.

Selain meja makan, ruang kerja Theo adalah tempat yang mungkin mempertemukan sang ayah dengan putra-putranya.

Theo sering memanggil anaknya bila terjadi masalah dan Ikang yang paling sering berada di ruangan itu.

Selain tempat itu mereka tidak saling berbicara dan menyapa bahkan meski berpapasan seolah tidak melihat.

Tidak peduli dan tidak mau tahu satu sama lain.

Theo merasa bosan dengan keadaan rumahnya yang sepi dan diselimuti atmosfer kemarahan dari anak-anaknya.

Dia juga lelah jika semalaman harus menghabiskan waktu di ruang kerjanya.

Dan dia sama sekali tidak ingin melewati malam di kamar sendirian saat dia sedang susah tidur, dia tidak ingin mengingat sedikit pun hal tentang istrinya.

Akhirnya Theo memutuskan menghabiskan malam di luar bersama wanita yang siap menemaninya kapan saja dia mau.

“Aku turut berduka ya, Om, aku selalu siap kapan saja Om minta aku untuk jadi penggantinya,” ucap wanita yang bersandar manja di pundak Theo.

“Kalau begitu hibur aku malam ini,” jawab Theo.

“Eh, tunggu dulu. Ada syaratnya.”

“Berapa yang kamu mau?” jawab Theo tersenyum.

“Bukan ‘berapa’ tapi ‘apa’.”

“Oke apa yang kamu mau?”

“Nikahi aku,” jawab wanita itu dengan wajah serius.

“Hibur aku dulu malam ini, baru aku pikirkan hal itu.”

Begitulah cara Theo menghabiskan malam di club bersama dengan wanita simpanannya.

Theo bisa dapatkan wanita yang selalu siap menemaninya di setiap kota yang disinggahi.

Karena itulah dia tidak pernah khawatir jika harus bertugas ke luar kota.

Wanita yang malam ini menemaninya adalah Lita, penyanyi dangdut yang masih muda, cantik dan seksi.

Bukan hal yang salah jika Theo harus menikahi pedangdut.

Uang yang dia miliki lebih dari cukup untuk membuat pedangdut mana pun tidak lagi bernyanyi dan bergoyang di atas panggung.

Dia juga tidak perlu meminta izin pada siapa pun untuk melakukan suatu hal.

Theo juga tidak memusingkan apa pendapat anaknya jika tahu dia menikahi wanita usia dua puluh empat tahun yang lebih pantas menjadi anaknya.

Dia tidak perlu meminta pendapat dan hanya cukup memperkenalkan Lita pada putra-putranya.

Ikang selalu mengunci kamarnya rapat-rapat.

Tidak ada yang tahu apa yang dia lakukan di tengah malam.

Hanya lampu kamarnya yang selalu menyala di malam hari dan dia seperti tidak pernah tidur.

Ikang membangun dunianya sendiri yang tidak ingin diketahui siapa pun.

Adik-adiknya berpikir dia selalu mabuk-mabukan dan tidak ingin ayah melihatnya.

Dan mereka tidak ambil pusing dengan apa yang dilakukan satu sama lain.

Sejak SMA Ibas telah menciptakan surga bagi dirinya sendiri di rumah yang luas itu.

Dia tidak menganggap ada surga di dalam surga melainkan ada surga di dalam neraka.

Kamarnya adalah satu-satunya tempat yang dia suka.

Dinding kamar terbuat dari lapisan kedap suara, speaker yang besar dan tentunya satu set lengkap perlengkapan band dan alat-alat musik lainnya, menjadi penghuni setia kamar Ibas.

Dia tidak mengizinkan siapapun menyentuh benda-benda yang dibeli dengan usahanya sendiri.

Itulah kenapa Iben dan ibunya selalu iri pada pembantu yang bisa membersihkan benda-benda milik Ibas.

Tapi semenjak Ikang dan Ibas pergi, tugas membersihkan kamar mereka telah diambil alih oleh ibu.

Tempat favorit Iben adalah perpustakaan tapi kini tempat itu menjadi prioritas kedua.

Sekarang Iben lebih sering menghabiskan waktu di kamar ibunya.

Tidur di kamar itu dan merawat barang-barang milik ibunya.

Ada banyak kenangan yang tidak pernah bisa Iben lupakan dengan ibunya.

Iben ingin selalu menjaga setiap kenangan itu.

Selama ini Iben tidak tahu ke mana arah yang harus dia tuju, tidak tahu untuk apa dia hidup.

Yang dia tahu hanyalah dia merasa bahagia jika ibu bahagia dan selalu ingin membuat ibunya bahagia.

“Kamu tetap saja anak berusia sembilan belas tahun,” begitulah cara Ibas menyapa adiknya yang mau pergi ke kampus.

“Lihatlah nanti, apa yang bisa dilakukan anak usia sembilan belas tahun.”

“Beri aku kejutan,” ujar Ibas.

Iben tidak menjawab dan pergi tanpa menoleh ke arah Ibas yang sedang tersenyum padanya.

Ibas adalah pemusik yang hebat.

Dia bisa memainkan berbagai macam alat musik dan dia juga bisa bernyanyi dengan merdu.

Sejak SMA dia telah dikenal banyak orang dan berbagai ajakan untuk bergabung dalam grup musik datang padanya.

Tapi Ibas selalu menolak karena dia ingin bersolo karir.

Sekarang Ibas punya banyak fans baik itu di Indonesia ataupun Australia.

Iben dikenal sebagai penyanyi solo yang mempunyai beberapa anak didik baik itu group band atau penyanyi solo yang cukup sukses di belantika musik Indonesia. (Bersambung)

KOMENTAR : weesenha@gmail.com***

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *